Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Kecukupan Nutrisi pada "1000 Hari Pertama Kehidupan" Cegah Stunting

5 Desember 2017   07:59 Diperbarui: 5 Desember 2017   10:54 1679 9 6
Kecukupan Nutrisi pada "1000 Hari Pertama Kehidupan" Cegah Stunting
Anak-anak usia PAUD mengikuti program. Dok.pribadi

Sekitar 8,9 juta anak Indonesia menderita pertumbuhan yang tidak maksimal sampai usia dua tahun, disebut stunting. Tiap tahun ada 4,3 juta kelahiran. Ada risiko anak lahir dengan stunting jika nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) tidak mencukupi. Ada juga risiko anak lahir dengan HIV/AIDS karena 4,9 juta perempuan Indonesia bersuamikan laki-laki pelanggan pekerja seks komersial (PSK).

Dampak buruk malanutrisi atau kurang gizi pada 1000 HPK mempengaruhi kualitas perjalanan kehidupan mulai dari di kandungan, masa bayi, anak-anak, remaja, dewasa sampai lansia. 1000 HPK bisa juga disebut sebagai awal dari perjalanan panjang jenjang kehidupan yang dimulai sejak pembuhan.   

Bonus demografi yang diharapkan menghasilkan generasi yang produktif justru bisa jadi malapetaka jika terjadi malanutrisi pada 1000 HPK karena anak lahir dengan stunting al. ditandai dengan tubuh yang pendek di bawah ukuran normal, sehingga mudah sakit-sakitan  dan kemampuan kongnitif yang sangat rendah. Ini bukan bonus tapi 'bencana demografi'.

Matematika dan Sains

Sindroma stunting baru bisa diketahui setelah anak berusia dua tahun sehingga sering luput dari perhatian.  Bahasa yang dipakai "Danone Manifesto" (We Can Make a Change, tt) yang menyebut 1000 HPK  sebagai 'priode emas penentu kesehatan di masa depan' jadi aktual. Soalnya, dampak malanutrisi jangka pendek membuat perkembangan otak, fisik dan organ metabolik tidak optimal. Jika malanutrisi dibiarkan jangka panjang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif dan penddikan, terjadi stunting, serta berbagai penyakit degeneratif (tidak menular).

Untuk itulah Dr dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA (K), Dokter Spesialis Anak - RSCM/FKUI,mengingatkan ada dampak yang ireversibel (permanen) jika terjadi malanutrisi pada 1000 HPK. Ini disampaikan Dr Damayanti pada pemberian materi bagi 20 blogger peserta "Danone Blogger Academy" bersama Kompasiana di Kantor Danone Indonesia, Gedung Cyber 2, Kuningan, Jakarta Selatan (3/11-2017). Sindroma stunting secara klinis pada anak, seperti dikutip Dr Damayanti dari Branca & Ferari, 2002, yaitu hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, penurunan fungsi kognitif, dan gangguan sistem pembakaran lemak yang bermuara pada dewasa sebagai obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi dan osteoporosis.

Ibu anak-anak yang sedang mengkuti program. Dok.pribadi
Ibu anak-anak yang sedang mengkuti program. Dok.pribadi
Kemampuan matematika dan sains siswa Indonesia ada di urutan ke-64 dari 65 negara yang disurvei pada taun 2013 (Harian KOMPAS, 5/12-2013). Ini salah satu indikasi terkait dengan asupan nutrisi pada 1000 HPK. Apakah siswa dari negara maju yang ada di peringkat atas? "Ternyata tidak," kata Dr Damayanti. Kemampuan matematika lima peringkat teratas siswa dari Shanghai (China), Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan. Sedangkan lima negara di peringkat terbawah yaitu Yordania, Kolombia, Qatar, Indonesia, dan Peru.

Asupan nutrisi jadi penting pada 1000 HPK karena nutrisi berperan dalam pengembangan penglihatan, berbicara, emosi, matematika/logika, keterampilan sosial, motorik, keterampilan sosial sebaya, dan bahasa. Dr Damayanti pun wanti-wanti agar nutrisi atau gizi pada 1000 HPK jadi perhatian bersama karena ada 4,3 juta bayi yang lahir setiap tahun yang harus dijaga kualitas hidupnya dengan pemberian nutrisi dalam 1000 HPK mulai di kandungan, pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI).

Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa (obesitas). Kemampuan kognitif para penderita stunting juga berkurang mengakibatkan kerugian besar bagi negara.

Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 (35,6 persen) dan 2007 (36,8 persen). Berarti ada sekitar 8,9 juta (1 dari 3) anak-anak di Indonesia menderita stunting. Angka ini di bawah Myanmar 35 persen, Vietnam 23 persen, dan Thailand 16 persen (mca-indonesia.go.id). Menkes Nila Moeloek mengatakan dalam tiga tahun terakhir ada  sekitar 9 juta anak di Indonesia yang mengalami stunting (nasional.tempo.co, 12/7-2017). Ini beban bagi pemerintah karena mereka akan menghadapi risiko penyakit degeneratif yang membutuhkan pengobatan.

Pola Pengeluaran

Dalam bahasa Pungkas Bahjuri Ali, STP, MS, Ph.D, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat BAPPENAS, jika anak-anak umur 2 tahun dari seluruh dunia dijejer berdiri, maka tinggi dan berat badannya akan sama (pemberian materi bagi 20 blogger peserta  Danone Blogger Academy, Jakarta, 3/11-2017). Kalau ada anak-anak yang tinggi dan berat badannya di bawah normal itu artinya telah terjadi malanutrisi pada 1000 HPK. (Baca: Pola Hidup Menggeser Peringkat Penyakit Berbahaya di Indonesia).

Perilaku juga yang membuat banyak ibu rumah tangga berisiko tertular HIV/AIDS karena suaminya jadi pelanggan PSK sehingga ada risiko penularan HIV kepada istri (horizontal) yang bermuara pada penularan vertikal ke anak yang dikandung (Hari AIDS Sedunia: Kelahiran Jutaan Bayi di Indonesia Dihantui AIDS dan "Stunting").

Tapi, Dr Damayanti mengingatkan bahwa tinggi badan terkait dengan stunting harus melalui diagnosis dokter spesialis anak agar bisa diketahui apakah karena malanutrisi atau genetika. Dr Damayanti menyebut Prof Dr BJ Habibie yang pendek bukan karena stunting.

Masuk akal kalau kemudian salah satu rekomendasi "Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama" di NTB, 23-25/11-2017, adalah tentang pencegahan stunting. Alim ulama dan NU mendesak pemerintah menjalankan berbagai upaya untuk mencegah stunting karena stunting erat kaitannya dengan penghambatan laju pertumbuhan ekonomi, menambah jumlah orang miskin dan memperlebar ketimpangan sosial (www.nu.or.id).

Anak-anak usia TK bermain dengan riang gembira yang diawasi si ibu di di Taman Pintar Yogyakarta (Foto: kompasiana/Syaiful W Harahap).
Anak-anak usia TK bermain dengan riang gembira yang diawasi si ibu di di Taman Pintar Yogyakarta (Foto: kompasiana/Syaiful W Harahap).
Selama ini pada gambar piramida makanan tidak ada porsi air putih (baca: air minum yang sehat). Padahal, seperti dikatakan oleh Dr dr Inge Permadhi, MS, SpGK (K), Dokter Spesialis Gizi Klinik - RSCM/FKUI (pemberian materi bagi 20 blogger peserta  Danone Blogger Academy, Jakarta, 3/11-2017), persentase air dalam tubuh manusia 100 persen (janin), 80 persen (bayi saat lahir), 70 persen (dewasa muda), dan 50 persen (lansia). Pada banyak organ tubuh terdapat komposisi cairan, seperti pada otak (85 persen), hati (77 persen), paru-paru (80 persen) dan organ lain. Untuk itulah Dr Inge mengingatkan agar asupan air putih jadi perhatian utama, "Jangan tunggu dehidrasi dulu baru minum," kata Dr Inge kepada 20 blogger peserta "Danone Blogger Academy" (Jakarta, 4/11-2017). Paling tidak segelas air setiap dua jam (Baca:  Menyoal 'Larangan' Minum di Ruang Kelas, Ruang Kuliah dan Gerbong KRL).

Stunting tidak semata-mata karena ketidakmampuan membeli makanan bergizi, tapi informasi tentang 1000 HPK yang tidak merakyat. Pola pengeluaran untuk konsumsi keluarga, terutama kalangan menengah ke bawah, lebih mementingkan rokok dan pulsa daripada membeli ikan dan daging. Setiap hari bisa dua sampai tiga bungkus rokok seharga Rp 36.000. Uang ini cukup membeli ikan kembung atau makanan bergizi lain. "Perilaku yang memang sangat sulit diubah," kata Dr Pungkas.

Makanan dengan kandungan nutrisi diharapkan oleh Dr Damayanti ada dalam makanan keluarga sehingga orang tua tidak perlu mencari atau membeli makanan bayi yang berbeda dengan makanan keluarga. Misalnya, kandungan Omega 3 di ikan kembung ternyata jauh lebih tinggi daripada pada ikan salmon (Baca:  Omega 3: Ikan Kembung Vs. Ikan Salmon).

Info Kesehatan Hoax

Salah satu makanan pokok yang juga jadi sumber utama karbohidrat adalah beras. Tapi, nasi justru jadi tidak bermanfaat dalam menyumbang Vitamin B1 karena cara penanganan yang salah. Menurut Prof. Dr. Rindit Pambayun, Guru Besar Ilmu Pangan Unsri, Palembang, kandungan Vitamin B1 ada pada kulit ari beras (pemberian materi bagi 20 blogger peserta  Danone Blogger Academy, Jakarta, 3/11-2017). Nah, ketika besar dicuci berulang-ulang sampai bersih kandungan Vitamin B1 pun hilang. Padahal, Vitamin B1 sangat diperlukan tubuh. Kalau beras tidak dicuci sebelum dimasak maka asupan Vitamin B1 sudah terpenuhi sehingga tidak perlu lagi meminum suplemen. (Baca: Gerakan Nasional Tidak Mencuci Beras).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3