Mohon tunggu...
Indra Agusta
Indra Agusta Mohon Tunggu... hologram-Nya Tuhan

Cantrik di Sekolah Warga, Suluk Surakartan dan Sraddha Sala

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Wabah: Terus Cuci Tangan dan Jangan "Cuci Tangan"

29 Maret 2020   20:15 Diperbarui: 29 Maret 2020   20:20 610 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wabah: Terus Cuci Tangan dan Jangan "Cuci Tangan"
Seven Sleepers, Menologion of Basil II

anak-anak muda itu masuk kedalam gua beserta anjingnya, bukan karena kalah tapi lebih karena waspada, terhadap kebohongan-kebohongan yang ditebarkan oleh penguasa, tokoh, spiritualis, budayawan dan pemikir yang tak rasional, terus menyepi di Gua Kahfimu sendiri. Dan kembalilah dalam tiga ratus tahun lagi, dengan segala sesuatunya yang lebih baik, karena Tuhan mencintai mereka yang mau berfikir

PROGRESI

Jelang hari ke-10 setidaknya wabah ini mencekam di Solo dan Kabupaten sekitarnya. Dalam beragam pengamatan memang tidak bisa dipungkiri bahwa efek dari teror psikis lewat media ini akhirnya menjalar cepat kedesaku, desa-desa di dalam kabupaten. Isu ini kemudian menggantikan isu-isu daerah seperti pilkades dan pilbup, semua elemen masyarakat punya caranya sendiri untuk melihat wabah ini.

Sementara itu media setelah over-posting soal wabah ini, berlanjut ke beberapa media yang lebih menekankan jumlah kematian daripada harapan hidup. Dibeberapa koran memang tak menyebutkan berapa yang masih hidup, atau sembuh, dalam kacamata lain mindframing berita yang seperti ini semakin menambah kekhawatiran.

Dipusat pemerintahan tidak segera menetapkan status lockdown total atas semua wilayah, tentu ini menjadi pilihan yang simalakama. Posisi mengambang ini malah semakin menambah kepanikan, himbauan yang diikuti dengan sweeping oleh aparat tapi tidak diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan pokok, malah menjadi blunder sendiri. Bukti Negara hadir dipertanyakan.

Sementara itu kondisi internasional sudah sangat siap dengan Corona Loan IMF. Terlepas akankah Indonesia mengambil atau tidak tapi posisi IMF menjadi sangat strategis sebagai lembaga internasional penyedia utang ditengah wabah. Yang tentu akan seperti gayung bersambut ketika sebuah negara tidak mengindahkan himbauan Harrari, bahwa Isolasi tidak akan meredam keadaan, justru akan menghadirkan gejolak permasalahan baru, resesi misalnya.

Lalu tanggal 25 Maret 2020, lewat perwakilan Bank Dunia negara kita berhutang lagi sekitar 4.99 T dengan dalih untuk reformasi sektor keuangan, tidak dijelaskan ke publik mengapa hutang ini diambil, semoga menjadi keberkahan buat semua penduduk, entah back-up plan apa yang akan dijalankan pemerintah.

Banyak sekali pertanyaan mendasar kepada pemerintah pusat selain lockdown, dan karantina wilayah tentu juga yang menurutku penting adalah transparansi data. Transparansi data baik ke WHO maupun ke wilayah didaerah, tidak hanya sekedar angka setidaknya ketika keadaan sudah panik seperti ini kita tidak meningkatkan tensi kecurigaan kepada sesama warga, hanya karena ada orang baru, asing atau sekedar batuk dan panas. Namun langkah ini juga tidak diambil oleh pemerintah, kita dibiarkan untuk menyimpan kegelisahan tanpa tahu siapa-siapa sekeliling kita yang positif terkena virus.

Dengan transaparansi justru masyarakat saya kira akan lebih terbuka dan dewasa supaya saling bertukar informasi tanpa memendam rasa tidak nyaman yang berlebihan.

Entahlah sebenarnya apa yang diinginkan oleh pemerintah pusat, semua kebijakannya kini menjadi buah simalakama. Ketidaksiapan, transparansi, over-blowup media, teror, dan berbagai langkah malah jadi salah kaprah. Lalu kisah selanjutnya adalah Keegoisan manusia itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x