Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Blogger - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

AIDS di Badung, Terbanyak Melalui Hubungan Seksual Hal yang Wajar

13 September 2018   12:38 Diperbarui: 13 September 2018   12:55 511
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (Sumber: ashokanews.com)

Ketiga, karena praktek PSK langsung sudah tidak dilokalisir maka transaksi seks pun terjadi tanpa bisa dilakukan intervensi seperti ketika ada lokalisasi pelacuran. Intervensi adalah memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali seks dengan PSK. Akibatnya, laki-laki yang seks dengan PSK langsung berisiko tinggi tertular HIV karena PSK adalah orang yang perilaku seksnya berisiko tertular HIV.

Keempat, karena selama ini ada mitos (anggapan yang salah) bahwa HIV/AIDS hanya menular melalui PSK langsung, maka laki-laki yang seks dengan PSK tidak langsung merasa tidak berisiko sehingga mereka tidak memakai kondom. Transaksi seks dengan PSK tidak langsung terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu melalui berbagai modus, bahkan memakai media sosial. Itu artinya insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang seks dengan PSK tidak langsung sangat tinggi probabilitasnya.

[Baca juga: Tertular HIV karena Termakan Mitos "Cewek Bukan PSK"]

Kelima, penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) ada yang berkelompok memakai narkoba dengan jarum suntik. Celakanya, jarum suntik dan tabung mereka pakai secara bergantian. Nah, kalau di antara mereka ada yang mengidap HIV/AIDS maka yang lain pun berisiko tertular HIV karena darah pengidap HIV/AIDS yang masuk ke jarum akan disuntikkan yang lain ke badannya tanpa mereka sadari. Probabilitas penularan HIV melalui jarum suntik (dalam hal ini darah) adalah 90 persen.

Selama tidak ada program yang konkret di hulu yaitu intervensi terhadap laki-laki agar memakai kondom setiap kali seks dengan PSK, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi. Laki-laki yang tertular HIV jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Sedangkan upaya penanggulangan pada penyalahguna narkoba dengan jarum suntik adalah subsitusi metadon. Mereka tidak lagi menyuntik narkoba, tapi diberikan narkoba (palsu) cair. Sayang, program ini ditentang banyak kalangan, tapi mereka tidak bisa memberika jalan keluar yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV pada penyalahguna narkoba dengan suntikan.

Disebutkan pula: Bahkan ia mengatakan pada bulan agustus ini, kelompok umur yang paling tinggi menyerang usia 20-49 tahun sebanyak 2.843 orang yaitu 90,5 % dari total kasus.

Adalah hal yang wajar karena pada usia itulah libido seks yang bergejolak. Mereka juga pekerja sehingga punya uang untuk membeli seks, baik ke PSK langsung maupun PSK tidak langsung.

[Baca juga: AIDS pada Usia Produktif di Yogyakarta bukan Ironis tapi Realistis]

Dikatakan oleh Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, yang juga Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Badung: "Saya juga berharap agar generasi muda sejak dini selalu memeriksakan kesehatannya untuk mengetahui kena apa tidak dari penyakit tersebut."

Pernyataan ini tidak pas karena tidak semua warga berisiko tertular HIV/AIDS. Hanya mereka yang perilaku seksnya berisiko dan penyalahguna narkoba dengan jarum suntik saja yang dianjurkan tes HIV.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun