Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sejarah Pilihan

Mengapa Nama-nama Bandara di Indonesia Tidak Mendunia?

24 Mei 2018   13:16 Diperbarui: 24 Mei 2018   14:47 542 2 0
Mengapa Nama-nama Bandara di Indonesia Tidak Mendunia?
Foto: Tribunnews.com

Berita hari ini (24/5) menyebutkan: Pesawat Kepresidenan yang membawa Presiden Jokowi mendarat perdana di Bandara Kertajati.

Hah, di mana pula itu?

Dalam berita-berita terkait dengan pendaratan perdana itu disebutkan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Bandara ini terletak di daerah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, atau sekitar 100 km ke arah timur Kota Bandung.

Dengan menyebut Jawa Barat juga tidak mendunia. Bandingkan dengan Minangkabau International Airport dengan panggilan MIA di Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar). Minangkabau adalah nama suku dalam kategori antropologi yang mudah dicari dalam berbagai sumber bacaan.

Nama-nama bandara yang mendunia erat kaitannya dengan (promosi) pariwisata. Nama bandara bisa juga mencerminkan daerah tujuan wisata. Bandara Silangit di Sumut yang dekat dengan objek wisata Danau Toba, mengapa tidak dinamai Toba International Airport (TIA)?

Begitu juga dengan Bandara Internasional I Ngurah Rai di Denpasar, Bali. Dunia sudah kenal dengan Bali sebagai salah satu tujuan utama wisata dunia, mengapa bandaranya tidak disebut dengan Bali International Airport (BIA)?

Begitu juga denga Bandara Internasional Kualanamu. Ini bandara di Sumatera Utara (Sumut). Jangankan di luar negeri, di dalam negeri bahkan di Sumut banyak yang tidak tahu di mana letak bandara itu. Ini terjadi karena nama itu hanya nama kecamatan di Kabupaten Deli Serdang atau sekiar 30 km ararh timur Kota Medan [Baca juga: Nama Bandara di Indonesia (yang) Tidak Mendunia].

Kalau saja nama Bandara Internasional Kualanamu (Kualanamu International Airport, kode IATA: KNO, ICAO: WIMM) disebut Medan Deli International Airport (MDIA) atau Deli International Airpot (DIA) atau Medan International Airport (MIA) tentu lebih mudah dikenali dunia (Baca juga: Kuala Namu, Nama Bandara Medan yang Tidak Mendunia).

Bandingkan dengan KLIA yang merupakan singkatan dari Kuala Lumpur International Airport (kode IATA: KUL). Bandara ini mudah dan cepat dikenal karena KL (Kuala Lumpur) ada di peta dunia dan gencar dipromosikan.

Pemakaian nama-nama pahlawan, baik daerah maupun nasional, juga tidak selamanya mendunia.

Nama-nama tokoh di Inggris banyak yang terkenal, tapi nama bandar udara di sana tidak pakai nama tokoh atau pahlawan. Nama-nama raja Inggris terkenal. Ada juga nama jenderal yang melegenda Paa Perang Dunia II yaitu Winston Churchill dengan gelar Sir Winston Leonard Spencer Churchill tapi tidak dipakai nama bandara. Nama bandara di London pun adalah London Heathrow International Airport (kode IATA: LHR dan kode ICAO: EGLL).

Perancis memakai nama Charles de Gaulle, militer dan negarawan, sebagai nama bandara di ParisĀ (kode IATA: CDG, kode ICAO: LFPG) dalam bahasa Perancis disebut Aroport Paris-Charles de Gaulle.

Begitu juga dengan Amerika Serikat hanya memakai nama presiden ke-35 AS yaitu John F. Kennedy. Bandara Internasional John F. Kennedy (kode IATA: JFK, kode ICAO: KJFK) adalah bandara internasional Kota New York, Negara Bagian New York, AS.

Kalau saja bandara baru Yogyakarta diberinama yang dikenal dunia, misalnya, Yogyakarta Borobudur Inrernational Airpot (YBIA) atau Yogyakarta International Airport (YIA) akan jauh lebih mudah dikenali dunia daripada nama yang diberikan yaitu New Yogyakarta International Airpot.

Nah, Jawa Barat didiami suku, Bahasa Sunda suku artinya kaki, Sunda. Mengapa tidak disebut Sunda Internasional Airport (SIA)? Bisa juga Parahyangan International Airport (PIA).

Banyak nama daerah (geografi) yang dikenal dunia, seperti Deli, Borneo dan Celebes. Tapi, nama-nama bandara di dua pulau besar itu sama sekali tidak mencerminkan nama geografi yang dikenal dunia. (id.wikipedia.org dan sumber-sumber lain). *