Mohon tunggu...
Indra Andrianto
Indra Andrianto Mohon Tunggu... #MerawatIngat

Penulis bernama lengkap Indra Andrianto. Lahir pada bulan Maret 1995 di Kota penghasil kopi ternikmat yaitu "Bondowoso". Penulis Merupakan alumni TK Bhayangkari 27, SDN PRAKID 02, SMPN 2 Prajekan, SMAN 1 Prajekan dan Menempuh perguruan tinggi di Universitas Pendidikan Ganesha (Bali Utara). Aktivis HMI Cabang Singara 2014-2018, Menjabat Ketua Umum Komisariat Ilmu Sosial HMI Cabang Singaraja periode 205-2016, Menjadi KABID PTKP HMI Cabang Singaraja Periode berikutnya. Penulis juga aktif di Internal kampus sebagai KABID 1 Penalaran dan Pendidikan di Himpunan Mahasiswa Jurusan PPKN - Undiksha. Sekarang Penulis berprofesi sebagai guru di Sekolah Internasional di Bali tepatnya di Sekolah SMP Jembabatan Budaya (JB School) yang berada di Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Penulis melahirkan satu buku terbit pada Oktober 2018 yang diterbitkan oleh Penerbit Soesilo Toer - Blora dengan Isi buku kumpulan Esai-Opini bertemakan "#MerawatIngat". Saat ini Penulis masih tersesat dengan Ingatannya

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Catatan Bingung No.4: David Hume "Kebenaran Berawal dari Pertengkaran Antar Teman"

14 November 2020   19:12 Diperbarui: 16 Desember 2020   19:38 104 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Catatan Bingung No.4: David Hume "Kebenaran Berawal dari Pertengkaran Antar Teman"
Sumber Gambar: The Atlantic

"The truth springs from arguments amongst friends" - David Hume

Dalam benak pemuda yang sedang berpikir ntah dalam konteks melalui perenungan dengan rumus berpikir filsafat atau perenungan dengan metode-metode disiplin ilmu lainnya tentu akan menghasilkan suatu tanya, "Kok bisa sih kebenaran berasal dari pertengkaran diantara teman?".  Sebagian pemuda yang berpikir sumbu pendek akan dengan respon spontan dan cepat menyimpulkan argumen dari Hume dan menelan mentah-mentah bak menelan racun yang seketika membuat tubuh terkapar mati,  apalagi dia yang sedang mabuk agama yang menyebabkan kekakuan berpikir tanpa memikirkan ulang dengan lebih mendalam "pertengkaran dilarang oleh agama, loh...jangan belajar filsafat, filsafat menyesatkan" Astagaaaa bukan begitu tong…

David Hume - seorang filosof modern yang populer pada abad ke 17 atau lebih dikenal abad pencerahan (Renaissans). Pembaca tentunya sudah banyak tahu tentang tokoh-tokoh para pemikir abad renaissans seperti August Comte, Immanuel Kant,  Hamilton, Charles Darwin, Bertrand Russell hingga tokoh-tokoh kesohor macam Adam Smith dan Albert Einstain. dari sekian yang telah disebutkan banyak pemikiran mereka yang ternyata dipengaruhi oleh kerangka berpikir David Hume yang didapat oleh Hume dari bukti empirisis dimana David Hume juga dipengaruhi oleh filsuf macam Cicero, Epicurus, Rene Descartes, Issac Newton, dan Thomas Hobbes serta banyak lagi tokoh-tokoh lainnya yang mempengaruhi kerangka berpikir dari David Hume. David Hume lahir di Skotlandia, Britania. Karya kesohornya berupa buku The History of England yang ansich membahas tentang sejarah Inggris. 

Pada catatan bingung nomor empat yang penulis tulis ini, tidak akan terlalu banyak membahas tentang sisi latar belakang Hume. Namun penulis lebih menekankan pada menyederhanakan argumentasi dari apa yang dimaksud oleh David Hume tentang "Kebenaran yang berawal dari sebuah pertengkaran diantara teman-teman"

Secara kerangka berpikir logika naturalis tanpa harus belajar kerangka berpikir logika yang ilmiah,   tentunya setiap orang akan bisa melogikakan tentang sebuah hal ataupun suatu pertengkaran dengan ber modal logika bawaan lahir (contoh logika bawaan: bulan itu sebesar koin, namun jika didalami menggunkan ilmu geometri ternyata bulan jauh lebih besar dari uang koin) hal demikian (logika bawaan) akan mudah membuat logika manusia terjebak pada lingkaran dalam manafsirkan maksud kalimat David Hume dan kemungkinan akan menyesatkan pikiran manusia dengan menjadikan pertengkaran disepakati yang pada umumnya adalah suatu hal tidak baik akan berubah menjadi hal yang baik. (jadi berantem dengan teman itu cikal bakal yang sangat baik untuk suatu kebenaran) sekali lagi bukan seperti itu.  

Beribicara kebenaran tentunya tidak akan pernah ada habisnya,  namun satu sisi jika kita tarik pada pendekatan dialektika Hegel (Thesis Antithesis dan Synthesis) ada suatu kemudahan bagi kita memahami kebenaran yang dimaksud oleh David Hume. Pertengkaran yang dimaksud Hume lebih mengena pada pertengkaran pada porsi pertengkaran thesis dan antitesis yang melahirkan syntesis (dialektika sejarah Hegel). GWF Hegel lahir selang 6 Tahun kematian David Hume (1776). Jadi apa yang dimaksudkan pertengkaran oleh Hume diperjelas lagi oleh Hegel melalui konsepsi Dialektika Sejarah (Thesis=kesimpulan bukti-bukti logis lebih sederhana lagi bisa disebut sebagai pernyataan), (Antitesis=sangkalan dari hasil kesimpulan Thesis) nah disini terjadi sebuah kontradiksi atau keterbalikan atau kasarnya pertengkaran dari keduanya yang menghasilkan suatu kebenaran utuh yang baru, seperti pengertian Syntesis itu sendiri (jawaban atau kesimpulan atas pertentangan yang dibuat antara tesis dan antitesis sehingga menjadi satu hal utuh yang merupakan hasil ilmiah yang baru/kesimpulan baru/kebenaran sementara).

Jadi dapat kita tarik benang merahnya bahwa pertengkaran disini yang dimaksud adalah pertengkaran kritik dan sangkalan dari setiap pernyataan yang menghasilkan suatu kebenaran baru yang sifatnya sementara.  (so,  bagi kalian yang sedang di kritik habis-habisan oleh teman kalian baik dalam sikap, pemikiran dan bahkan gaya hidup, jangan Baperan ya ! Kemungkinan itu suatu bentuk untuk memperbaiki hidupmu atas kritik-kritik yang membangun yang menyerang hidupmu).

Terkait suatu kebenaran Hume seorang pemikir yang beraliran empirisme hal itu jelas terbukti bahwa Hume belajar dari pengalaman-pengalaman Jhon Locke dan Descartes. Beberapa saat sebelum catatan ini jadi,  ada komentar di kolom komentar facebook dengan pertanyaan apakah kebenaran yang dimaksud David Hume dari pertengkaran itu berlaku untuk semua hal ? Tentunya tidak ya,  bahkan Hume sendiri meletakkan sebuah dasar pemikiran Skeptism Radikal yang blak-blakan mengatakan bahwa Kausalitas itu tidak selalu ada dan tidak selalu benar atas realitasnya. 

Jika dilarikan pada konsepsi kebenaran, suatu kejadian terjadi akibat dari kejadian yang dilakukan sebelumnya. Terkait kebenaran yang dimaksud hume lebih mengambil pada pendekatan kebenaran yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh eksistensialis, dimana kebenaran yang dimaksud adalah suatu kebenaran bagiku dan dan bermanfaat bagiku. 

Penekanannya lebih ke arah subjektifitas berpikir mendalam,  benar itu ada ketika sejalan denhan apa yang kau jalankan. (sejalan dengan Descartes "cogito ergo sum")  berbeda lagi bagi sudut pandang tokoh-tokoh materialisme yang menekankan pada materi tentang suatu kebenarannya. Jadi belum bisa dianggap kebenaran dalam konsep berpikir Hume berlaku pada semua hal. Tentang kebenaran mungkin penulis lebih sepakat bahwa tokoh-tokoh pemikir gila ini sedang menjalani yang namanya ilmu maujud dg mencari hakikat hakikat dari kebenaran itu sendiri. Dalam konteks dunia filosof untuk suatu keharusan yang wajib baginya untuk dijalani. 

VIDEO PILIHAN