Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

AIDS di Waropen Papua: (Masih) Menyalahkan PSK dari Daerah Lain

15 November 2017   03:44 Diperbarui: 15 November 2017   04:05 1590 0 0
AIDS di Waropen Papua: (Masih) Menyalahkan PSK dari Daerah Lain
Ilustrasi (Sumber: endhivaids.org)

"Sebanyak 20 orang dari 57 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Waropen, Provinsi Papua, meninggal akibat penyakit menular mematikan tersebut." Ini lead pada berita "Gawat, 20 Penderita HIV yang Meninggal di Papua Umumnya Pelajar" (liputan6.com yang bersumber dari Antara, 5/11-2017).

Lead berita ini menunjukkan pengetahuan wartawan tentang HIV/AIDS ada di titik nadir karena tidak menggambarkan fakta (medis) HIV/AIDS.

Pertama, orang-orang yang tertular HIV tidak otomatis menderita karena gejala-gejala penyakit terkait HIV/AIDS baru muncul pada masa AIDS (secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV). Maka, istilah yang tepat adalah pengidap HIV/AIDS atau Odha (Orang dengan HIV/AIDS).

Kedua, HIV/AIDS bukan penyakit tapi sekumpulan gejala penyakit yang terjadi pada seseorang yang tertular HIV pada masa AIDS.

Ketiga, yang menular bukan penyakit tapi virus penyebab kondisi AIDS yaitu HIV (human immonodeficiency virus) yang dalam jumlah yang bisa ditularkan ada di darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu (ASI).

Keempat, kematian pada pengidap HIV/AIDS atau Odha bukan karha HIV atau AIDS tapi karena penyakit-penyakit pada masa AIDS, seperti diare, TB, dll. Sampai detik ini belum ada kasus kematian pengidap HIV/AIDS karena HIV atau AIDS.

Judul dan lead berita ini merupakan bentuk penyampaian yang sensasional sehingga mengaburkan fakta tentang HIV/AIDS.

Terkait dengan pelajar SMA/SMK yang meninggal karena penyakit terkait AIDS menunjukkan pelajar-pelajar itu tidak mendapat informasi yang akurat tentang cara-cara melindungi diri agar tidak tertular HIV, terutama melalui hubungan seksual. Itu artinya yang gawat adalah pelajar-pelajar di Kabupaten Waropen tidak mengetahui cara-cara mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual yang konkret. 

Di bagian lain disebutkan: Selain edukasi yang lemah, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi tingginya angka penderita HIV/AIDS, seperti banyaknya pekerja seks komersial (PSK) asal daerah lain yang berdomisili di Papua.

Menyalahkan orang lain, dalam hal ini PSK asal daerah lain, merupakan bentuk penyangkalan yang dijadikan 'kambing hitam' yang menutupi perilaku berisiko sebagian warga. Ada beberapa hal yang terkait dengan penyangkalan ini, al.:

(a) PSK adalah orang-orang yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV/AIDS karena sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom

(b) PSK yang yang disebut dari daerah lain yang berdomisili di Waropen jelas orang-orang yang perilakunya berisiko tinggi tertular HIV, tapi mengapa ada laki-laki dewasa warga Waropen yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa kondom.

(c) Apakah tidak ada laki-laki dewasa warga Waropen yang melakukan perilaku berisko tinggi tertular HIV, antara lain melakukan hubungan seksual dengan PSK di luar Waropen?

Penyangkalan dan menyalahkan orang lain justru menyesatkan sehingga mengabaikan perilaku seksual sebagian warga yang berisiko tertular HIV.

Ada lagi pernyataan dari Executive Director Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA), Ramdani Sirait: "Selain edukasi yang lemah tentang seks yang aman, banyak orang non-Papua yang ketahuan dan tes darah dan positif mereka ternyata bukan warga Papua. Salah satunya adalah PSK yang berasal dari daerah lain seperti Jawa Barat, Jawa Timur dan sebagainya."  

Pernyataan Sirait ini juga mendorong penyangkalan dan mencari-cari kambing hitam. Biar pun banyak PSK yang mengidap HIV/AIDS tidak akan pernah terjadi penularan HIV kalau tidak ada laki-laki dewasa warga Waropen yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tsb.

Maka, kuncinya ada pada laki-laki dewasa warga Waropen: melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK dengan risiko tertular HIV atau sebeliknya tidak melakukan hubungan seksual dengan PSK agar tidak ada warga yang tertular HIV. Keputusan dan pilihan ada pada warga Waropen bukan pada PSK. *