Galih Prasetyo
Galih Prasetyo penulis lepas

priaibra.com | bomber.id | ayah pria ibra

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Ada Hegerberg dan Budaya Seksisme di Sepak Bola

4 Desember 2018   17:23 Diperbarui: 6 Desember 2018   20:57 1062 3 0
Ada Hegerberg dan Budaya Seksisme di Sepak Bola
Ada Hegerberg | standard.co.uk

Striker berusia 23 tahun, Ada Hegerberg menjadi pesepak bola perempuan pertama yang meraih gelar Ballon d'Or. Tahun ini, France Football memang memperkenalkan untuk pertama kalinya gelar Ballon d'Or khusus untuk pesepak bola perempuan.

Hegerberg yang lahir di Molde, Norwegia sejak kecil memang sudah memiliki bakat sepak bola. Beda dengan perempuan seusianya, Hegerberg begitu mencintai sepakbola, tidak hanya menonton namun juga memainkannya. Menariknya, sang kakak juga memiliki kesukaan dan bakat yang sama. Andrine, sang kakak juga sejak kecil sudah bergabung ke akademi sepakbola.

Pada 2010, Ana mendapat kontrak profesional dari salah satu klub perempuan Norwegia, Kolbotn setelah sebelumnya berkarier di akademi Sunndal, salah satu akademi sepakbola di Norwegia. Bersama Kolbotn seperti dikutip dari fotball.no, ia mampu mencetak 15 gol dari 30 penampilannya. Torehan yang membuat klub Stabaek, salah satu klub besar liga perempuan Norwegia ingin meminangnya.

Ia pun bergabung ke Stabaek pada 2012. Benar saja torehan golnya kembali bertambah. Dari 18 caps, Hegerberg mencetak 24 gol untuk Stabaek di musim itu. Ia pun mendapat kesempatan berkarier di Jerman setelah ada pinangan dari Turbine Potsdam.

Semusim membela klub Jerman, ia pun mendapat pinangan dari raksasa liga peremuan di Eropa, Lyon. Di klub Prancis inilah kariernya semakin bersinar. Seperti dijelaskan di awal, di musim pertama, ia sukses menjadi top skor ketiga di liga Prancis. Pada 2016 lalu, ia dinobatkan sebagai pesepak bola terbaik Eropa bersama dengan Cristiano Ronaldo.

Yang menarik penghargaan yang didapatnya seperti mendobrak tradisi dimana biasanya pesepak bola dari Jerman yang biasa meraihnya. Hegerberg jadi pesepak bola perempuan non-Jerman pertama yang meraih gelar UEFA Best Women's Player in Europe sejak gelar tersebut mulai diberikan pada 2013 lalu.

Ada Hegerberg | getty images
Ada Hegerberg | getty images
Di tahun yang sama, FIFPro juga menobatkannya masuk dalam starting line up terbaik. Ia juga mendapat penghargaan sebagai olahragawan terbaik se-Norwegia pada 2016. Di musim ini meski trofinya tidak berkurang.

Di saat Ronaldo antarkan Real Madrid juara Liga Champions 2017, ia juga sukses mengantarkan Lyon jadi juara Liga Champions wanita. Di final yang berlangsung pada 1 Juni 2017 di Stadion Cardiff, Lyon menjadi juara setelah mengalahkan PSG lewat babak adu penalti.

Dengan rekam jejak yang mengagumkan ini tak salah memang jika Ana menjadi pesepakbola perempuan pertama yang meraih gelar Ballon d'Or. Hampir sama saat ia meraih gelar UEFA Best Women's Player in Europe pada 2016 lalu, gelar Ballon d'Or kepada Ana sebenarnya menjadi bukti bahwa budaya seksisme di sepakbola serta di cabor lain harusnya bisa dikikis.

Sebelumnya saat penghargaan Ballon d'Or, DJ Martin Solveig yang jadi salah satu pemandu di acara tersebut mendapat banyak kritik karena berkomentar seksisme dengan meminta Ada melakukan twerk sebelum memberikan kata sambutan. Andy Murray, petenis asal Inggris seperti dikutip dari skysports.com mengatakan bahwa komentar DJ Martin mencerminkan bahwa budaya seksisme masih sangat kental di olahraga.

"Itu adalah contoh lain dari seksisme konyol di olahraga. Mengapa atlet perempuan harus melakukan gerakan itu? Apakah itu semua ada hubungannya dengan sepak bola?" kata peraih 3 gelar Grand Slam tersebut.

Andy Murray dengan gamblang menyampaikan pesan bahwa dalan konteks perempuan yang berkecimpung di ranah olahraga harusnya dipandang dengan prinsip setara dengan atlet laki-laki. Sayangnya budaya seksisme justru membuat keseteraan itu menjadi terancam.

Sebuah penelitan yang dirilis oleh Women in Football menyebutkan bahwa perempuan sangat terancam dengan budaya seksisme di sepak bola. Sebanyak 25 persen perempuan yang bekerja di sepak bola menurut penelitian tersebut memang menjadi korban seksisme. Tingkah dari DJ Martin yang kemudian disadarinya sebagai satu kesalahan menurut hasil penelitian Women in Football merupakan salah satu instrumen budaya seksisme begitu tumbuh subur.

Survei pada 2014 lalu menyebutkan bahwa dua pertiga dari korban seksisme di sepak bola dan olahraga disebabkan karena tindakan ejekan atau lelucon seksis. Persoalan seksisme di sepak bola sebenarnya jangan dipandang sebelah mata, FIFA sendiri menyebut bahwa di momentum sepakbola seperti saat ini dibutuhkan reformasi kesetaraan gender. 

"Aturan (FIFA) tersebut perlu ditegakkan dan dipegang, untuk menantang budaya seksisme dalam permainan sepak bola," kata salah satu anggota komite FIFA, Moya Dodd pada 2014 silam.

Di belahan bumi lain tepatnya di Amerika Serikat, perjuangan seorang perempuan di ranah sepakbola juga harus berbenturan dengan stigma yang melekat yakni fitrahnya sebagai seorang ibu serta kariernya sebagai atlet profesional. Hal itulah yang dirasakan oleh Amy Rodriguez, peraih gelar juara Piala Dunia bersama Timnas Amerika Serikat.  

Amy yang pernah membela klub Kansas City harus berperan ganda. Ia mengasuh anak pertamanya serta menjaga kesehatan demi jabang bayi anak keduanya, selain itu ia juga fokus untuk mengejar kariernya sebagai pesepak bola profesional.

"Saya hamil anak kedua. Saya tidak bisa mengatakan apa-apa, apakah ini memang kami rencanakan atau tidak. Namun saya dan suami berpikir bahwa ini semua sudah rencana Tuhan maka kami harus senang menerimanya," kata Amy pada 2016 lalu.

Bahkan di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain di Eropa masih ada kesenjangan yang cukup lebar antara pemain laki-laki dengan perempuan dalam hal finansial. Beberapa tahun lalu, pesepak bola timnas Amerika Serikat atau yang lebih dikenal dengan sebutan USWTN (United States Women's National Team) menuntut federasi sepak bola Amerika Serikat, USSF (United State Soccer Federation) agar kesenjangan gaji pemain wanita dan lelaki tidak terlalu mencolok.

"Kami para pemain, menuntut federasi agar tidak ada kesenjangan upah yang terlalu mencolok antara pesepakbola perempuan dan lelaki," kata salah satu pemain timnas wanita Amerika Serikat, Shana Willeford seperti dikutip dari Daily Toreador.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2