Mohon tunggu...
Inayatun Najikah
Inayatun Najikah Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis Lepas, Pecinta Buku

Belajar menulis dan Membaca berbagai hal

Selanjutnya

Tutup

Diary

Menunaikan Rindu

31 Agustus 2022   23:06 Diperbarui: 31 Agustus 2022   23:09 85 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Akhirnya hari yang saya tunggu telah tiba. Hari dimana saya bisa melepas rindu dengan dia, laki-laki spesial yang telah membuat hari-hari saya penuh dengan bahagia. Kami sedang menjalani LDR (Long Distance Relationship) selama tiga hari. Saya dengannya terpisahkan oleh sebuah pekerjaan.

Meski jarak dan waktu telah memisahkan, tapi kami mencoba untuk senantiasa dekat. Terbukti kami saling memberikan kabar secara rutin. Bagi saya, tiga hari adalah waktu yang cukup lama. Sebelumnya, dia telah mengatakan bahwa kami akan bertemu di hari keempat. Katakanlah ia pergi dihari kamis, maka senin ia berjanji akan pulang. Tentu saya merasa bahagia dengan ucapannya itu. Bertemu setelah berpisah rasa rindunya akan lebih berasa.

Namun pertemuan ini diwarnai dengan  bahagia dan juga ada rasa khawatir. Meski sebelum hari kita bertemu, dia telah berpesan untuk dibawakan makanan kesukaannya juga, pindang sambal kemangi. Saya sempat menawarkan menu lain, namun ia tak mau. Rupanya dia rindu bukan hanya dengan saya, tapi juga masakan ala saya. Tentu saya bahagia dengan hal itu. Makanan buatan saya telah membuatnya candu. 

Alih-alih bahagia karena hari itu telah tiba, satu sisi saya merasa khawatir. Pagi itu dia mengabari bahwa dirinya hendak pulang terlebih dahulu daripada teman-temannya yang lain. Dia ada pekerjaan yang harus diselesaikan dikota ini. Saya sempat menegurnya. Karena saya tak mau dia capek dan tiba-tiba jatuh sakit sebab harus mondar mandir untuk menyelesaikan pekerjaan. Tak hanya itu, saya sempat memberikan bantuan untuk menyelesaikan pekerjaannya disini, namun dia menolak. Sebab memang dia sendiri yang harus menyelesaikannya. 

Tentu saya ingin marah sebab dia tetap keras kepala. Namun setelah sejenak berpikir, saya menyadari bahwa memaksakan kehendak bukanlah arti sebuah cinta. Cinta tak bisa dipaksa atau memaksa. Cinta itu memberikan kebebasan pada orang yang dicintai. Saya tak perlu membuktikan cinta saya hanya dengan terlalu khawatir pada keadaannya. Karena saya tau dengan membiarkannya menjadi dirinya sendiri, itulah bukti saya cinta kepadanya. Dan rindu ini telah lunas terbayarkan. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan