Mohon tunggu...
Immanuel Lubis
Immanuel Lubis Mohon Tunggu...

| Author of "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" | Writer |

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Kisah Abu Karim

5 November 2015   16:17 Diperbarui: 5 November 2015   16:43 170 1 1 Mohon Tunggu...

Dokumentasi pribadi.

 Dahulu kala, hiduplah seorang musafir. Musafir ini hidupnya selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Ia tak pernah menetap di suatu daerah untuk jangka waktu yang lama. Kali ini, ia sudah berada di sebuah kota kecil di daerah Persia.

Kota yang ia datangi itu benar-benar kecil. Tak banyak orang yang mengetahui keberadaan kota ini. Hanya segelintir orang saja yang tahu. Itu pun kebanyakan merupakan para buronan atau mantan penjahat. Yah kota itu masih bisa bertahan, salah satunya karena itu. Perdagangan yang dilakukan juga perdagangan gelap.

Karena lelah setelah seharian mengembara di gurun pasir, si musafir itu masuk ke sebuah kedai. Saat berada di dalamnya ia harus mengernyitkan hidungnya, karena bau di dalamnya sungguh tak sedap di hidung. Situasinya juga lumayan ramai. Segera saja, ia hampiri pelayannya dan memesan minuman.

Minumannya pun datang. Ia langsung menyeruput minumannya, yaitu segelas anggur. Sambil minum anggur tersebut, ia melihat ke sekelilingnya. Sepertinya nyaris semua yang ada di dalam kafe itu merupakan para penjahat. Kebanyakan dari  para pengunjung bertampang sangar. Hal itu bisa dilihat dari bekas luka yang ada di muka atau anggota tubuh mereka.

Dari rata-rata pengunjung yang ia temui, ada satu pengunjung yang menarik perhatiannya. Pengunjung ini  masih bocah. Ia bisa memperkirakan usia bocah itu masih di bawah sebelas tahun. Mengapa bocah itu bisa berada di tempat seperti ini? Sambil minum anggur pula.

Karena penasaran, ia datangi meja bocah itu. Kebetulan bocah itu sedang duduk sendirian. Saat ia hampiri, wajah bocah itu datar.

“Hei, Nak!” sapa Sang Musafir tersenyum.

Bocah itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum.

“Siapa namamu? Dan mengapa kamu bisa ada di tempat ini?” tanya Sang Musafir.  "Tempat ini bukan tempat yang baik untuk anak seusiamu.”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
5 November 2015