Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pengganti Narkotika, Myanmar Pilih Ulat Sutra, Bagaimana dengan Aceh?

21 Mei 2018   16:23 Diperbarui: 21 Mei 2018   16:27 0 0 1 Mohon Tunggu...
Pengganti Narkotika, Myanmar Pilih Ulat Sutra, Bagaimana dengan Aceh?
Ilustrasi: Saw Kyi Ti Mu, 37 tahun, seorang wanita etnis Palaung, mengumpulkan daun-daun murbei sebagai makanan untuk ulat sutra di desa Wanpaolong, Distrik Lashio, Shan State utara, Myanmar, 24 April 2018 (Sumber: VOA Indonesia/REUTERS/Ann Wang)

Salah satu jenis narkotika yang merajai dunia adalah opium yang berasal dari getah tanaman candu dengan hasil akhir heroin. Myanmar merupakan salah satu bagian dari 'Golden Triangle' candu dunia yang juga melibatkan wilayah Thailand yaitu Provinsi Chian Rai. Selain Myanmar sumber candu terbesar di dunia adalah Afghanistan.

Itu dulu. Sekarang petani candu di Myanmar, seperti dilaporkan "VOA Indonesia" (20/5-2018), banting stir mengganti tanaman candu dengan ulat sutra. Sebuah perusahaan Cina menggalang kerja sama dengan petani di kawasan perbukitan Myanmar timur. Petani berharap kerja sama akan mendukung usaha mereka sehingga larva sebagai penghasil sutera akan membantu kehidupan para petani sehingga negara mereka berhenti dari menghasilkan narkotika.

Salah seorang petani Myanmar, Zhou Xing Ci, kepada "Reuters" seperti dikutip "VOA Indonesia", mengatakan: "Tradisi itu telah saya hentikan" kata Zhou, 42 tahun. Berkat hasil ulat sutra Zhou membangun rumah yang baru terbuat dari kayu dan kokoh di kota Tangyan, di utara Negara Bagian Shan.

Puluhan tahun petani seperti Zhou terlibat dalam perdagangan gelap narkotika yang masuk dalam perangkap jaringan sindikat internasional. Mereka juga tidak aman. Candu yang mereka hasilkan dijual dalam bentuk heroin ke luar negeri. Di pasar gelap Thailand harga heroin 80-an dolar AS per gram. Sedangkan di pasar gelap internasional harga heroin bisa sapai 1.300-an dolar AS per gram. Ini menggiurkan. Sayang, berita "VOA Indonesia" tidak menyebutkan harga ulat sutra yang dihasilkan penduduk Myanmar sehingga mereka mau meninggalkan candu.

Namun, beberapa tahun belakangan ini petani di sana sudah menikmati hasil dari ulat sutra. Mereka juga tidak lagi takut karena ulat sutra bukan komoditas ilegar seperti candu. Itulah sebabnya Myanmar sekarang sudah jauh dari Afghanistan sebagai penghasil candu terbesar di dunia.

Myanmar berhasil mendorong penduduk di wilayah yang selama ini menaman candu. Sedangkan Afghanistan tidak bisa mencari tanaman pengganti yang setara dengan candu. Ketika negara itu 'dikuasai' Amerika Serikat pernah dicoba menaman gandum. Karena hasilnya tidak sepadan dengan candu penduduk di sana pun tetap menaman candu.

Langkah Myanmar itu sangat bagus. Cara itu bisa menurunkan produksi candu dunia sehingga peredaran gelap heroin pun bisa ditekan.

Harga ganja kering di pasar gelap mencapai Rp 1,8 juta/kg. Ini menggiurkan. Maka, perlu tanaman pengganti yang bisa mendekati hasil ganja.

Sementara itu Pemprov Aceh tidak kedengaran berusaha mencari tanaman pengganti agar penduduk tidak lagi menaman ganja secara sembunyi-sembunyi. Diperlukan juga sosialisasi yang berkelanjutan sambil memperkenalkan tanaman pengganti. Tentu saja perlu dukungan modal besar agar petani bisa dibantu sehingga mereka tidak kehilangan penghasilan yang besar.

 Operasi besar-besaran yang menghancurkan ladang ganja tetap tidak bisa menghentikan penanaman ganja baik dalam skala kecil maupun luas di tengah hutan belantara. *

KONTEN MENARIK LAINNYA
x