Galih Prasetyo
Galih Prasetyo penulis lepas

priaibra.com | bomber.id | ayah pria ibra

Selanjutnya

Tutup

Bola

Kembali Menikmati Nonton Timnas di Warung Kopi

10 Oktober 2018   18:03 Diperbarui: 10 Oktober 2018   18:20 529 0 0

Hari ini, Rabu 10 Oktober 2018 seorang kawan lama mengajak untuk ditemani ke salah satu hotel yang berlokasi di Serang, Banten. Ada hal bisnis katanya. 

Waduh ikut nggak yah, kata hati saya, masalahnya hari ini saya sudah mempersiapkan diri buat menonton dua laga Timnas, Timnas U-19 vs Arab Saudi U-19 dan Timnas vs Myanmar. 

Wah bisa gak bisa nonton nih, apalagi jarak tempat tinggal saya ke lokasi yang dituju cukup jauh. Bisa 2-3 jam baru sampai ke lokasi kalau berangkat jam 1-an. 

Benar saja sampai ke lokasi jam sudah menunjukkan pukul 17:00, wah ketinggalan babak 1 Timnas U-19 nih pikir saya. Karena obrolan bisnisnya tak sampai 20 menit, buru-buru lah saya mencari warung kopi sekitaran hotel tempat pertemuan. Karena jujur saja, uang di dompet lebih bersahabat dengan kopi pinggir jalan. 

Beruntung ada warung kopi di depan hotel, setelah memesan langsung duduk manis menatap layar tv di letakkan rada ke atas. Tak perlu memintang mamang penjaga kopinya untuk mengganti channel, sudah ada pertanding Timnas U-19 dengan skor 1-2 untuk dinikmati. 

"Gol pertama tadi Saddil (Ramdhani)  yang nyetak," kata mamang warkop saat saya tanya siapa pencetak gol Timnas. 

Di warkop yang sederhana itu dengan tv 14 inch bukan hanya saya dan kawan yang menonton, ada beberapa orang lagi yang serius menyaksikan laga ini. 

Sambil menyeruput kopi panas dan mengunyah gorengan pisang dan bala-bala, semua yang menonton tampak tegang saat Saddil meliuk-liuk di depan gawang Arab Saudi. Teriakan terdengar nyaring saat di menit-menit akhir Timnas hampir saja mencetak gol setelah aksi Saddil lagi-lagi mengoyak lini belakang Arab Saudi. 

"Ah coba itu bola di umpan lambung. Kosong sebelah sananya itu, " komentar salah satu pengunjung. 

Mulailah perdebatan seru antar pengunjung warkop itu mengalir. Pembahasannya tak jauh-jauh, bukan soal hukuman ke Persib atau bobroknya PSSI, mereka cuma fokus sama permainan Timnas U-19 di sore ini. 

Analisisnya pun sederhana, tak banyak mengeluarkan istilah-istilah berat layaknya para pundit di layar kaca. Suasana dan keseruan macam ini memang sudah lama saya ingin rasakan.

Kembali bergaul dengan masyarakar akar rumput yang tak mau tahu tuh ada tagar #MyanmarDay di Twitter sebagai bentuk protes sejumlah suporter ke PSSI atau tweet war antar suporter karena urusan klub. 

Masyarakat cuma tahu menikmati hiburan ini dengan cara sederhana. Gembira saat Timnas mencetak gol dan menang, menggerutu sendiri saat Timnas kalah. Reaksi wajar yang lazimnya ditunjukkan seorang penonton bola. 

Setelah laga usai, kami kembali ke aktifitas masing-masing, tak ada menggerutu berlebihan. Si penjaga warkop kembali melayani pembeli yang memesan kopi, sementara saya bersama kawan harus kembali melawan kejamnya arus pulang kaum pekerja.