Mohon tunggu...
Indah Irawanti
Indah Irawanti Mohon Tunggu... Pencari Ilmu

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Relevansi Adab dan Ilmu

3 Mei 2020   23:12 Diperbarui: 3 Mei 2020   23:02 106 0 0 Mohon Tunggu...

Saya pernah bertanya kepada beberapa teman saya, "Mana yang lebih dahulu ilmu atau adab?" Dari beberapa orang teman yang saya tanyakan untuk berdiskusi, keseluruhan dari mereka menjawab adab. 

Seperti sebuah maqalah yang berbunyi : Al-adabu fauqa al-'ilmi (adab di atas ilmu). Jika dilihat dari praktik kedua hal tersebut, sudah pasti banyak dari kalangan kita yang berpendapat bahwa adab lah yang jauh lebih utama daripada ilmu. Mengapa demikian? Karena baik buruk seseorang sudah pasti yang lebih dahulu dilihat adalah adabnya bukan ilmunya.


Lantas apakah ini tanda bahwa kemuliaan orang yang beradab lebih utama dibandingkan orang yang berilmu? Padahal cukup banyak firman Allah yang meminta agar manusia menggunakan akalnya dengan sebaik mungkin supaya mampu melihat kejadian-kejadian yang terjadi di alam semesta ini. Posisi antara adab dan ilmu  harus dijelaskan secara masing-masing, agar tidak terjadi benturan antara posisi adab sebagai suatu bentuk perilaku dengan ilmu sebagai suatu hasil dari akal. 

Pertama-tama saya akan membahas sedikit menegnai pentingnya adab. Penjelasan pentingnya adab cukup banyak diungkapkan dalam riwayat-riwayat ulama terdahulu, misalnya :
Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) rahimahu--Llah, menyatakan, bahwa belajar adab itu artinya mengambil akhlak yang mulia [Lihat, Ibn Hajar, Fath al-Bari, Juz X/400]. Begitu pentingnya belajar adab itu, sampai Sufyan at-Tsauri (w. 161 H) mengatakan, "Ketika seseorang ingin menulis hadits, maka dia terlebih dulu belajar adab, dan ibadah, dua puluh tahun, sebelumnya (menulis hadits)." [Abu Nu'aim, Hilyatu al-Auliya', Juz VI/361].
Kemudian, Ibn Mubarak pun menyampaikan pendapat yang serupa, "Makhlad bin al-Husain berkata kepadaku, "Kami lebih membutuhkan banyak adab, ketimbang kebutuhan kami akan banyak hadits." [al-Khathib al-Baghdadi, al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi, Juz I/80].  Dalam  kitab yang sama Ibn Mubarak (w. 181 H),juga  menyatakan:
"Siapa saja yang meremehkan adab, maka dia akan disiksa dengan kekurangan akan [amalan] sunah. Siapa saja yang meremehkan amalan sunah, maka dia akan disiksa dengan kekurangan akan [amalan] fardhu. Siapa saja yang meremehkan amalah fardhu, maka dia akan disiksa dengan kekurangan akan makrifat." [al-Khathib al-Baghdadi, al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi, Juz I/80].

Dari beberapa pendapat ulama diatas sudah terlihat jelas bagaimana lebih pentingnya adab dibandingkan ilmu. Namun, jika muncul kembali sebuah pertanyaan mengenai bagaimana seseorang bisa beradab jika tidak dengan belajar? Kata belajar disini sudah pasti berhubungan dengan ilmu, jika ditelaah secara logika dapat muncul kembali sebuah pemikiran, bahwa ilmu yang membuat seseorang itu beradab. Mengapa demikian?
Karena, dalam proses seseorang untuk memperoleh adab yang baik, orang tersebut harus berproses dalam pembelajaran ilmu, karena adab itu datang dari dua aspek, yang pertama adab didapat secara langsung dari Allah SWT, yang mana adab ini memang murni pemberian Allah SWT. Kedua, adab yang didapatkan karena belajar. Jika kita ambil dari aspek yang kedua maka jelas bahwa adab didapatkan karena seseorang mempelajarinya, mempelajari ilmu tentang adab.


Sebagai contoh, beberapa ulama terdahulu yang mempelajari ilmu tentang adab, Muhammad bin Sirin [w. 110 H] menceritakan karakteristik Tabiin, "Mereka itu mempelajari tuntunan hidup [adab], sebagaimana mereka mempelajari ilmu." [al-Khathib al-Baghdadi, al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi, Juz I/79].
Imam Malik bin Anas [w. 179 H] pernah menyatakan kepada seorang pemuda Quraisy, "Wahai putra saudaraku, pelajarilah adab, sebelum kamu belajar ilmu." [Abu Nu'aim, Hilyatu al-Auliya', Juz VI/330]. Beliau juga menyatakan, "Hak yang menjadi kewajiban bagi siapa yang menuntut ilmu, agar dia memiliki penghormatan, ketenangan, dan rasa takut [kepada Allah]. Hendaknya dia juga mengikuti jejak orang-orang sebelumnya." [al-Khathib al-Baghdadi, al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi, Juz I/156].
Jika dilihat dari bebrapa riwayat tersebut, sudah sangat jelas bahwa ulama terdahulu juga sangat mengutamakan ilmu, yaitu ilmu tentang adab yang mereka pelajari dari guru-guru mereka, untuk dapat memperbaiki dan menyempurnakan adab mereka. Barulah setelah itu mereka mempelajari ilmu-ilmu selain ilmu adab.


Sejatinya adab dan ilmu merupakan dua hal yang tidak bisa dibandingkan, karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, kedua hal tersebut memiliki relevansi yang kuat. Jika diibaratkan sebagai sebuah pohon, maka ilmu adalah benihnya dan adab adalah buahnya, yaitu hasil daripada ilmu. Sehingga adab dan ilmu tidak seharusnya untuk dibandingkan, karena keduanya memiliki perannya masing-masing.
Posisi ilmu dan adab tidak bisa dibenturkan, jika tetap ingin mempertemukan keduanya maka kita harus mencari jalan untuk keduanya agar dapat bertemu. Hal ini akan sulit untuk dilakukan, karena kenyataannya ilmu dan adab memiliki keterikatan, namun tidak dijalur yang sama.


Dalam hal ini saya dapat menyimpulkan, bahwa ilmu dan adab adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Jadi sudah seharusnya kita sebagai manusia, terutama sebagai seorang muslim mampu untuk menyeimbangkan keduanya, sehingga kita tak perlu lagi untuk membandingkan keduanya. Prinsip benih dan pohon inilah yang harus kita terapkan dalam kehidupan, kita harus menanam benih dengan sebaik mungkin agar memperoleh buah yang baik. Jika masih banyak orang yang memiliki ilmu yang tinggi namun tidak beradab, maka sudah sangat jelas bahwa benih yang mereka tanam hanya menjadi pohon yang besar dan menjulang tinggi, namun tidak menghasilkan buah yang baik.
Wallahu a`lam bis-Shawab....

VIDEO PILIHAN