Mohon tunggu...
Ineke Novianty Sinaga
Ineke Novianty Sinaga Mohon Tunggu... Public Relation

I am very passionate about writing! Melihat,membaca, menilai, menganalisa,menyindir, mentertawakan, menyukai, mengagumi, memperbaiki, mendukung.

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Milenial Mikirin Mo Nikah, Yuk Siapin Bujetnya dari Sekarang (1)

13 Februari 2020   16:33 Diperbarui: 13 Februari 2020   16:32 167 1 0 Mohon Tunggu...

Punya pasangan ujung-ujungnya ingin menikah dan memiliki keluarga, walaupun tidak semua ya tapi pada umumnya begitu. So, itu sebabnya, menikah menjadi momen yang dinanti oleh mereka yang sudah memiliki pasangan. Tidak ingin melewatkan momen ini agar bisa jadi momen istimewa  bagi pasangan dan selalu dikenang selalu oleh tamu yang diundang maka tidak heran jika kebutuhan menuju hari H akan dipersiapkan sedetail mungkin dan idealnya harus dengan perencanaan yang matang.

Senior Manager Business Development Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo,ST, AWP, RFP mengatakan jika ingin menikah maka perlu memahami dulu apa tujuan pernikahan  karena menikah dan membangun rumah tangga akan selalu berkaitan dengan biaya, misalnya  jumlah dan sumber dana yang dibutuhkan untuk menikah, siapa yang akan membiayai apakah kedua pasangan atau salah satu, siapa saja dan berapa jumlah tamu yang akan diundang,  dan sejumlah pertanyaan lainnya mengenai biaya dan anggaran dari pesta pernikahan hingga membangun rumah tangga. 

"Menikah adalah awal membangun rumah tangga, kehidupan pernikahan justru dimulai setelah pesta usai. Oleh sebab itu,  jika ingin menikah, biayanya jangan dari utang karena masih banyak tahapan kehidupan yang membutuhkan biaya." sebut Yan.

Menikah pada dasarnya bisa saja dilangsungkan dengan murah, tetapi menjadi mahal karena milenial semakin peduli dengan pencitraan dan penampilan. Terlihat modern dan secara visual terlihat menarik dan bisa dilihat secara digital, seperti di media sosial menjadi bagian penting dalam pesta pernikahan milenial.

Sebagai contoh, ada beberapa detail yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya di pesta pernikahan era lama, seperti photobooth dan  layar LCD untuk penayangan live pesta pernikahan. Belum lagi soal venue . Misalnya, ingin dilangsungkan di hotel bintang di kawasan bisnis Jakarta. Kira-kira biayanya bisa mencapai lebih dari Rp500 juta dan belum termasuk jasa fotografer, photobooth, undangan, souvenir, hantaran, dan lainnya.

Hal lainnya adalah soal media sosial yang juga sangat lekat dengan kehidupan milenial. Bayangkan jika pernikahanmu bisa ditampilkan di media sosial  yang akan dilihat oleh para follower dan fans di media sosial atau di share kembali oleh mereka. Konon, ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri. Artinya, jika ingin postingan pernikahan tampil menarik  maka perlu ditambahkan biaya sewa vendor media sosial  dalam bujet pernikahan.

"Jadi bisa dibilang  bahwa biaya pernikahan untuk milenial membutuhkan jumlah yang besar. Fenomena ini bisa saja menimbulkan polemik bagi mereka yang belum siap secara finansial dan bisa menunda pernikahan. Ada juga yang tetap memilih tetap melangsungkan pernikahan, tetapi dengan cara  berutang. Padahal, jika mau menyesuaikan kemampuan keuangan dan mengerti akan tujuan pernikahan,  pernikahan masih tetap dapat dilangsungkan dengan cara yang sederhana tidak perlu mempertahankan gengsi. Namun, jika pilihan jatuh pada opsi kedua maka milenial dapat memanfaatkan fasilitas pinjaman tanpa bunga atau dengan bunga yang sangat rendah. Hal ini mengingat rasio total utang konsumtif adalah maksimal 15% dari penghasilan tetap" sebut Yan. Kendati demikian, Yan tetap menyarankan agar pernikahan dibiayai dengan anggaran yang dipersiapkan sebelumnya.

Alokasi Bujet Pernikahan agar Sesuai Kemampuan Finansial Milenial

Setelah pesta pernikahan, pasangan  kemudian akan dihadapkan  dengan sejumlah kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan masa depan. Itu sebabnya,   jika pernikahan dibiayai dengan utang maka sebagian usia pernikahan akan dipenuhi tuntutan tambahan membayar utang biaya pernikahan. Ini perlu diperhatikan oleh para milenial yang ingin menikah karena masalah finansial bisa berdampak pada relasi antar pasangan dan harus menunda kebutuhan lainnya. 

"Jika ingin menikah tetapi penghasilan tidak mencukupi membiayai pesta maka persiapan awal adalah dengan mulai hidup lebih hemat, menahan diri untuk tidak belanja yang bukan kebutuhan utama atau penting, seperti baju, sepatu, atau belanja online, baik juga jika mengurangi kebiasaan hang out di kafe, tidak  tergoda promo diskon atau cashback untuk hal-hal yang bukan menjadi prioritas hidup saat ini," sebut Yan.

Bicara tentang anggaran pesta, angka yang dianggap wajar untuk pesta pernikahan tergantung dari jumlah tamu yang diundang dan tingkat kemewahan acara, tipe pesta pernikahan yang diimpikan, pemilihan lokasi serta pilihan jenis hidangan (catering).  Jika belum yakin dengan bujet yang sedang siapkan maka rincian anggaran biaya pernikahan yang rasional bisa digunakan sebagai panduan membuat bujet, yaitu 40% untuk katering atau konsumsi, 20% untuk dekorasi, 5% untuk biaya akad nikah/pemberkatan pernikahan, dan masing-masing 8% untuk biaya pakaian, venue, dan dokumentasi serta masing-masing 3% untuk biaya souvenir dan undangan, 5% untuk biaya lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN