Mohon tunggu...
Ina Purmini
Ina Purmini Mohon Tunggu... IRT dan PNS

Bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Ucapanmu, Bisa Meluluhlantakkan Negeri Ini

28 Mei 2019   13:14 Diperbarui: 28 Mei 2019   13:34 183 2 2 Mohon Tunggu...
Ucapanmu, Bisa Meluluhlantakkan Negeri Ini
(foto : liputan6.com)

Seorang pemimpin sebagaimana yang dikatakan Ki Hajar Dewantara haruslah bersikap, "Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" atau terjemahan bebasnya adalah "Di depan memberi contoh, di tengah memberikan semangat, di belakang memberikan dorongan".

Siapakah para pemimpin? Menurut KBBI Pemimpin adalah orang yang memimpin. Pengertian yang sangat luas, dimana siapapun yang memimpin disebut sebagai pemimpin, tentu termasuk para petinggi Parpol yang banyak tergabung dalam timses Capres Cawapres dalam Pemilu 2019 yang baru lalu.

Seorang pemimpin idealnya berperilaku sebagaimana dikatakan Ki Hajar Dewantara di atas, bisa menjadi contoh, menjadi penyemangat dan juga pendorong bagi yang dipimpinnya dalam rangka mencapai tujuan organisasi/tujuan bersama untuk kebaikan semua.

Melihat hari-hari terakhir ini, terkait dengan pesta demokrasi dalam Pemilu 2019, banyak pemimpin (Parpol, Timses) yang telah berperan penting dalam memberi contoh, memberi semangat dan mendorong para pendukungnya/orang-orang yang dipimpinnya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sayangnya, tidak semua yang dilakukan pemimpin, ucapannya, perilakunya memberikan dampak positif bagi organisasi dan kebaikan negeri ini.

Ketika seorang pemimpin menyerukan, mengajak unjuk rasa, people power, tidak menyerah/menolak hasil yang sudah ditetapkan, menilai suatu institusi tidak independen/melakukan kecurangan, berjuang sampai tetes darah penghabisan, maka akan disambut dengan penuh semangat, gegap gempita para pendukung/orang-orang yang dipimpinnya. Dan demikianlah seorang pemimpin yang berhasil, bisa mempengaruhi, memberi semangat dan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya.

Namun ada yang dilupakan pemimpin semacam ini, yaitu melupakan kepentingan yang lebih besar, kebaikan yang lebih besar yaitu kepentingan bangsa dan negara. Pemimpin ini lebih mementingkan kelompoknya saja, kemenangan kelompoknya. Dengan ucapannya mengajak people power, menolak hasil yang telah ditetapkan secara konstitusional, tanpa memperhitungkan dampak yang akan ditimbulkan, pemimpin seperti ini hampir meluluhlantakkan negeri ini. 

Untunglah TNI dan Polri sigap mengantisipasi, menjaga, mengawal unjuk rasa tanggal 21-22 Mei 2019. Meski terjadi kerusuhan, namun Polri bisa mengatasinya dan mengungkap pihak-pihak yang terlibat. Bayangkan jika TNI Polri tidak profesional, skala kerusuhan bisa jadi membesar, meluas dan bisa meluluhtantakkan (lagi) negeri ini seperti Mei 1998 lalu.

Berkaca pada peristiwa di atas, untuk yang terhormat para pemimpin bangsa ini, untuk bisa menahan diri, mengendalikan diri, mengendalikan nafsu kuasa, nafsu mementingkan kelompoknya tanpa memperhatikan kepentingan yang lebih besar, kepentingan bangsa dan negara. Wahai para pemimpin, jaga ucapanmu, karena ucapanmu bisa membakar semangat anak buahmu, bisa membuatnya berbuat anarkis. Sadarilah wahai para pemimpin, ucapanmu bisa meluluhlantakkan negeri ini, jaga mulutmu, karena mulutmu harimaumu.

VIDEO PILIHAN