Mohon tunggu...
Indra J Piliang
Indra J Piliang Mohon Tunggu... Gerilyawan Bersenjatakan Pena

Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara. Artikel bebas kutip, tayang dan muat dengan cantumkan sumber, tanpa perlu izin penulis (**)

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Darah Dokter Itu Merah, Terawan!

11 Juli 2020   22:13 Diperbarui: 16 Juli 2020   22:49 275 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Darah Dokter Itu Merah, Terawan!
ijp-2-5f107561d541df582d5c4413.jpg

Sahdan, sejak dunia kedokteran berkelana di atas samudera rayaDalam kapal-kapal layar antar pulau dari benua biruTahta dan kasta sudah dilekatkan dari negeri atas angin
Walau tak tampak seekor ular berbisapun
Masuk ke dalam sloki-sloki anggur rampasan dari dunia baru

Kasta yang berlaku di kulit ari-ari
Yang putih dibayar emas dibanding perak untuk yang kuning
Yang kuning berhak kerja sebentar dibanding yang mata terkantuk coklat
Yang hitam legam bergelimang peluh sebagai kuli pemutar kumparan ladang minyak berjelaga

Orang kira, proklamasi merontokkan semua kasta itu
Apalagi dari gedung yang bernama STOVIA sebagai permulaan

Ternyata menjulur bertumbuh subur dalam kastil-kastil yang makin gelap tinggiHampir tak pernah disentuh cahayaBermata biru, berambut api, dalam bungkus putih

Entah air tuba apa yang mereka minum
Kastil berdarah hingga mencapai bintang
Begitu banyak sajen sesembahan diberikan
Kepada ketamakan pengumpul harta mewah
Berikut leher jenjang perempuan bermodal pantat tersungging dengan tarif berlian

Alat-alat kesehatan mereka makan
Ranjang-ranjang rumah sakit mereka telan
Berjenis racun dengan nama-nama latin dijajakan dalam iklan-iklan premium
Berbentuk butiran, cairan, baluran, pun sekadar liontin bermestika batu-batu goa

Sebutir pasir tertelanperut
Dibawa ke kamar-kamar operasi berbiaya berteknologi tinggi
Tubuh manusia tak lagi emanasi cahaya Illahi dalam tapa suci religi
Hanya sekadar onggokandaging yang terjual makin gendutlah rekening koran

Jangan-jangan, darah meereka tak lagi berdarah merah
Seperti merahnya darah jenderal?

Sadiskah?

Tentu, tak semua dokter seragam
Seperti pamanku yang saban Sabtu melayani banyak orang gunung di Pasar Basung
Berangkat dari Rumah Sakit Padang Panjang sejak dinihari
Mak Wali namanya
Tak panjang usianya
Dimakan penyakit yang datang dari pasien
Kami satu kaum meraung-raung kehilangan paman yang paling dulu menempuh pendidikan tinggi

Juga dokter-dokter yang menyambut kelahiran anak-anakku
Perwira tinggi berseragam angkatan udara
Dekan fakultas kedokteran universitas
Punya rubrikasi media massa
Mayor Jenderal terakhir pangkatnya
Orang yang paling kutakuti
Pun kucemburui
Kubicara hati-hati
Walau ia tersenyum, menyinggung tulisan-tulisan kerasku terhadap presiden, operasi militer
Kala Aceh belum tsunami, Papua menggeliat, Ambon terbelah menjadi Acan dan Obet

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x