Mohon tunggu...
Inayanti AnggraeniJuanda
Inayanti AnggraeniJuanda Mohon Tunggu... Guru - inayaj
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Manusia biasa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Harapan yang Tak Sampai

18 Oktober 2021   21:13 Diperbarui: 18 Oktober 2021   21:31 61 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dia adalah salah satu siswi lulusan SMA Negeri 1, merupakan salah satu sekolah paling favorit di daerah itu. Dia bukan asli dari daerah lokasi sekolah tersebut, dia hanyalah pendatang dari kecamatan sebelah dan tinggal di pesantren karena jarak rumahnya ke sekolah sangatlah jauh. Di sekolah, dia sempat menjadi salah satu murid yang paling dikenal oleh para guru karena prestasinya yang selalu gemilang. Dia kira dengan prestasinya yang gemilang itu akan membawanya menuju pintu gerbang kesuksesan tapi ternyata ahh..sudahlah.

Di pertengahan tahun 2014, dia berniat ingin melanjutkan studi ke salah satu PTN yang telah ia dambakan dari dulu melalui jalur beasiswa. Dia berusaha untuk terus belajar dan belajar, setelah itu mendaftarkan diri ke salah satu PTN tetapi hasilnya nihil. Dia sempat kecewa dengan itu semua, karena itu adalah impiannya untuk bisa mengenyam bangku kuliah demi membahagiakan ke dua orangtuanya. Setelah dipikir-pikir kembali ia pun menerima ketidaklulusan di PTN itu yang telah  diimpikan dari dulu.

Berbulan-bulan ia lewati, ia terus mencari sebuah pekerjaan demi menjalani hidup yang sebenarnya dengan bermodalkan selembar ijazah SMA. Dimulai dari melamar ke salah satu toko elektronik, lalu ke Alfamart tetapi hasilnya tak kunjung berbuah hasil juga. Ia sempat mengeluh dengan keadaan itu akibat keinginannya untuk kuliah malah tidak lulus lalu melamar pekerjaan pun tidak membuahkan hasil.

Akhirnya, ia pun sempat menganggur selama dua bulan sambil mencari-cari informasi lowongan kerja yang lain. Tidak lama kemudian  ada rekannya yang memberikan informasi lowongan kerja di Mega Proyek Bendungan Cisokan. Di dalam informasi lowongan tersebut sedang membutuhkan karyawan. Berhubung lokasi tempat kerjanya dekat dengan rumahnya, dengan semangatnya ia pun mencoba-coba memasukkan lamaran ke proyek tersebut hingga akhirnya ia pun diterima menjadi bagian karyawan Mega Proyek Bendungan Cisokan.

Dengan bersenang hati, ia pun mulai memasuki dunia pekerjaan. Lama-lama muncullah tekanan serta beban yang harus dikerjakan, mulai dari merekap dan membuat beberapa laporan pekerjaan, namun ia tetap bersemangat ketika ingat kedua orangtuanya yang sudah memperjuangkan dirinya sampai bisa berada di posisi ini. Saat itu, ia pun diajak oleh pegawai lain untuk ikut kerja ke luar lapangan yaitu untuk memantau proyek pembuatan jalan menuju arah Bendungan Cisokan yang sedang dibangun semenjak tahun 2013. Ia pun mengiyakan ajakan itu, dengan menunggangi mobil trail 4x4 menjelajahi perbukitan lalu melewati jurang-jurang di sisi kanan dan kirinya, dan melihat hewan-hewan langka membuat dirinya seakan sedang menjalani sebuah petualangan yang sangat menakjubkan. Tak pernah ia melihat sebelumnya sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan itu, dengan sepatu bootnya ia pun segera melompat turun dari mobil. Ia mengambil kamera dari saku kecilnya lalu memotret seluruh pemandangan yang ada dihadapannya. Sungguh perjalanan saat itu adalah pengalaman perjalanan serta penjelajahan yang sangat luar biasa baginya.

Sudah satu tahun ia lewati tepatnya dari akhir tahun 2014 sampai akhir 2015 menjadi salah satu bagian keluarga Mega Proyek Bendungan Cisokan. Suka dan duka ia lewati di dalam mengampu pekerjaan yang begitu banyaknya hingga tak membuat dirinya mengeluh, ia terus berusaha untuk menjadi manusia yang mandiri dan tidak mau menjadi beban bagi ke dua orangtuanya lagi. Itulah karakter yang ia miliki, kerja kerasnya sangatlah luar biasa.

 Tepat di awal tahun 2016, ia mengeluh merasakan ada yang sakit dibagian tubuhnya. Ia meringgis kesakitan dibagian ke dua kakinya, hingga tak lama kemudian kakinya membengkak. Setelah kakinya membengkak, lalu wajahnya menghitam dan bengkak. Selain itu frekuensi buang air besar pun menjadi lebih sering, sehari bisa sampai 6 kali. Akhirnya ia pun jatuh sakit parah. Kedua orangtuanya pun panik, hingga akhirnya inisiatif dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Setelah diperiksa oleh dokter, ia pun divonis memiliki penyakit gagal ginjal. Akhirnya, ia pun hanya bisa meneteskan air mata karena tidak menyangka dan berkata bahwa ia tidak mau sakit dan ingin sembuh seperti biasanya. Kedua orangtuanya pun hanya bisa berkata untuk terus bersabar dan ikhlas karena penyakit yang ia hadapi sangatlah berat dan bisa berujung kematian.

Dua minggu ia menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya ia pun diperbolehkan untuk pulang oleh dokter karena kondisinya sudah mulai membaik. Sesaat di rumah, ia hanya bisa berbaring. Berdiri pun hanya sedikit-sedikit karena keduakakinya masih sakit ketika dipakai untuk menopang tubuhnya apalagi berjalan. Saat itu ia hanya terus meringgis kesakitan, merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Tak lama kemudian, keduakakinya malah semakin bengkak dan perutnya pun membesar. Rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi, bukan meringgis lagi yang ia lakukan melainkan tangisan. Keduaorangtuanya pun menangis serta panik ketika melihat kondisi anaknya yang mendadak semakin parah. Akhirnya ia pun dirujuk ke rumah sakit besar yang ada di salah satu pusat kota.

Selama satu bulan ia menjalani perawatan, hatinya pun semakin hancur ketika dokter menganjurkan untuk melakukan cuci darah. Sebegitu parahkah penyakit yang ia alami dan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Seakan petir menyambar ke dalam dirinya ketika penyakit yang ia idap sangatlah parah. 

Karena tak sanggup lagi dengan keadaan, akhirnya ia pun meminta untuk pulang saja ke rumah agar ke dua orangtua dan saudaranya saja yang merawat sebisa mungkin. Dengan penuh keyakinan bahwa ia suatu saat akan sembuh dan berharap bisa bekerja lagi seperti biasanya, akhirnya ia pun diperbolehkan untuk pulang. Namun ternyata ekspektasi yang telah ia duga sebelumnya betul-betul tidak menjadi kenyataan.

Penyakit yang ia derita malah semakin parah, hingga membuatnya tidak bisa apa-apa. Hanya bisa terbaring dengan lemah, bangun pun harus ada yang membangunkan. Setiap harinya hanya sakit dan sakit yang ia rasakan, sampai-sampai tak sadarkan diri, muntah darah, dan kejang-kejang. Pada saat itu, ia selalu berkata kepada orangtuanya bahwa ia sudah tidak sanggup lagi untuk hidup dan meminta kepada semuanya untuk ikhlas dengan kepergiannya. Dengan tangisan dan berat hati, orangtuanya pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Hingga akhirnya tepat di tanggal 26  November 2016 ia pun menghembuskan nafas terakhir. Sontak semuanya menangis atas kepergian dirinya untuk selama-lamanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan