Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Ibu-ibu di AS Ada yang Berikan ASI Impor kepada Bayi Mereka

31 Maret 2017   15:51 Diperbarui: 31 Maret 2017   18:02 630 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ibu-ibu di AS Ada yang Berikan ASI Impor kepada Bayi Mereka
Ilustrasi (Sumber: broadly.vice.com)

“Ibu-ibu di Amerika Serikat (AS) memberikan air susu ibu (ASI) impor dari Kamboja kepada bayinya.” Bisa jadi fakta ini oleh separuh orang akan ditanggapi dari sisi negatif, apalagi dikaitkan dengan predisposisi terhadap AS. Bisa jadi yang muncul adalah tanggapan miring terhadap ibu-ibu di Negara Paman Sam itu. Maklum, di mata sebagian orang di negeri ini, AS ‘bak iblis’. Lihat saja kalau ada sesuatu yang terjadi yang berskala besar selalu ada gerutuan ‘ini ulah AS’, dst..

Tapi, tunggu dulu. Kalau kita mengacu ke anjuran Badan Kesehatan Sedunia PBB (WHO) yang merekomendasikan pemberian ASI eksklusif kepada bayi pada usia 6 bulan pertama sejak kelahiran, ‘ulah’ ibu-ibu di AS itu amatlah masuk akal.

Seperti dilaporkan “Deutsche Welle” (dw.com, 29/3-2017) ASI diyakini memiliki kekuatan magis. Pada pekan pertama bayi, ASI melindungi bayi dari infeksi usus, membantu pencernaan dan menjaga bayi dari flatulensi. Air susu ibu juga membantu bayi mengembangkan sistem kekebalan tubuh dan melindungi diri dari alergi. Selain itu, mengisap susu juga mempercepat pembentukan langit-langit mulut dan rahang.

Itu artinya langkah ibu-ibu di AS itu memang jalan terbaik bagi bayi mereka. Terlepas dari alasan mereka tidak menyusui bayinya sendiri yang jelas mereka mencari ASI sebagai pengganti ASI mereka. Dikabarkan bahwa ibu-ibu di AS ada yang tidak bisa menghasilkan ASI yang cukup untuk bayi mereka, ada pula yang memakai ASI impor untuk melengkapi nutrisi bayi mereka. Cara ini disebut berawal dari seorang mantan misionaris Mormon dua tahun lalu.

Sebaliknya, Debora Comini, Perwakilan UNICEF di Kamboja, mengatakan di Kamboja ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif untuk bayi yang baru lahir selama enam bulan pertama turun dari 75 persen pada 2010 jadi 65 persen pada tahun 2014.

Bandingkan ‘ulah’ ibu-ibu di AS itu dengan ibu-ibu (di negara) lain yang memberikan susu bubuk atau formula, susu hewan atau susu kental manis kepada bayinya. Di Indonesia, misalnya, di tahun 1970-an banyak kematian pada bayi karena bayi diberikan susu kental manis dengan kadar gula yang tinggi. Akibatnya, bayi diare. Rupanya, ibu-ibu kita itu memakai jalan pikirannya sendiri. Supaya susu langsung ke bayi, maka susu kental manis itulah yang mereka berikan ke bayinya. Padahal, ibu-ibu itu yang minum susu kental manis dan sayuran lain agar ASI mereka banyak. Tapi, waktu itu media komunikasi dan tingkat literasi sangat rendah sehingga sulit menyampaikan pesan secara merata.

Namun, ASI juga bisa mengandung penyakit. Yang sudah dikenal luas adalah HIV (Human Immunodeficiency Virus), yaitu virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Prevalensi HIV pada perempuan jadi penentu bagi keamanan ASI terkait dengan kontaminasi HIV.

Laporan UNAIDS (Badan PBB untuk HIV/AIDS) menyebutkan pada tahun 2015 tercatat 37.000 perempuan usia 15 tahun ke atas yang hidup dengan HIV/AIDS. Sedangkan estimasi jumlah kasus adalah 34.000 – 41.000. Laporan menyebutkan hasil HIV Sentinel Surveillance Survey (HSS) di Kamboja tahun 2002 menunjukkan HIV di kalangan PSK langsung 29 persen dan 15 persen pada PSK tidak langsung (prb.org, 2003).

Tapi, ibu-ibu di AS mulai risau karena Kamboja melarang ekspor ASI. Seorang pejabat Kamboja mengatakan, "Meskipun Kamboja miskin dan berhidupan sulit, namun tidak pada tempatnya menjual ASI dari seorang ibu." (dw.com, 29/3-2017). Akibatnya, perusaan yang mengimpor ASI dari Kamboja, Ambrosia Labs, yang berkantor di Negara Bagian Utah, AS, menghentikan impor ASI dari Kamboja.

Kantor Ambrosia Labs di Phnom Penh, Kamboja (Sumber: www.phnompenhpost.com)
Kantor Ambrosia Labs di Phnom Penh, Kamboja (Sumber: www.phnompenhpost.com)
Ambrosia Labs menyebutkan ada sekitar 90 ibu di Kamboja yang menjual ASI-nya untuk dijual kepada ibu-ibu di AS. Menjual ASI disebut-sebut jauh lebih baik daripada menjual organ tubuh yang sering terjadi di sana sebagai salah satu bentuk perdagangan gelap manusia.

ASI impor yang menjalani proses pasteurisasi di AS dijual secara online dengan harga 15 dolar AS (sekitar Rp 200.000) satu sachet berisi 150 ml. Ini bisa untuk satu atau dua kali ‘menyusui’ bai bayi (independent.co.uk, 28/3-2017). Penjualan ASI impor ini sudah berjalan dua tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x