Mohon tunggu...
Immanuel Lubis
Immanuel Lubis Mohon Tunggu...

| Author of "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" | Writer |

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

[Fiksi Penggemar RTC] Di Tengah-tengah Elf dan Wota

8 September 2015   15:34 Diperbarui: 9 September 2015   06:45 142 5 5 Mohon Tunggu...

Ya ampun. Indonesia di musim kemarau saja sudah panas sekali. Eh sekarang jadi semakin panas di dalam KRL ini. AC-nya sih jalan. Tapi tetap aku kepanasan. Bukan, bukan karena udara panas di luar--entah bagaimana caranya--menyusup ke dalam KRL. Mesin pendinginnya juga tak rusak. Kan sudah kubilang tadi, mesinnya bekerja sempurna. Yang bikin panas itu...

...dua orang di samping kiri dan kananku.

Yang sebelah kiri, seorang elf. Bukan, dia masih manusia biasa kok. Maksudku elf itu... si cewek ini penggemar boyband Super Junior asal Korea Selatan tersebut. Sepuluh--eh lebih--lagu SuJu telah dia hapal mampus. Aku tak tahu bagaimana jalannya, cara pelafalan Korea-nya sudah sefasih orang Korea tulen. Wow, sembah sujud ke orang itu! Padahal aku saja yang seorang mahasiswa di jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea saja ngos-ngosan melafalkan Hangeul. Atau jangan-jangan cewek hitam manis berambut panjang ini sejatinya berdarah Korea? Siapa juga yang tahu kan? 

Berikutnya,...

..eh lupa. Aku lupa memberitahukan nama si cewek. Si cewek itu bernama Yussy.

Oke kita lanjutkan.

Berikutnya, di samping kananku, duduklah seorang cowok putih bergaya rambut ala anak boyband. Dari penampilannya pun mendukung. Tapi ternyata bukan.  Coba kalian perhatikan pernak-pernik di tasnya. Ada tulisan apa? Lihat saja pin itu. JKT48, AKB48, NMB48. Lengkap dengan wajah-wajah jelita member demi member. Bahkan lebih menjijikan lagi, si cowok berani memasang pin bertuliskan 'I Love Shania Junianatha: Proud to be Shanjunisme'. Siapa itu Shania Junianatha? Au ah gelap, nama salah satu member-nya mungkin. Aku juga bukan JKT48, AKB48, maupun NMB48. Dan, kebalikan dari si cewek, si cowok ini sudah seperti Jepang tulen saja. Dulu aku ikut ekstrakurikuler bahasa Jepang saja, mati-matian menghapal kanji demi kanji. Tapi gila si cowok ini. Kanji tersulit pun dia bisa baca. Sembah sujud ke cowok bernama Wilkie ini.

Dan, kini, baik Yussy maupun Wilkie heboh menyanjung-nyanjung grup musik favorit mereka. Ketika Yussy bilang, "Ih apaan sih tuh AKB48 itu? Bikin sesak panggung saja. Lebih baik juga Super Junior. Cuma sembilan yang tampil. Dance-nya lebih oke dari ekebi-ekebi itu." Maka Wilkie langsung menyemprotnya, "Idih. Cowok kok hobi nge-dance? Gemulai kali. Cowok jadi-jadian yah?" Begitu terus mereka mengadu domba kedua grup musik yang aku yakin--baik AKB48 maupun Super Junior itu pasti bersahabat atau bahkan saling mendukung di luar panggung. Lagipula tidak dibayar juga oleh pihak manajemennya. Buat apa repot membela sebuah grup musik sampai sebegitunya?

Aku tergelak. Baik Yussy maupun Wilkie nyalang menatapku. Aku nyengir ke keduanya sembari memberikan tanda damai.

"Peace ah, Yus, Wil. Gue enggak mau ribut-ribut lagi. Udahan dong ributin soal boyband sama girlband-nya. Mending bahas politik yuk. Atau bahas soal kuliah saja." kataku sok tahu. Jelas-jelas baik aku, Yussy, dan Wilkie itu beda jurusan; namun kami satu kampus. "Lagian baik AKB48 maupun Super Junior, kedua-duanya sama-sama bagus kok. Yang satu masuk Buku Rekor Dunia. Satunya lagi sering menang penghargaan, baik di dalam maupun luar Korea Selatan. Keduanya juga punya ciri khas masing-masing yang punya pendukung masing-masing. Toh juga enggak ada gunanya meributkan selera. Enggak ada habis-habisnya. Kalau kata peribahas Latin, 'de gustibus non est disputandum'."

Mereka berdua masih tetap nyalang. Aku semakin bergidik, selain makin panas. Tanganku mengibas-ngibas untuk sekedar meredakan hawa panasnya. Namun sia-sia saja. Malah makin panas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x