Mohon tunggu...
Ina Purmini
Ina Purmini Mohon Tunggu... Lainnya - IRT dan PNS

Bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pacaran Sehat, Adakah?

12 November 2022   00:23 Diperbarui: 12 November 2022   00:25 241
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(foto: freepik.com)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pacaran adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan batin berdasarkan cinta kasih. Berpacaran adalah bercintaan, berkasih-kasihan dengan sang pacar, sedangkan memacari adalah mengencani menjadikan dia sebagai pacar. Sementara bercinta memiliki 3 arti yaitu 1. menaruh (rasa) cinta, 2. bersanggama dan 3. bersetubuh.

Jika ditilik dari makna pacaran di atas, mestinya sangat dimungkinkan pacaran yang sehat. Terlebih jika arti kata bercinta kita ambil dari makna yang pertama yaitu menaruh (rasa) cinta. 

Namun demikian, di masa kini dengan  perkembangan teknologi yang semakin pesat,  informasi  dapat diakses dengan mudah, mengakibatkan anak-anak dapat menonton konten-konten dewasa yang tidak mendidik, bahkan dapat menimbulkan dampak negatif seperti kecanduan. Inilah yang perlu diwaspadai bersama, menjaga anak-anak agar tidak terpapar konten negatif sehingga ketika memasuki masa pubertas dapat menjalin hubungan antar teman, sahabat, bahkan pacar dengan sehat.  

Saya mempunyai pengalaman dengan anak laki-laki saya, yang sebenarnya sudah saya ingatkan untuk tidak pacaran saja selama sekolah dan kuliah. Sebaiknya pacaran pada saat sudah kerja, mengapa? Sebab banyak contoh kasus ketika pacaran di masa sekolah atau kuliah, kemudian lulus dan mencari pekerjaan masing-masing akhirnya pisah kota karena memperoleh pekerjaan di beda kota. 

Dan jika kemudian memutuskan menikah, tentu salah satu harus mengalah pindah dan meninggalkan pekerjaannya. Atau bisa juga masing-masing tetap bekerja, tetapi harus menjalani kehidupan pernikahan beda kota. Sebuah keputusan yang cukup sulit, sebab idealnya, enaknya setelah menikah ya hidup serumah bersama dan masing-masing masih bisa tetap bekerja mengaktualisasikan diri.

Namun karena rasa cinta dan kasih sayang kepada seseorang tak bisa dicegah kapan dan kepada siapa, anak saya pacaran sejak SMA dan sampai sekarang saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi di beda kota, hubungan masih terjalin dengan baik. Dulu saat masih SMA banyak hal saya lakukan dalam rangka mengawal agar menjalin hubungan yang sehat, pacarannya tidak boleh melanggar syari'at agama.

Berikut ini beberapa hal yang saya lakukan dalam rangka mengawal agar gaya pacaran tetap baik-baik saja, pacaran sehat yang tidak melanggar syari'at :

1. Menjalin komunikasi yang akrab dengan anak

Bagi saya komunikasi adalah kunci. Saya terbiasa bertanya, ngobrol, bercanda tentang kegiatan apa saja yang dilakukan di sekolah, dengan teman-temannya, dengan kegiatan ekskulnya dan hal-hal lain. 

Kami juga sering melewatkan hari libur bersama-sama. Dengan komunikasi yang akrab, bisa menjadi sahabat, anak tidak akan sungkan untuk bercerita, sehingga ketika ada hal-hal yang aneh atau dia ada masalah dapat segera terselesaikan. Bahkan saya juga terbiasa menanyakan bagaimana kabar si Cinta pacarnya, dan diapun bercerita jujur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun