Galih Prasetyo
Galih Prasetyo penulis lepas

priaibra.com | bomber.id | ayah pria ibra

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Sepak Bola Vietnam: 2006 Kasus Suap, 2013 Suporter Bawa Granat, 2018 Kangkangi Indonesia

7 Desember 2018   20:18 Diperbarui: 7 Desember 2018   21:24 596 2 1
Sepak Bola Vietnam: 2006 Kasus Suap, 2013 Suporter Bawa Granat, 2018 Kangkangi Indonesia
Timnas Vietnam | tgvn.com.vn

Malaysia akan bertemu Vietnam di laga final Piala AFF 2018. Bagi pencinta sepakbola mungkin tidak terlalu heran jika Malaysia mampu sampai ke partai puncak karena pada faktanya sepakbola di Negeri Jiran itu memang terus berkembang ke level tertinggi.

Bagaimana dengan Vietnam? Di tahun ini negara yang pada 1975 baru mengakhiri perang Vietnam sudah mampu kangkangi sepakbola Indonesia. Di Asian Games 2018 lalu, Vietnam mampu menembus sampai 8 besar. Vietnam jadi satu-satunya wakil ASEAN yang mampu bermain di babak perempatfinal.

Melihat capaian Vietnam, sudah sepatutnya pengurus federasi sepakbola Indonesia malu dibuatnya. Bagaimana tidak, di era 90-an Timnas Vietnam bisa dibilang masih di bawah levelnya dibanding Timnas Indonesia. Baru pada era akhir 90-an, tepatnya pada 1998, Timnas Vietnam tunjukkan geliatnya. Bagi publik sepakbola Indonesia sendiri, Vietnam memiliki kenangan buruk tersendiri. Ingat dengan sepakbola gajah di ajang Piala Tiger 1998?

Kala itu Timnas Indonesia dan Thailand sama-sama bermain mata demi menghindar dari Timnas Vietnam yang di era tersebut memang tengah menunjukkan kualitasnya.

Meski sempat dianggap salah satu negara di kawasan ASEAN yang memiliki timnas kuat, perkembangan sepakbola Vietnam pada nyatanya alami pasang surut. Bahkan sepakola Vietnam sempat berada di titik nadir.

Pada 2006 misalnya masalah skandal suap, mafia dan judi yang kini tengah hangat jadi pembicaraan di sepakbola Indonesia menyerang Vietnam. Pada periode 2005 sampai 2006, kepolisian Vietnam membongkar 50 kasus praktek suap dan judi di Liga Vietnam. Bahkan pada 2006, pengadilan Vietnam memvonis bersalah 8 pemain dari Timnas U-23 Vietnam yang terbukti terlibat dalam kasus suap dan judi. Setahun kemudian, salah satu media ternama dunia, Associated Press membongkar prakter haram tersebut.

Menurut laporan Associated Press, ada 7 wasit dan 2 offisial klub yang terlibat dalam praktek judi dan suap di sepakbola Vietnam. Para tersangka ini pun harus menerima hukuman di penjara selama 7 tahun. Federasi sepakbola Vietnam terus berbenah untuk membabat habis praktek kotor ini di lapangan hijau.

Tidak soal skandal suap ini, hampir mirip juga di Indonesia, Vietnam sempat diterpa masalah bentrok antar suporter. Pada 2013, masih dari laporan Associated Press 18 suporter ditangkap karena terlibat dalam bentrok yang mengakibatkan tewasnya kiper Do Ngoc akibat ditusuk.

Bahkan menurut laporan dari media Vietnam, dari bentrok berdarah antar suporter tersebut, pihak kepolisan menemukan granat yang dipersiapkan salah satu basis suporter yang bentrok. Gila!

Meski dibayangi dengan segala seklumit masalah yang hampir sama dengan kondisi sepakbola Indonesia, federasi Vietnam tetap memiliki blue print jelas untuk membangun sepakbola di sana. Semenjak Liga Vietnam menjadi liga profesional pada 2000, sejumlah klub menujukkan kelasnya.

Setelah sempat vakum pada 1990-an, V League 1 semakin terlihat profesional pada era 2000-an. Perubahan mengikuti arah industri sepakbola terlihat dari sponsorship yang makin masif di V League 1. Korea Selatan dan China jadi rujukan klub Vietnam dalam urusan sponsor. Yang menarik para klub di Vietnam juga begitu memanjakan para sponsor dengan mengubah nama klub sesuai dengan nama perusahaan sponsor, seperti juara V League 1, Becamex Binh Duong, Becamex ialah nama perusahaan kontruksi yang jadi sponsor terbesar bagi klub tersebut

Industrialisasi sepakbola Vietnam dijalankan benar-benar oleh VFF. Selain soal sponsor, Federasi sepakbola Vietnam tak ketinggalan menyertakan stackholder yang paling penting saat sepakbola sudah menjadi industri yakni suporter. Sebagai negara yang juga gandrung bahkan gila pada sepakbola membuat akhirnya lapangan ekonomi baru tercipta. Federasi membuka jalan untuk diadakannya acara menonton bareng, impactnya ratusan ribu kios berjejer di pasar lokal.

Meski terlihat positif dan bagus, V League 1 tidak serta merta tanpa masalah. Munculnya klub-klub yang dianeksasi oleh aparat kepolisian juga muncul di V League 1 seperti The Cong, klub yang meraih 13 gelar juara dan dimiliki oleh Angkatan Darat Vietnam. Klub ini tak mencerminkan identitas namun lebih kepada aspek komersialisasi pihak militer Vietnam pada sepakbola. Namun pada 2004, klub ini malah terdegradasi. Efeknya kemudian membuat banyak investor enggan untuk menanamkan modalnya.

Pada 2006, sepakbola Vietnam kembali dapatkan angin segar. Perubahan secara finansial kembali membuat sejumlah klub anyar berdiri. Yang tak kalah menarik sepakbola dibuat seperti bisnis franchise di Vietnam. Hal itu tentu tak lepas dari kebijakan VFF yang mengizinkan untuk mengganti home base suatu klub, seperti klub Hanoi FC yang pindah home base sejauh 1000 mil dan kemudian menjadi Saigon FC. Sayang hal ini tidak berjalan lancar.

Bahkan untuk level pembinaan pemain muda, Vietnam lebih baik dibanding Thailand, buktinya Timnas Vietnam U-20 sukses ke Piala Dunia U-20 untuk kali pertama pada 2017 lalu. Hal itu tentu saja hasil dari kerja-kerja nyata federasi.

Salah satu kerja nyatanya ialah saat legenda Manchester United, Ryan Giggs pada 2017 lalu didaulat menjadi direktur sepakbola di salah satu akademi sepak bola terbesar di Vietnam, PVF.

"Ryan Giggs akan bertanggung jawab dalam melatih para pemain, melatih para pelatih, serta berpartisipasi dalam membangun PVF menjadi akademi terdepan di Vietnam, setara pula dengan sejumlah akademi sepak bola di dunia," tulis PVF di laman resmi mereka saat itu.

Dikutip dari goal.com, kunci keberhasilan pengembangan pemain muda dalam akademi tersebut tidak hanya sebatas scouting atau kecanggihan metode latihan. Empat akademi itu bernaung di bawah klub peserta V.League top tier (HAGL dan Hanoi) dan divisi satu (Vettel dan PVF). Para pemain muda mereka benar-benar diberikan kesempatan menit bermain di liga.

Tidak semata soal pengembangan pemain muda, federasi Vietnam juga serius memperhatikan semua sektor untuk membangun timnas yang kuat. Salah satunya soal asupan nutrisi para pemainnya. Sadar pemain dari ASEAN memiliki bentuk tubuh tak seperti pemain dari Timur Tengah atau Eropa yang tinggi besar, federasi sepakbola Vietnam memfokuskan pada asupan gizi para pemainnya.

Namun meski federasi sudah coba mengoptimalkan di persoalan tersebut, para pemain atau mantan pemain Timnas Vietnam tak sungkan untuk terus mengkritik agar kebijakan federasi jadi lebih baik lagi. "Di Vietnam ada banyak hal yang harus diubah. Badan pemain tidak begitu kuat dan mereka tidak bisa banyak berlari," kata Legenda hidup Timnas Vietnam, Le Cong Vinh.

"Di Eropa atau Thailand, mereka punya tes fisik. Mereka menggunakan GPS, namun di sini tidak. Makanan di sini tidak begitu baik dimana pemain makan yang mereka inginkan.

"Jika Anda tidak makan makanan yang tepat dan vitamin yang tepat Anda tidak bisa bermain bagus dan berlatih dengan baik. Selain itu di sini tidak ada pelatih fisik. Lapangan juga kurang baik dan terakhir kondisi fisik dimana pemain tidak bisa selalu berlari sepanjang pertandingan," tambah Cong Vinh.

Kesimpulannya, sepakbola Vietnam memiliki blue print yang jelas maka tak terlalu mengherankan jika mereka sampai bisa lolos ke babak perempatfinal Asian Games 2018 hingga final Piala AFF 2018. Pertanyaannya kemudian, apakah sudi jika PSSI berguru pada Vietnam?