Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

AIDS di Purbalingga, Tidak Ada Kaitan Letak Geografis dan Risiko Tertular HIV

7 Juli 2018   11:12 Diperbarui: 7 Juli 2018   11:53 576 0 0
AIDS di Purbalingga, Tidak Ada Kaitan Letak Geografis dan Risiko Tertular HIV
Ilustrasi (Sumber: healthsetu.com)

Camat Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng), Titis Panjer Rahino, mengaku prihatin dengan makin meningkatnya kasus HIV/AIDS di wilayahnya. ''Saya prihatin karena wilayah Kecamatan Karangmoncol yang notabene ndeso kok terkena imbas HIV-AIDS yang biasanya terjadi di kota-kota besar,'' ujarnya (KPAD Purbalingga akan Bentuk Tiga Kampung Peduli AIDS (republika.co.id, 2/7-2018).

Sampai Juni 2018 jumlah kasus kumulatif HIV/ADIS di Kabupaten Purbalingga, Jateng, mencapai 277 yang terdiri atas 224 HIV dan 58 AIDS dengan 32 kematian. Sedagnkan di Kecamatan Karangmoncol tercatat 15 kasus terdiri atas 9 HIV dan 6 AIDS dengan 5 kematian.

Pernyataan Camat ini menunjukkan pemahanan yang sangat rendah terkait dengan epidemi HIV/AIDS.

Pertama, penularan HIV tidak terjadi berdasarkan letak geografis, tapi karena perilaku seksual orang  per orang baik warga dusun, kampung, desa, kelurahan, perkotaan, kota besar atau metropolitan.

Kedua, kasus HIV/AIDS banyak terdata di kota-kota besar karena fasilitas untuk tes HIV ada di kota-kota besar. Bahkan, di awal epidemi tes HIV hanya ada di Jakarta yang kemudian menyusul di ibu kota provinsi. Maka, warga dusun, kampung, desa dan kelurahan pun menjalani tes HIV di kota besar. Sebagian 'nyangkut' di shelter yang menyediakan layanan untuk pengidap HIV/AIDS sehingga mereka tercatat di kota besar bukan di tempat asalnya yang bisa saja di dusun, desa, kampung atau kelurahan di daerah.

Ketiga, layanan dampingan dan dukungan bagi pengidap HIV/AIDS hanya ada di kota-kota besar, bahkan di awal epidemi hanya ada di Jakarta. Tempat layanan ini disebut shelter yang menyediakan tenaga medis dan pendamping, dikenal sebagai buddies. Pengidap HIV/AIDS yang berasal dari dusun, kampung, desa dan kelurahan dari banyak daerah pun memilih tinggal di shelter daripada pulang kampung.

Dikatakan oleh Sekretrais Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Purbalingga, Heni Ruslanto: ''Untuk mencegah semakin banyaknya temuan kasus HIV/AIDS inilah, pemahaman masyarakat mengenai kasus HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan,''

Yang jadi persoalan ada rentang waktu antara sosialisasi HIV/AIDS sampai dengan pemahman yang akurat sehingga pada rentang waktu tsb. bisa saja ada warga yang melakukan perilaku berisiko. Misalnya, melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK).

Terkait dengan hal di atas, pertanyaan untuk Heni:

(a). Apakah di wilayah Kabupaten Pubalingga ada lokasi pelacuran yang melibatkan PSK langsung? PSK langsung adalah PSK yang kasat mata, al. yang mangkal di tempat-tempat pelacuran.

Kalau ada, apa langkah yang dilakukan Pemkab Purbalingga untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK?

(b). Kalau tidak ada, apakah Pemkab Purbalingga bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa warga Kabupaten Purbalingga yang melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung di luar wilayah Purbalingga?

Tentu saja tidak bisa. Itu artinya laki-laki warga Purbalingga yang tertular HIV di luar Purbalingga akan jadi mata rantai penyebaran HIV di Purbalingga karena mereka tidak menyadari sudah tertular HIV. Ini terjadi karena tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yan khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan orang-orang yang sudah tertular HIV.

(c). Apakah di Purbalingga ada praktek pelacuran yang melibatkan PSK tidak langsung? PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yang bekerja di tempat-hiburan dan panti pijat plus-plus.

Tentu saja ada. Transaski seks yang melibatkan PSK tidak langsung terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu dengan modus bermacam-macam, bahkan memanfaatkan media sosial. Itu artinya ada risiko penularan, khususnya pada laki-laki yang jadi pelanggan PSK tidak langsung.

Disebutkan pula oleh Heni: ''Melalui keberadaan kampung ini (kampung peduli AIDS-pen.), kita mencoba menggalakkan kepedulian warga terhadap upaya penanggulangan AIDS. Antara lain, dengan membangun pemahaman warga mengenai apa itu penyakit HIV/AIDS, dan bagaimana penanganan dan pencegahan penularan penyakit ini."

Yang jadi pertanyaan: Apakah keberadaan kampung peduli AIDS ini bisa mengubah perilaku seksual laki-laki yang berisiko tertular HIV?

Soalnya, perilaku seksual yang berisiko HIV juga terjadi pada laki-laki dan perempuan dewasa yang sering ganti-ganti pasangan dalam nikah. Ini berisiko karena bisa ada di antara pasangan mereka itu yang mengidap HIV/AIDS.

Kalau di Purbalingga tidak ada lokasi pelacuran, maka tidak ada upaya yang bisa dilakukan untuk menekan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa karena transaksi seks terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu dengan PSK tidak langsung.

Itu artinya ada laki-laki dewasa warga Purbalingga yang berisiko tertular HIV yang selanjutnya jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Penyebaran ini terjadi diam-diam ibarat 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. *