Mohon tunggu...
Indra J Piliang
Indra J Piliang Mohon Tunggu... Penulis - Gerilyawan Bersenjatakan Pena

Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara. Artikel bebas kutip, tayang dan muat dengan cantumkan sumber, tanpa perlu izin penulis (**)

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

22 Tahun Gerakan Mahasiswa 1998 (1)

21 Mei 2020   09:10 Diperbarui: 29 Mei 2020   01:06 710 16 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Beberapa hari setelah Presiden Soeharto memutuskan berhenti pada tanggal 21 Mei 1998, saya menulis sejumlah catatan penting dalam buku harian. Biarlah nanti saya ketik ulang. Soalnya, buku khusus berisi catatan pemikiran saya itu belum ketemu. Yang teronggok di meja kerja saya pada saat menulis ini hanyalah buku-buku harian yang saya tulis sejak tahun 1990. Cerita keseharian saya sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, termasuk "rekaman" verbatim percakapan dalam banyak peristiwa.

Ketika sangat sibuk, saya menulis hanya satu atau dua alenia. Tapi, kalau sedang tak sibuk, saya menulis lumayan panjang. Tiga kali sehari: pagi hari sebelum kuliah, seusai maghrib, dan sebelum tidur lewat jam malam. Bukan hanya menulis catatan harian, namun juga memberikan penilaian terhadap peristiwa yang saya anggap penting, baik dalam atau luar negeri. Tentu juga berisi tentang buku yang baru saya baca. Plus, puisi yang saya pindahin dari wadah lain. Saya biasa menulis puisi dalam medium apa saja, sobekan kertas bekas, lalu malam saya pindahkan dalam catatan harian.

Dari rekaman yang saya catat itu, terdapat juga sejumlah gerakan mahasiswa tahun 1990an. Kebetulan, saya rutin menulis dalam Tabloid Swadesi. Salah seorang pengelolanya adalah alumni Majalah Suara Mahasiswa Universitas Indonesia. Namanya, Bhayu. Walau, pascaperistiwa 27 Juli 1996, tabloid itu diidentifikasi sebagai "corong" dari PDI Soerjadi. 

Saya tak peduli. Bhayu tahu, saya punya empati terhadap PDI Megawati. Praperistiwa 27 Juli 1996, saya sering hadir di halaman kantor DPP PDI yang mengadakan "Mimbar Demokrasi" di Jalan Diponegoro. Saya merinding dengan orasi-orasi dari orang-orang yang datang dari kampung, dalam bahasa yang kental kedaerahannya, menjual kambing hingga sapi, guna membiayai perjalanan mereka ke Jalan Diponegoro itu. Mata saya ikut berkaca-kaca ketika mereka yang orasi itu menangis.

Karena sempat bertemu dengan Duta Besar Palestina dalam sejumlah aksi mahasiswa UI, saya juga pernah masuk ke dalam kantor Kedubes Palestina yang terletak di seberang kantor DPP PDI itu. Tentu juga dengan catatan yang berasal dari Duta Besar kepada Presiden Soeharto yang menanggung biaya keberadaan kantor itu. 

Tanpa pembiayaan dari Presiden Soeharto, tak mungkin kantor itu bisa aktiv. Palestina sama sekali tak punya uang untuk menggerakkan kantor-kantor kedutaan mereka di sejumlah negara. Duta Besar terlama itu menyediakan minuman dan makanan kepada kami.

Di luar menulis, saya sering menjadi pembicara tentang gerakan mahasiswa. Baik di UI atau luar UI. Apalagi, saya sering menjadi wakil UI dalam pertemuan aktivis mahasiswa intra kampus, baik tingkat jurusan (Studi Klub Sejarah), fakultas, hingga universitas. 

Sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (1996-1997), saya juga hadir dalam pertemuan pimpinan Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS) yang diadakan atas prakarsa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ikatan Mahasiswa Hukum se-Indonesia (ISMAHI) dan Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi se-Indonesia (ISMEI) adalah dua IOMS yang termasuk favorit saat itu.

Jadi, dari pengalaman, pengetahuan dan kumpulan tulisan yang saya miliki itu, bisa dikatakan bahwa gelombang aksi gerakan mahasiswa 1998 bukanlah gerakan yang sama sekali terputus dari gerakan-gerakan mahasiswa sebelumnya. Gerakan mahasiswa 1998 bukanlah gerakan yang tiba-tiba saja ada. 

Atau, secara metodologi, gerakan mahasiswa 1998 bukanlah independen variabel yang membentuk dependen variabel lainnya. Gerakan mahasiswa 1998 bukanlah gunung es yang tiba-tiba saja jatuh dari ketinggian ke samudera di Indonesia, lalu memicu "tsunami" di kalangan kelompok lain, terutama kelas menengah perkotaan yang menjadi penyokong logistik utama bagi massa aksi. Tali-temali hubungan antara gerakan mahasiswa dengan kelompok-kelompok menengah perkotaan ini sudah terjalin jauh-jauh hari.

Selain peristiwa 27 Juli 1996 yang bersentuhan dengan basis massa politik, pembreidelan yang terjadi tanggal 21 Juni 1994 terhadap majalah Tempo, majalah Editor dan tabloid Detik ikut mengkonsolidasikan perlawanan terhadap hegemoni pikiran (free will).  Saya masih ingat, menjadi bagian dari massa aksi yang datang ke Gedung DPR-MPR RI, bersama Budi Arie "Muni" Setiadi, Ikravany Hilman dan Achmad Soekarsono pada malam hari. Sebagai Dewan Redaksi Majalah Suara Mahasiswa UI, tentu saya ingin mengikuti dari dekat masalah yang berhubungan dengan pers umum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan