Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Angan-angan Jakarta Bebas AIDS pada 2030

14 Februari 2020   06:37 Diperbarui: 14 Februari 2020   09:58 70 4 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Angan-angan Jakarta Bebas AIDS pada 2030
Ilustrasi (Sumber: bustle.com)

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Widyastuti, mengapresiasi peluncuran Jakarta Memanggil. Menurut Widyastuti, "Jakarta Memanggil" bisa membuat Jakarta bebas HIV-AIDS pada 2030. Ini lead pada berita "2030, Jakarta Ditargetkan Bebas HIV-AIDS" (beritasatu.com, 11/2-2020). Meski pernyataan ini sama sekali tidak didukung dengan langkah-langka konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di DKI Jakarta.

Jakarta Memanggil bertujuan mengajak seluruh petugas kesehatan, terutama petugas puskesmas dan klinik untuk melakukan aksi-aksi percepatan penanggulangan HIV- AIDS, yang terencana dan terpadu dalam rangka mewujudkan Jakarta bebas AIDS pada 2030.

Dikatakan pula oleh Widyastuti bahwa Pemprov DKI Jakarta serius mengatasi permasalahan HIV-AIDS di Jakarta dengan menginisiasi beberapa komitmen seperti dalam bentuk regulasi dengan menerbitkan Perda Nomor 5/2008 tentang Penanggulangan AIDS.

Masalahnya adalah Perda AIDS Jakarta itu sendiri tidak memberikan langkah-langkah dan cara-cara yang konkret untuk mencegah insiden infeksi HIV di hulu.

Baca juga: Menakar Keampuhan Perda AIDS Jakarta dan Menyoal Pencegahan dan Penanggulangan AIDS di Jakarta

Jak Track merupakan program yang memudahkan akses ke layanan HIV. Ini merupakan langkah di hilir. Artinya, warga DKI Jakarta dibiarkan tertular HIV dulu (di hulu) baru dipanggil ke layanan HIV.

Disebutkan jumlah kumulatif HIV/AIDS di Jakarta berdasarkan estimasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ada 109.676, sedangkan yang 65.606, sehingga ada 40% yang belum terdeteksi.

Pernyataan dr Widyastuti tidak akurat karena dia mengesankan kasus HIV/AIDS tidak akan pernah lagi bertambah setelah estimasi Kemenkes itu. Ini jelas menyesatkan.

Kasus berdasarkan estimasi itu tidak berhenti hanya 109.676 karena insiden infeksi HIV baru terus terjadi, terutama pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) langsung dan PSK tidak langsung (seperti prostitusi online).

Dalam berita Associate Director for Technical FHI 360, Erlian Rista Aditya, mengatakan Jakarta Memanggil adalah sarana penyaluran semangat para petugas kesehatan untuk melakukan perubahan dan mencapai tujuan agar semua orang terdampak HIV-AIDS mendapatkan perawatan dan pengobatan.

Perawatan dan pengobatan jelas kepada warga yang sudah tertular HIV/AIDS. Ini sangat jelas merupakan langkah di hilir. Yang harus dideteksi bukan hanya yang 65.606, tapi ada kasus baru yang terjadi setelah estimasi itu. Kasus baru tersebut terus-menerus terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x