Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Blogger - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

AIDS pada Usia Produktif di Yogyakarta bukan Ironis tapi Realistis

7 September 2018   21:37 Diperbarui: 7 September 2018   21:39 653
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (Sumber: india.com)

[Baca juga: Tertular HIV karena Termakan Mitos "Cewek Bukan PSK"]

Disebutkan oleh Setyarini: Pengidap HIV/AIDS disarankan rutin minum obat untuk menekan angka kematian. Juga rutin cek kesehatan. "Kalau sudah diobati akan turun virusnya." Ini tidak tepat karena tidak semua pengidap HIV/AIDS otomatis minum obat antiretroviral (ARV). Ada waktu tertentu mereka harus mulai minum obat ARV yaitu ketika CD4 sudah di bawah 350 (ini diketahui melalui tes darah).

Dengan minum obat ARV bukan 'turun virusnya', tapi replikasi HIV di darah ditekan sehingga kerusakan sel darah putih sedikit. Di dalam tubuh HIV menggandakan diri di sel-sel darah putih yang dijadikan sebagai 'pabrik'. Sel-sela darah putih yang dijadikan 'pabrik' rusak, sedangkan virus HIV yang baru mencari sel darah putih lagi untuk menggandakan diri. Begitu seterusnya.

Disebutkan pula: Pencegahan penularan HIV/AIDS bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya, penanaman nilai agama.

Lagi-lagi langkah yang dipilih Dinkes DI Yogyakarta ini tidak konkret. Tidak semua hubungan seksual yang berisiko dilakukan di luar nikah. Ganti-ganti pasangan pada kawin-kontra dan kawin-cerai juga merupakan perilaku berisiko tertular HIV. Seorang guru agama di Sumut tertular HIV dari istri kedua.

[Baca juga: Guru Agama Ini Kebingungan Anak Keduanya Lahir dengan AIDS]

Di bagian lain disebutkan oleh Setyarini: "Jika tahu ada gejala, segera periksa. Jangan malu."        

Tidak ada gejala-gejala, tanda-tanda atau ciri-ciri yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan seseorang yang tertular HIV. Gejala bisa terkait dengan HIV/AIDS kalau ybs. pernah atau sering melakukan perilaku berisiko, al. berhubungan seksual di dalam dan di luar nikah tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering ganti-ganti pasangan, seperti PSK.

Masalah yang muncul dari pernyataan Setyarini itu adalah: Bagaimana kalau tidak ada gejala, tapi sering seks berisiko? Bisa jadi mereka tidak merasa ada risiko tertular HIV/AIDS karena tidak ada gejala. Ini yang bukin kacau.

[Baca juga: AIDS Bukan Soal Gejala, tapi Terkait dengan Perilaku]

Yang perlu dilakukan Dinkes DI Yogyakarta adalah penanggulangan di hulu yaitu menurunkan, sekali lagi hanya bisa menurunkan, insiden infeksi HIV baru khususnya pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK. Selain itu merancang regulasi untuk mendeteksi warga pengidap HIV/AIDS yang belum terdeteksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun