Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Tomohon, Sulut, Tidak Riil

3 Juni 2018   17:01 Diperbarui: 3 Juni 2018   17:10 477 1 0
Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Tomohon, Sulut, Tidak Riil
Ilustrasi (Sumber: all4women.co.za)

" .... Sehingga, total pengidap virus mematikan ini sudah mencapai 145 penderita secara total. .... " Pernyataan ini ada dalam berita "12 Warga Tomohon Terjangkit HIV/AIDS" (manadopostonline.com, 24/5-2018).

Informasi HIV/AIDS yang akurat sudah merata, tapi tetap saja ada (wartawan) yang tidak memahami HIV/AIDS sebagai fakta medis. HIV adalah virus jenis retrovirus yaitu virus yang bisa menggandakan diri di sel-sel darah putih manusia. HIV menyebabkan (kondisi) AIDS yaitu sistem kekebalan tubuh yang lemah karena banyak sel darah putih yang rusak setelah dijadikan HIV sebagai 'pabrik'.

HIV bukan virus yang mematikan seperti yang disebut dalam berita tadi. Belum ada laporan kematian manusia karena HIV atau AIDS.

Kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi di masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV, karena penyakit-penyakit yang disebut infeksi oportunistik yang masuk pada masa AIDS seperti diare, TBC, dll.

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Tomohon, Sulut, tercatat 145. Dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Tomohon dr Deesje Liuw melalui Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr Amanda Londok: " .... Namun, jumlah ini kemungkinan sudah berkurang karena ada yang sudah meninggal atau pindah ke daerah lain."

Pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif yaitu kasus lama ditambah kasus baru sehingga jumlah kasus (angka) yang dilaporkan tidak akan pernah turun atau berkurang biar pun banyak pengidap HIV/AIDS yang meninggal.

Dikatakan pula oleh Londok, penyebaran virus ini sangat rentan bagi penderita penyakit TBC kronis dan pasangan sejenis.

Terkait dengan TBC ada dua kemungkinan yaitu: (a) Pengidap HIV/AIDS mudah tertular TBC karena sistem kekebalan tubuhnya yang rendah, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, dan (b) Pengidap TBC juga mudah tertular HIV, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Penularan HIV/AIDS bukan karena orientasi seksual, dalam berita disebut salah satu yaitu 'pasangan sejenis'. Penularan HIV melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi pada saat terjadi hubungan seksual (salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom) bukan karena sifat hubungan seksual (homseksual, zina, melacur, dll.).

Disebutkan pula bahwa pihaknya bukan berarti tanpa upaya meminimalisir terjadinya lonjakan penderita. "Lewat penyuluhan ke sekolah, lingkungan masyarakat, komunitas pemuda. Bahkan ada pemeriksaan mobile ke kecamatan yang disinyalir, ibu hamil juga wajib diperiksa,"

Salah satu pintu masuk yang potensial sebagai penyebar HIV/AIDS adalah laki-laki dewasa yang tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan: (1) Perempuan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah, dan (2) Perempuan yang sering berganti-ganti pasangan yaitu pekerja seks komersial (PSK). PSK sendiri dikenal ada dua tipe yakni:

-PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

--PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dll.

Yang jadi masalah besar adala: Apa yang dilakukan Pemkot Tomohon untuk menurukan insiden infeksi HIV baru pada PSK langsung dan PSK tidak langsung?

Sedangkan Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat Pemkot Tomohon, Octavianus Mandagi, mengatakan menekan kasus HIV/AIDS dengan cara: "pembatasan akses tempat hiburan jadi salah satu upaya mencegah penyebaran masuknya virus HIV/AIDS,"

Transaksi seks tidak hanya di tempat hiburan karena sekarang sudah memakai jaringan komunikasi, seperti ponsel dan media sosial. Biar pun tempat hiburan ditutup akses untuk transaksi seks tetap terbuka lebar. Malah, ketika transaksi seks tidak dilokalisir intervensi untuk melakukan program pencegahan tidak bisa dilakukan.

Jika Pemkot Tomohon tidak mempunyai program yang ril untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui PSK langsung dan PSK tidak langsung, itu artinya penyebaran HIV di masyarakat akan terus terjadi. Penyebaran ini ibarat 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. *