Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Gerakan Nasional Tidak Mencuci Beras

8 November 2017   13:26 Diperbarui: 10 Agustus 2019   14:15 0 17 4 Mohon Tunggu...
Gerakan Nasional Tidak Mencuci Beras
Ilustrasi mencuci beras (jabar.tribunnews.com)

Kandungan vitamin B1 pada nasi sangat tergantung pada proses pencucian sebelum dimasak. Sudah jadi kebiasaan besar dicuci bersih sebelum dimasak. Banyak orang yang tetap berpijak pada mitos (anggapan yang salah) bahwa kalau beras tidak dicuci bersih akan mudah basi. Padahal, cara pencucian besar sangat menentukan kandungan vitamin B1 pada nasi.

Karena mitos itu banyak orang yang mencuci beras dengan mengaduk berkali-kali sampai air cucian beras bening. Itu artinya zat dan vitamin yang ada di bulir beras hilang, seperti Vitamin B1 yang dikenal sebagai Thiamin. Dalam tubuh Vitamin B1 berguna untuk menjadikan karbohidrat sebagai energi. Vitamin B1 juga berperan dalam proses pencernaan dan penyerapan sari makanan di dalam tubuh.

Tapi, karena cara mencuci beras yang tidak benar membuat vitamin B1 yang ada di beras hilang. Menurut Prof  Dr Ir  Rindit Pambayun, MP,  Guru Besar Ilmu Pangan Uniersitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, cara mencuci beras yang merugikan itu perlu diperbaiki. Bahkan, Prof Rindit sampai pada kesimpulan tidak perlu mencuci beras sebelum dimasak agar kandungan vitamin B1 tidak hilang. "Ya, kita canangkanlah 'Gerakan Nasional Tidak Mencuci Beras'," kata Prof Rindit pada acara pemberian materi bagi 20 blogger peserta "Danone Blogger Academy" bersama Kompasiana di Kantor Danone Indonesia, Gedung Cyber 2, Kuningan, Jakarta Selatan (3-4 November 2017).

Prof Dr Rindit Pambayun, Guru Besar Ilmu Pangan Uniersitas Sriwijaya (Unsri) Palembang (tengan pakai batik) bersama peserta “Danone Blogger Academy”, 4/11-2017 (Foto: Djoko Susilo)
Prof Dr Rindit Pambayun, Guru Besar Ilmu Pangan Uniersitas Sriwijaya (Unsri) Palembang (tengan pakai batik) bersama peserta “Danone Blogger Academy”, 4/11-2017 (Foto: Djoko Susilo)
Prof Rindit yang juga Ketua Umum Perhimpuan Ahli Teknologi Pangan (Patpi) ini tidak main-main karena berbagai studi dan penelitian juga menunjukkan kerugian yang sangat besar akibat cara mencici beras yang salah. Setiap kali pencucian dengan mengaduk-aduk beras atau menggosok-gosokkan besar akan hilang kandungan vitamin B1 dalam jumlah tertentu. Begitu seterusnya jika dicuci berulang-ulang kandungan vitamin B1 sampai pada titik nol.  

Vitamin B1 selain menjadikan karbohidrat jadi energi, menjaga fungsi jaringan tubuh dan juga berguna untuk mengoptimalkan kerja otak. Kekurangan vitamin B1 yang paling umum dikenal masyarakat adalah penyakit beri-beri yang ditandai dengan pembengkakan pada betis. Jika ditekan dengan jari bekas tekanan akan membentuk cekungan yang tidak segera hilang.

Soal mencuci beras sampai bersih bisa terjadi karena ada yang membayangkan perjalanan beras sejak ditumbuk di lesung atau digiling di penggilingan padi sehingga merasa beras tidak bersih. Sebagian lagi mungkin ingin menghilangkan residu pemutih dan pestisida.

Celakanya, vitamin B1 larut dalam air. Maka, ketika beras dicuci berulang-ulang dengan mengaduk-aduk kandungan vitamin B1 pada beras larut dan terbuang bersama air cucian beras. Jika dicuci berulang kali kandungan vitamin B1 pun terus tergerus bisa saja sampai pada titik nol.

Kebutuhan vitamin B1 sekitar 1,5 mg/hari/orang yang bisa didapat dari nasi jika pengolahan beras sebelum dimasak dilakukan dengan cara-cara yang benar, mulai dari penggilingan, penyimpanan, distribusi sampai pada pencucian sebelum dimasak. Jika pengolahan padi dan beras benar, maka tidak perlu lagi meminum suplemen berisi vitamin B1.

Kandungan vitamin B1 pada beras tergantung pada cara mengolah padi jadi beras yaitu melalui penggilingan padi atau lesung. Kadar vitamin B1 lebih banyak pada beras hasil tumbukan dengan lesung.

Agar ajakan Prof Rindit bisa memasyarakat, maka perlu penanganan sejak dari hulu (pertanian) sampai ke hilir (konsumen) dengan standar baku dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) atau ISO (standar yang diterbitkan oleh International Organization for Standardization) sehingga beras tidak perlu lagi dicuci karena standar sudah mewajibkan beras dalam kondisi bersih dan bebas dari residu zat kimia (dari berbagbai sumber). *

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x