Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Berita AIDS di Jembrana Berkutat Soal Angka, Abaikan Epidemi di Masyarakat

29 Mei 2018   05:08 Diperbarui: 29 Mei 2018   08:16 496 2 1
Berita AIDS di Jembrana Berkutat Soal Angka, Abaikan Epidemi di Masyarakat
Ilustrasi (Sumber: tht.org.uk)

Diberitakan oleh bali.tribunnews.com (1/5-2018) Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Jembrana, Bali, mendeteksi 3 pekerja kafe remang-remang di wilayah Jembrana tertular HIV/AIDS.

Fakta itu tidak dibawa oleh KPA Jembrana dan wartawan ke ranah publik atau masyarakat. Terkesan dengan menemukan 3 pekerja kafe remang-remang itu sebagai pengidap HIV/AIDS persoalan sudah selesai.

Itulah salah satu masalah besar dalam pemberitaan HIV/AIDS. Banyak yang berhenti pada angka. Masyarakat akhirnya tidak menangkap informasi yang bisa membuat mereka mengubah perilaku agar tidak tertular HIV/AIDS.

Disebutkan oleh Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Jembrana, dr I Putu Suasta, pekerja-pekerja kafe remang-remang itu berasal dari luar daerah dan mereka nyambi jadi pekerja seks komersial (PSK) tidak langsung.

Kalau saja dr Putu dan wartawan menangkap realitas di balik fakta itu tentulah berita akan lebih menukik ke epidemi HIV. Tidak sebatas 'pembelaan' diri bahwa pekerja-pekerja kafe itu bukan orang Bali,  karena ada dua hal terkait dengan temuan HIV/AIDS dan sifilis (ini salah satu jenis penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual dikenal sebagai IMS/infeksi menular seksual). Gambar membantu pemahaman terkait dengan penyebaran HIV/AIDS, khususnya, di Jembarana.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kabupaten Jembrana tercatat 895. Sampai Maret 2017 dari jumlah itu 290 meminum obat antiretroviral (ARV) yaitu obat yang bisa menahan laju replikasi (penggandaan) HIV di darah sehingga mereka tetap hidup layak.

Pertama, ada kemungkinan yang menularkan HIV ke 3 pekerja kafe itu adalah laki-laki dewasa pengidap HIV/AIDS penduduk Jembrana. Soalnya, 3 pekerja kafe itu tidak menjalani tes HIV ketika tiba di Jembrana.

Kalau hal itu yang terjadi, maka ada 3 laki-laki dewasa di Jembrana yang jadi mata rantai penyebaran HIV, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan luar nikah. Jika 3 laki-laki tsb. punya istri, maka ada risiko istri tertular HIV. Jika istri tertular HIV ada pula risiko penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Kedua, 3 pekerja kafe itu minimal sudah tertular HIV tiba bula sebelumnya. Itu artinya selama tiga bulan, bahkan bisa beberapa bulan atau beberapa tahun sebelum ditemukan, mereka sudah berisiko menularkan HIV ke laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan mereka. Laki-laki tsb. ada kemingkinan penduduk Jembrana. Kalau 1 pekerja kafe melayani 3 laki-laki setiap malam, maka dalam tiga bulan sudah ada 540 (3 pekerka kafe x 3 laki-laki x 20 hari/bulan x 3 bulan) laki-laki warga Jembrana yang berisiko tertular HIV.

Jika 10 persen saja dari 540 laki-laki itu yang tertular HIV itu artinya ada 54 laki-laki yang menyebarkan HIV di Jembrana tanpa mereka sadari. Sedangkan laki-laki yang berisiko tertular sifilis lebih tinggi daripada risiko tertular HIV karena sifilis lebih mudah menular. Celakanya, banyak laki-laki yang tertular sifilis membeli obat di kaki lima sehingga penyakit tidak hilang. Yang hilang hanya simptom yaitu tidak sakit ketika kencing. Ini membuat istri mereka berisiko tertular sifilis. Bayi lahir dari ibu yang mengidap sifilis bisa mengalami berbagai macam cacat, misalnya, buta.

Terkait dengan temuan HIV/AIDS dan sifilis pada pekerja kafe yang dilakukan KPA Jembrana ada di hilir. Tidak ada intervensi terhadap laki-laki yang seks dengan pekerja kafe agar melakukan seks aman (pakai kondom).

Begitu juga dengan risiko penularan dari laki-laki warga Jembrana yang tertular HIV perlu intervensi agar suami-suami yang perilaku seksualnya berisiko tertular HIV supaya pakai kondom ketika seks dengan istrinya. Selain itu perlu pula program pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Seperti diketahui epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Jumlah kasus yang terdeteksi (895) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Maka, yang perlu dilakukan Pemkab Jembrana adalah membuat regulasi yang bisa mendeteksi warga Jembrana yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi.

Biar pun Pemkab Jembarana sudah menerbitkan peraturan daerah (Perda) penanggulangan HIV/AIDS yaitu Perda No 1 Tahun 2008 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS tanggal 10 Oktober 2008, tapi karena perda ini tidak aplikatif maka tidak bisa diandalkan (Baca juga: Menyibak Sepak Terjang Perda AIDS Kabupaten Jembrana, Bali).

Tanpa program yang konkret, maka warga yang mengidap HIV/AIDS tsb. akan terus menularkan HIV kepada orang lain lagi-lagi tanpa mereka sadari karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan kesehatan mereka sebelum masa AIDS (secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV).

Penyebaran HIV/AIDS yang terjadi secara diam-diam itu ibarat 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. Pilihan ada di tangan Pemkab Jembrana, mendeteksi warga pengidap HIV/AIDS atau membiarkan penyebaran HIV di masyarakat terus terjadi. *