Mohon tunggu...
Indra Rahadian
Indra Rahadian Mohon Tunggu... Pegawai Swasta

Pemerhati sosial dari sudut pandang kedai kopi/penikmat sastra/penonton huru hara politik / IG : dian_albatami

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Sihir Kompasiana pada Angka 12

22 Oktober 2020   23:00 Diperbarui: 23 Oktober 2020   00:26 273 77 26 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sihir Kompasiana pada Angka 12
Sumber : Kompasiana (Ilustrasi olah pribadi)

"Wow". Adalah kata yang pertama terucap saat membaca artikel-artikel pada platform Kompasiana, bukan terkejut karena terheran-heran, namun membaca sebuah artikel dengan perspektif yang lain daripada umumnya adalah hal yang langka pada sebuah media mainstream.

Ya Kompasiana tak bisa dilepaskan dari nama besar kompas itu sendiri bukan?

Perkenalan dengan Kompasiana

Awalnya, saya kira Kompasiana adalah jejaring blogs yang dibuat dadakan untuk mewadahi opini masyarakat meramaikan pemilu 2014. 

Pada kurun waktu tersebut, begitu luber artikel dari Kompasiana yang masuk kedalam beranda media sosial saya, dengan tema politik berupa opini dan analisis, pun beragam gaya bahasa.

Tapi setelah saya tilik, ternyata konten atau artikel dalam Kompasiana tidak melulu bertema politik, ada tema sosial budaya yang menarik untuk dibaca. Sayangnya saat itu, saya belum terlalu ngeh untuk melihat siapa nama penulis artikel tersebut.

Kompasiana hanya saya kunjungi sesekali, sekedar mencari bahan referensi perihal isu terkini yang tengah banyak dibicarakan oleh teman-teman, biar tidak kurang update lah bahasanya.

Ditahun-tahun berikutnya, saat media sosial begitu membosankan untuk dikunjungi, terlebih saat ini budaya membaca berganti dengan budaya menonton, hingga tautan YouTube dan website streaming film memenuhi beranda media sosial. Dan saya pun mulai meninggalkan media sosial.

Kesibukan bekerja diluar kota membuat saya gaptek dalam urusan platform digital, signal yang angin-anginan kadang lebih dibutuhkan untuk menghubungi keluarga di rumah, maka terjauh lah saya dari informasi digital.

Mulai menulis

Pada saat beberapa teman membuat akun YouTube dan mencoba peruntungan dengan menjadi YouTubers atau sekedar eksis pada media serupa Tik-Tok dan lainnya, saya malah lebih tertarik untuk menulis.

Pengetahuan yang minim tentang menulis artikel, terlebih saya buta pada istilah-istilah jurnalistik, membuat saya berkali-kali urung mengirimkan tulisan pada Kompasiana atau sekedar menumpang titip pada blogs teman.

Akun Kompasiana baru saya buat 10 Agustus 2020, itupun saya niatkan untuk memposting opini tentang peristiwa intoleransi didaerah, setelah saya membaca berita yang dishare melalui WhatsApp group.

Tulisan alakadarnya tersebut pun akhirnya tayang dan mendapatkan vote untuk pertama kalinya dari bapak Katedrarajawen, alangkah senangnya saat itu.

Beyond blogging, begitulah sihir yang ada pada Kompasiana, membuat saya melihat platform ini benar-benar bernilai lebih dari sekedar blogs dengan kontributor seabreg, lebih dari itu memberikan banyak manfaat dan Inspirasi dalam menyalurkan hasrat menulis pada pembacanya seperti saya.

Pengetahuan dan Inspirasi dari sesama penulis, memberikan banyak manfaat dalam merapihkan tulisan saya, bahkan setelah 50 artikel saya tayang pun masih saja akan merepotkan admin Kompasiana yang harus bekerja ekstra merapihkan tulisan saya, salut!.

Mengambil manfaat

Kompasiana memberikan kepercayaan diri untuk menulis, mengasah kemampuan dan perkembangan penulis sesuai dengan minatnya, ditambah artikel-artikel dari mas Khrisna Pabichara dan bang Nursalam AR benar-benar bermanfaat sebagai referensi membuat artikel jempolan, meskipun dalam mempraktekannya saya masih banyak salah, tapi setidaknya ada usaha untuk lebih baik.

Selain artikel-artikel quote dan artikel Inspiratif dari pak Katedrarajawen dan Ruang Berbagi (Romo Bobby), Inspirasi untuk terus menulis di Kompasiana datang dari sesama penulis yang menggugah minat saya membaca artikel-artikel mereka diwaktu luang.

Saya tertarik membaca artikel sosial budaya, terlebih sejarah dan pengetahuan ilmiah yang jarang ditemukan dalam media lain, beberapa artikel dari mas Wuri Handoko dan numerolog bapak Rudy Gunawan, menurut selera saya adalah yang paling keren.

Saya penikmat sastra dan seni, sewaktu muda sering membuat puisi, sajak dan lirik lagu, ada yang dipakai di organisasi, pedekate teman wanita atau sekedar menjadi catatan yang belum pernah dipublikasikan.

Bu Ari Budiyanti, teh Hera Veronica, ka Lusy Mariana, mas Saqti Abonkze, mbak Fatmi Sunarya, mas Azis dan Dua Sisi menurut selera saya, puisi-puisi mereka enak dinikmati. Tapi jangan tanya tentang bang Arrie Boediman, beliau selevel Rendra dimata saya.

Ayah Tuah, Apriani dinni dan mas Zaldy mengenalkan saya pada cerpen yang asik dibaca, mengisnpirasi saya untuk menulis dongeng yang biasa saya ceritakan pada anak-anak sebelum tidur, pun bapak Rustian Al Ansori dan mas Ozy menginspirasi dalam berpantun.

Urusan artikel bertema sosial dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, mas Guido, pak Marahalim, bu Yana Haudy, ka Adolf Isaac, Budi Susilo dan yang lainnya, sangat menarik dibaca, fresh dari peristiwa didepan mata yang mengalir pada jari jemari.

Pada serba serbi traveling dan kuliner, saya terbiasa membaca artikel mas Tonny Syiariel, bu Siti Nazarotin dan beberapa penulis lain.

Artikel politik yang menggugah, biasa saya temukan pada artikel Om Gege, Elang Salamina, Fery W, Kholil Rokhman serta  beberapa penulis lainnya, menambah pengetahuan saya dalam menilai situasi politik terkini.

Untuk kisah hidup, artikel pak Tjiptadinata dan bu Roselina sering saya intip, sama seperti artikel beberapa penulis yang berdomisili diluar negeri, seperti mbak Martha Weda dan mbak Hennie Triana.

Pada kolom olahraga saya lebih sering membaca artikel-artikel David abdullah dan tentunya pak Hendro Santoso yang selalu setia membalas komentar saya meskipun hanya bertuliskan "GGMU!".

Banyak sekali sesama penulis yang saya sempatkan membaca artikelnya, dan sesudahnya pasti saya tinggalkan vote atau komentar.

Kompasiana telah memungkinkan kita menilai artikel dengan tulus, bener loh tulus.

Kita tidak pernah mengenal penulis secara pribadi, meskipun para penulis senior mungkin sudah sempat kopi darat dalam kegiatan offline, namun bagi saya, sebuah kesenangan bisa merasa begitu dekat dengan hanya membaca artikel-artikel mereka.

Selera bacaan, orientasi politik dan latar belakang pribadi boleh beragam, namun yang paling keren dan mencerminkan intelektual penulis dikompasiana, adalah budaya saling mengingatkan, memberi dukungan, apresiasi, kritik dan saran, selain ditulis dalam kolom komentar, terkadang dibuat dalam bentuk artikel untuk menanggapi artikel dari penulis lainnya. Keren!.

Hari ini tanggal 22 Oktober 2020, Kompasiana berulang tahun dan saya bingung harus memberi kado apa pada remaja tanggung berusia 12 tahun, sejatinya pada usia tersebut anak remaja dalam masa-masa puber. Biasanya sudah tak betah dirayakan dengan balon dan kado, kadang lebih memilih pergi berlibur dan menikmati berkumpul bersama teman.

Sebagai teman, saya sekedar meramaikan dengan artikel dan ucapan yang saya panjar sebelum jam 12 malam ini.

"Selamat hari jadi ke 12 Kompasiana, semoga semakin agresif pedekate dengan pembaca".

(Indra Rahadian, 10/22/20)

*maaf Judul bernada Clickbait ya.. hehe.

*Mohon maaf jika ada salah penulisan nama.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x