Mohon tunggu...
Indah Novita
Indah Novita Mohon Tunggu... Hobi menulis dan membaca.

Perempuan Jawa yang tinggal di Makassar, mencintai dunia tulis-menulis, PNS, ibu empat anak, bersuamikan lelaki Bugis. Hidup adalah tak lelah belajar sesuatu yang baru, dan belajar tak harus di bangku sekolah. Karena pelajaran termahal adalah belajar di ruang kehidupan.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Supaya Saling Memaafkan Tidak Menjadi Ajang Basa-Basi

13 Mei 2021   00:55 Diperbarui: 13 Mei 2021   16:07 1842 26 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Supaya Saling Memaafkan Tidak Menjadi Ajang Basa-Basi
Jabat tangan, simbol saling memaafkan zaman dulu. Sumber: Shutterstock/Supawadee56 via Kompas

Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia tidak dapat hidup sendiri. Ia selalu memerlukan orang lain. Selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam interaksinya dengan orang lain, terkadang timbul kesalahpahaman, kemudian muncul luka hati.

Siapa yang tidak pernah disakiti? Sebaliknya, siapa yang tidak pernah menyakiti? Jika ada yang mengaku tidak pernah untuk dua pertanyaan saya tersebut, saya salut. Berarti orangnya sangat sabar, atau sebaliknya - bisa jadi sangat cuek.

Disakiti dan menyakiti

Kita pasti pernah berinteraksi dengan orang yang berlidah tajam. Kata-katanya sering kasar. Mungkin kadang ia tidak sadar. Namun karena lingkungan dan prinsip yang berbeda, maka kata-katanya sering menyakitkan bagi orang yang tak paham. Orang yang mendengar kata-katanya terluka (merasa disakiti), sedang dia sendiri tak merasa menyakiti.

Sebaliknya mungkin kata-kata kita menyakiti orang lain tanpa kita sadari. Karena standar masing-masing orang berbeda, bisa jadi apa yang kita anggap biasa, menjadi luar biasa di telinga orang lain. Maka diam adalah emas, itu sejatinya benar sekali. Daripada ngoceh ke sana ke mari ... mungkin lebih baik kita banyak diam. Mengontrol kata dan perbuatan kita, agar tidak lepas kendali. Jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang akan kita sesali.

Memaafkan dan dimaafkan

Jabat tangan, simbol saling memaafkan zaman dulu.  (Sumber: Kindel Media/Pexels)
Jabat tangan, simbol saling memaafkan zaman dulu.  (Sumber: Kindel Media/Pexels)

Sering kita mendengar orang berkata, ya aku sudah memaafkan tapi aku tak melupakan. Memang susah melupakan kata-kata atau perbuatan seseorang yang telah melukai kita. Ibarat dilukai dengan pedang, lukanya boleh jadi sembuh - namun bekas lukanya masih sering terasa nyeri. Ustadzah Aisyah Dahlan dalam sebuah ceramahnya memberikan tips bagaimana memaafkan dengan tulus hingga akhirnya kita dapat benar-benar melupakan peristiwa menyakitkan yang membekas dalam ingatan.

Begini tipsnya, kita harus berkontemplasi, mengingat perbuatan menyakitkan yang pernah dilakukan si A pada kita. Kita bayangkan wajah si A berada di depan kita. Lalu kita mengatakan, ya Allah ... saya memaafkan A atas perbuatannya kemarin bla bla bla - perbuatannya itu kita sebutkan. Bilang sama Allah kita sudah ridho dan ingin memaafkan dengan tulus. InsyaAllah dengan persuasi yang kita lakukan pada diri kita sendiri, perlahan kita bisa benar-benar memaafkan kesalahan seseorang kepada kita.

Bagaimana jika kita ada pada posisi yang punya salah? Kita pasti ingin dimaafkan, bukan? Kita akan cemas dan tidak bisa tidur jika belum menerima kata maaf dari orang yang kita sakiti. Maka jika ingin dimaafkan, kita juga harus ringan memaafkan kesalahan orang lain pada kita.

Lebaran, momen saling memaafkan

Lebaran merupakan salah satu momen saling memaafkan secara nasional, bahkan mungkin dunia. Keluarga saya pun memanfaatkan momen ini setiap tahunnya untuk saling memaafkan. Biasanya setelah salat ied, saya akan minta maaf pada suami, sungkem mohon maaf atas semua kesalahan saya. 

Suami biasanya menjawab, sama-sama ya, aku juga minta maaf. Lalu bergiliran anak-anak dari yang paling tua hingga yang muda saling minta maaf secara berturutan. Biasanya endingnya anak-anak eyel-eyelan sendiri karena ada yang tidak mau cium tangan kakaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN