Mohon tunggu...
Didi Irawan
Didi Irawan Mohon Tunggu... Marginal

Begitulah titahnya kehidupan..terus bergerak dan berjalan dalam aneka cita rasa warna hingga akhirnya janji sang pengabdi

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Pertemuan Prabowo Jokowi: Yang Tersisa dari Cebong dan Kampret, Kebenaran Punya Jalannya Sendiri

14 Juli 2019   03:53 Diperbarui: 15 Juli 2019   07:28 0 0 0 Mohon Tunggu...
Pertemuan Prabowo Jokowi: Yang Tersisa dari Cebong dan Kampret, Kebenaran Punya Jalannya Sendiri
hidup-adalah-pilihan-5d2a441f0d82300a1e7fd1a2.jpg

peterturchin.com

Pertemuan Prabowo dan Jokowi kemarin (13/07/2019) di stasiun MRT Lebak Bulus Jakarta mendapat sorotan luar biasa baik bagi pendukung Prabowo ataupun bagi pendukung Jokowi, media-media mainstream pun ramai menjadikannya headlines. Betapa tidak, serangkaian peristiwa semenjak tahapan pemilihan Presiden 2019 sempat menimbulkan ketegangan dan tendensi politik tinggi pada kedua kubu baik ditingkat elit maupun akar rumput. Sebut saja puncaknya kericuhan pada demonstrasi pasca keputusan KPU yang terdapat korban jiwa, dan bahkan sampai digelarnya sidang MK kubu pro Prabowo tetap menarasikan adanya dugaan kecurangan pada Pilpres 2019.

Pertemuan yang terjadi kemarin tentu sesuatu yang diluar dugaan khususnya bagi mereka yang selama ini loyal ke Prabowo. Sebagian besar kecewa, yang ditunjukkan melalui komentar dan status dimedia-media social. Timbul tenggelam bersama rakyat dan tidak akan menghianati pendukungnya yang dielu-elukan Prabowo selama ini terlanjur menjadi spirit sebuah simbol perlawanan. Pasca keputusan Mahkamah Konstitusi yang memenangkan Jokowi pun, tagar  #Yang Curang Takkan Tenang# sempat trending topic ditwiter merupakan bentuk militansi mereka.

Lain halnya bagi sebagian pendukung Jokowi, pertemuan kedua tokoh bangsa tersebut dianggap sebagai momentum baik untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan anak bangsa setelah proses pemilihan Presiden. Menatap kedepan untuk memajukan Indonesia.

Sesederhana itu saja?? Jika demikian adanya tentu ada hal yang menggelitik..

Akan muncul reaksi beragam, tapi pilihan untuk lebih bersegera move on lebih baik.

Berkehidupan memang kadang ada saatnya dihadapkan pada situasi dan keadaan yang memaksa untuk berbuat dan tidak berbuat, yang walaupun dengan memilih pasif pun dianggap melakukan perbuatan atas tanggung jawab peran. Tetaplah semangat berpihak pada kebenaran, ia tak bertuan dan tetap universal dari sisi manapun memandangnya. Semakin matang proses uji atas pendapat kebenaran, akan menjadi kebenaran hakiki.Ada yang yakin kehidupan akhirat..ada yang menyakini karma, teruslah berproses karena kebenaran punya jalannya sendiri.

Salam Santun