Mohon tunggu...
Indra Andrianto
Indra Andrianto Mohon Tunggu... #MerawatIngat

Penulis bernama lengkap Indra Andrianto. Lahir pada bulan Maret 1995 di Kota penghasil kopi ternikmat yaitu "Bondowoso". Penulis Merupakan alumni TK Bhayangkari 27, SDN PRAKID 02, SMPN 2 Prajekan, SMAN 1 Prajekan dan Menempuh perguruan tinggi di Universitas Pendidikan Ganesha (Bali Utara). Aktivis HMI Cabang Singara 2014-2018, Menjabat Ketua Umum Komisariat Ilmu Sosial HMI Cabang Singaraja periode 205-2016, Menjadi KABID PTKP HMI Cabang Singaraja Periode berikutnya. Penulis juga aktif di Internal kampus sebagai KABID 1 Penalaran dan Pendidikan di Himpunan Mahasiswa Jurusan PPKN - Undiksha. Sekarang Penulis berprofesi sebagai guru di Sekolah Internasional di Bali tepatnya di Sekolah SMP Jembabatan Budaya (JB School) yang berada di Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Penulis melahirkan satu buku terbit pada Oktober 2018 yang diterbitkan oleh Penerbit Soesilo Toer - Blora dengan Isi buku kumpulan Esai-Opini bertemakan "#MerawatIngat". Saat ini Penulis masih tersesat dengan Ingatannya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Love Sembilan Belas Detik: Bodo Amat!

21 November 2020   22:10 Diperbarui: 22 November 2020   01:54 120 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Love Sembilan Belas Detik: Bodo Amat!
Sumber Gambar: Devian Art

"Untuk pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik" - Tagline: The Subtle Art of Not Giving A F-ck

Nitizen dihebohkan dengan beredarnya video berdurasi sembilan belas detik yang masih menjadi rasa penasaran di kalangan publik.  Sebab,  dalam video syur tersebut diperankan oleh peremluan yang diduga memiliki kemiripan dengan publik figur bernama Gisella Anastasia (mantan istri mas Gading) dan lelaki yang menjadi pasangan dalam video XXX tersebut masih menjadi misteri di mata khalayak umum.

Video mengenai hal ini sangat ramai diberitakan dan diperbincangkan di media hingga mampu menggeser Headline news tentang pro-kontra Omnibus Law, aksi serentak mahasiswa, dan bahkan wabah Covid-19 yang masih belum berakhir menjelang akhir tahun ini.

Tidak hanya kalangan rakyat biasa yang menyoroti skandal video mesum yang diduga mirip dengan mbak Gisella, mulai dari praktisi supranatural hingga pengacara kondang yang top pun juga turut menanggapi video yang berdurasi sembilan belas detik dengan berbagai macam persepsi dan juga analisa untuk mengomentarinya.

Menarik sebenarnya mengenai video tersebut,  bukan karena adegannya yang syur namun tentang masyarakat yang gampang sekali mengalihkan fokusnya pada hal yang sebenarnya tidak memiliki esensi yang jelas namun paling sangat diminati perkembangan kasusnya. 

Dalam benak ini bertanya, apa urgensi topik tersebut terhadap masyarakat luas? Tentu penulis rasa, berkaitan dengan moralitas, jika memang terbukti dalam video tersebut seperti yang diduga maka bisa terjerat UU pornografi dengan dasar kelalaian menyimpan video tersebut dan bisa berujung di bui.  

Namun, terlalu berlebihan jika semua orang beramai-ramai ikut menilai,  mengira-ngira,  dan mengomentari berujung fitnah terkait video tersebut. Penulis jadi ingat sosok Socrates dalam peristiwa ini, Filosof Athena itu pernah mengatakan, jika suatu permasalahan mendapat banyak respon dari orang yang bukan ahlinya, maka akan terjadi suatu kesesatan berpikir dan keliaran persepsi, yang dimaksud disini akan melahirkan suatu stigma negatif pada orang bersangkutan yang belum tentu kebenarannya dan tentunya hanya akan menimbulkan kegaduhan yang berlarut-larut tiada henti. 

Terkait kasus tersebut cukup kita sebagai nitijen diserahkan pada pihak berwajib beserta timnya yang bisa menyelesaikan kasus tersebut karena memang secara tupoksi merekalah yang membidangi kasus itu. Ketika semua orang berpersepsi secara membabi buta bahkan anehnya sampai ada pemberitaan medka terkait mengungkap kebenaran melalui ramal meramal baik melalui interaksi gaib ataupun penerawangan,  penulis rasa sangat tidak perlu. Kecuali memang masalah ini urgensi bagi nasional dan menjadi penentu nasib bagi banyak orang. 

Mark Manson "Semua akan baik-baik saja dengan bersikap bodo amat"

Pembaca pasti pernah membaca buku karya Mark Manson tentang The Subtle Art of Not Giving A F-ck atau buku terjemahannya yang berjudul "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat" secara subjektifvitas penulis tentu buku itu cukup memberikan suatu makna dan hikmah bagi setiap orang yang membacanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x