Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Mitos Hambat Penanggulangan AIDS di Indonesia

3 Juli 2019   14:15 Diperbarui: 3 Juli 2019   14:30 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mitos Hambat Penanggulangan AIDS di Indonesia
Ilustrasi (Sumber: samaa.tv)

"Ke mana panah akan Anda tarik, ke atas atau ke bawah?"

Dok Pribadi
Dok Pribadi
Itulah pertanyaan yang diajukan kepada 20 peserta pelatihan "Pemberitaan Media yang Positif bagi ODHA" yang didukung oleh Indonesia AIDS Coalition (IAC) di Kualanamu, Deli Serdang, Sumut (17-19 Juni 2019) dan di Medan (20-22 Juni 2019) separuh mengatakan ke atas dan selebihnya ragu-ragu.

Ketika mitos (anggapan yang salah) menggelayut di benak, maka fakta pun diabaikan. Sebelum dan sejak epidemi HIV/AIDS diakui pemerintah di Indonesia pada tahun 1987 banyak kalangan mulai dari menteri, pejabat tinggi, tokoh masyarakat dan tokoh agama selalu mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan zina, pelacuran, homoseksual, seks pranikah, seks di luar nikah, serta seks menyimpang.

Mitos kian subur karena kasus pertama yang diakui pemerintah terdeteksi pada turis Belanda, seorang laki-laki gay (homoseksual), di RS Sangkah, Denpasar, Bali. Inilah yang menyuburkan mitos: homoseksual, gay, bule, orang asing, dan luar negeri.

[Baca juga: Kapan, Sih, Awal Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia?]

Celakanya, upaya untuk memupus mitos terhalang karena masyarakat lebih mengikuti pernyataan pejabat, tokoh masyarakat dan tokoh agama ketimbang pakar kesehatan yang kompeten tentang HIV/AIDS. Masyarakat dicekoki informasi ngawur bin ngaco tentang HIV/AIDS seperti layaknya terori jarum hipodermik. Dalam konteks HIV/AIDS informasi dibalut dan dibumbui dengan moral dan agama dan disampaikan oleh pejabat dan tokoh sebagai orasi moral sehingga mudah menembus alam bawah sadar sebagian orang yang tingkat literasinya rendah dan tidak mempunyai akses ke media yang memegang teguh asas jurnalistik.

Akibatnya, banyak orang yang abai terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS karena mereka berpegang pada mitos: mereka tidak melacur, mereka tidak berzina dengan pekerja seks komersial (PSK), mereka tidak seks di lokalisasi pelacuran, dll.

[Baca juga: Tertular HIV karena Termakan Mitos "Cewek Bukan PSK"]

Kembali ke peserta pelatihan tadi. Sebagian dari mereka adalah wartawan yang berpegang pada fakta. Artinya, ketika mereka menulis berita dan artikel tentang HIV/AIDS mereka harus mencari narasumber yang berkompeten yaitu dokter ahli yang terkait dengan HIV/AIDS yaitu penyakit dalam atau hematologi. Soalnya, biar pun HIV/AIDS al. ditularkan melalui hubungan seksual infeksinya justru tidak di alat kelamin, tapi di darah. Maka, wartawan yang mewancarai dokter ahli kandungan, misalnya, tidak kompeten.

Begitu juga dengan peserta dari kelompok dampingan (CSO -- care support and outreach) yang sejak awal bergelut dengan Odha (Orang dengan HIV/AIDS) tentu tidak ragu-ragu menarik panah ke bawah. Tapi, mereka pun rupanya masih diselimuti mitos.

Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual penetrasi (seks vaginal, seks anal dan seks oral) bisa terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu ada dua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom ketika terjadi hubungan seksual. Ini fakta (medis).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2