Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Hukum Artikel Utama

Pasal Santet dalam RUU KUHP, Jeratlah (Orang) yang Bayar Dukun Santet

9 Juni 2018   22:14 Diperbarui: 10 Juni 2018   09:19 2689 3 1
Pasal Santet dalam RUU KUHP, Jeratlah (Orang) yang Bayar Dukun Santet
Ilustrasi (Sumber: bengali.oneindia.com)

Selama ini jika ada kabar atau informasi tentang (korban) santet yang jadi sasaran tembak adalah dukun santet. Padahal, dukun santet pasif karena tidak mencari-cari korban, tapi ada orang datang minta bantuan dukun santet untuk menyantet seseorang atau sekeluarga dengan berbagai alasan dan tujuan.

Maklum, untuk menyediakan alat-alat dan membeli minyak serta 'amalan' bisa menghabiskan jutaan rupiah. Nah, untuk apa seorang dukun santet mencari-cari orang untuk dia santet menghamburkan uang jutaan rupiah tanpa kepentingan.

Tumbal Pesugihan

Maka, pelaku santet itu bukan dukun santet, tapi orang membayar dukun santet untuk menyantet orang-orang yang berselisih paham, untuk membalas sakit hati, untuk merusak orang lain. Yang paling seru adalah, untuk melumpuhkan korban sebagai tumbal atau wadal sebagai syarat pesugihan (mencari kekayaan harta dengan menggunakan kekuatan gaib).

Pesugihan dikenal mulai dari tuyul, bagi ngepet, nyupang dan buto ijo. Kabarnya buto ijo ini bisa bawa uang satu karung tapi setiap tahun harus menyerahkan tumbal berupa nyawa manusia.

Yang dijadikan tumbal oleh pemilik pesugihan ternyata tidak bisa orang sembarangan dan harus melalui proses 'penggemukan' yaitu diberikan semua keperluannya sampai memakamkan kelak kalau mati.

Bermula dengan menjadikan sebagai 'anak emas' dengan segala kebutuhan. Pada suatu saat calon tumbal tadi sakit atau kecelakaan sehingga tidak bisa lagi cari nafkah. Mulai dari sini semua keperluan calon tumbal dan keluarganya bahkan sampai pemakamakan dan kegitan lain ditanggung oleh orang yang memiliki pesugihan.

Untuk menempatkan calon tumbal pada posisi tidak berdaya pemilik pesugihan 'mempekerjakan' dukun santet untuk menyakiti calon tumbal. Mulai dari penyakit-penyakit biasa tapi susah diobati secara medis sampai mengalami kecelakaan dan kelumpuhan. Dengan penyakit-penyakit itulah calon tumbal meninggal dunia.

Arsip pribadi
Arsip pribadi
Setelah dimakamkan pun masih ada ritual yang harus dijalankan pemilik pesugihan yaitu pergi ke makam tumbal tadi menjelang magrib. Setelah selesai pemilik pesugihan menyiapkan calon tumbal berikut tetap dengan kerja sama dengan dukun santet.

Dalam RUU KUHP tentang santet disebutkan pada Pasal 293, ayat 1: Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun.

Tentu saja tidak ada dukun santet yang mengaku bahwa dia mempunyai kekuatan gaib karena pengalaman penulis behadapan dengan dukun santet mereka justru dikenal dengan sebutan khas guru agama dan sebagai ahli pengobatan (pengalaman saya menghadapi santet terkait dengan pesugihan saya tulis di kompasina.com/infokespro dengan #serial santet).

Yang bisa dijerat (juga) adalah orang-orang yang memakai dukun santet untuk mencelakai orang lain bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Selanjutnya baru menjerat dukun santet.

Misalnya, di pertengahan tahun 1990-an ada datang seorang laki-laki pakai peci hitam ke rumah yang dikenalkan sebagai "ustad Soma". Ada keluarga yang mengatakan bahwa, "Dik, ini Ustad Soma mau bikin pagar rumah."

Kain Kafan

Saya tidak berpikir panjang karena dalam pikiran saya tentulah yang akan dia kerjakan sesuai dengan ajaran agama karena dia tokoh agama.

Tapi, beberapa hari kemudian pembantu di rumah mengatakan bahwa Pak Ustad dan keluarga menanam sesuatu di pojok ruang kerja saya dan di halaman belakang rumah. Ternyata benar ada gundukan semen yang masih basah di salah satu pojok ruangan di bagian utara.

Bongkahan itu menutupi kain putih, seperti kain kafan mayat karena sudah berbalut tanah, yang membungkus telur ayam, paku, jarum, gabah, dll. Waktu itu saya bungkusan itu saya buang ke tong sampah, sedangkan yang dihalaman belakang tidak bisa saya temukan. Belakangan 'tanaman-tanaman'lain yang ditanam "Ustad Soma" ditarik oleh orang pintar dari Banten.

Ternyata kain putih itu adalah kain kafan orang yang bunuh diri. Maka, tidak heran kalau kuburan orang-orang tertentu, seperti bayi, perawan, bunuh diri, dll. Sering dibongkar untuk mengambil kain kafan dan bagian-bagian badan tertentu untuk keperluan santet.

Sejak itu saya dan dua anak saya sakit-sakitan terus. Semua metode pengobatan medis, bahkan saya kedokteran nuklir, sudah saya jalani tapi penyakit tidak juga sembuh. Misalnya, nyeri di bawah mata kaki kiri. Nyeri di dengkul. Batang leher kaku seperti ada kayu atau besi yang menopang leher. Batuk. Bersin terus-menerus, dll. Dokter pun angkat tangan.

Berkat puasa sunat dan amalan lain ada semacam bisikan agar saya pergi 'ke kulon' (ini ternyata ke Banten). Alhamdulillah, setelah dibantu dua orang pintar di Banten dan satu di Tasikmalaya serta satu lagi di Banjar anak saya dan saya bisa lepas dari jerat santet sebagai tumbal. Tapi dengan pengorbanan yang sangat mahal.

Tetangga di sekitar kantor, di salah satu tempat di bilangan Pisangan Timur, Jakarta Timur, selalu ngomel-ngomel: "Oom, kalau jualan pulsa dan foto copy yang bener, dong. Mosok tutup terus."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2