Imi Suryaputera™
Imi Suryaputera™ profesional

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit)\r\n

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Rampa, Pemukiman Suku Bajau Di Tenggara Kalimantan

7 April 2012   03:03 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:56 749 0 0

Saya jadi teringat suku Bajo (Bajau) setelah menyaksikan tayangan di Kompas TV yang mengulas masalah suku tersebut pagi tadi.

Selanjutnya suku ini saya sebuat saja Bajau, menurut dialek bahasa daerah saya.
Mereka ini merupakan suku yang hidup dan kehidupannya tak bisa dipisahkan dengan laut. Segala aktivitas mereka berhubungan dengan laut atau air laut. Mereka membangun rumah tempat tinggal diatas air laut, tepatnya di pinggiran laut, berdiri diatas air yang dibangun bertiang dengan konstruksi kayu.

Pemukiman suku Bajau yang dipastikan berada diatas air ini, di daerah saya disebut 'rampa', yang tiap rumah dihubungkan dengan titian ataupun jembatan.
Entah kenapa setiap pemukiman suku Bajau ini dinamakan 'rampa'. Hanya lokasi saja yang membedakan sebutan rampa ini, misalnya ada Rampa Baru, Rampa Cengal, Rampa Manunggul, dan Rampa Kapis.
Bila menyebut nama rampa di daerah saya, sudah pasti terkait pemukiman suku Bajau.

Aktivitas mencari nafkah suku Bajau adalah nelayan. Sepengetahuan saya, di daerah tempat saya di bagian tenggara pulau Kalimantan, tepatnya di wilayah Kabupaten Kotabaru Kalsel, tak ada maupun tak pernah mendengar ada orang dari suku Bajau yang bekerja selain nelayan.

Yang luar biasa dari suku Bajau di daerah saya ini adalah, tak pernah terdengar ada dari mereka yang melanggar hukum dan melakukan tindak pidana. Tak ada orang Bajau yang berurusan dengan polisi maupun aparat penegakan hukum lainnya. Karena memang mereka tahunya cuma bekerja di laut; pergi melaut di pagi hari, pulang menjelang sore.

Keberadaan dan kehidupan suku Bajau di daerah saya ini tak diketahui sejak kapan. Yang jelas mereka memiliki keunikan tersendiri; membuat komunitas tersendiri, tradisi dan budaya, serta bahasa sendiri yang terus mereka pertahankan. Orang suku Bajau, meski banyak diantara mereka yang mengerti bahasa dari suku lain seperti bahasa Banjar dan Bugis, namun dalam kesehariannya antar sesama mereka tetap berbahasa Bajau.
Ada yang mengatakan suku Bajau tersebut dulunya berasal pulau-pulau di wilayah Filipina. Mereka asalnya adalah para perompak laut yang tak memiliki tempat tinggal atau pemukiman di daratan, hidup secara nomaden di laut. Kemudian suku Bajau tersebut akhirnya bosan menjadi perpompak laut yang nomaden, mencari daratan di pulau-pulau di Nusantara dan membangun pemukiman yang letaknya berdekatan dengan laut maupun muara sungai yang mengalir ke laut.
Entahlah, apakah cerita para orangtua kami ini benar, saya belum sempat menyelidikinya.

Suku Bajau dewasa ini di daerah saya, tampaknya sudah mulai berbaur dengan suku lainnya terutama suku Banjar, Bugis dan Mandar. Tak sedikit diantara mereka yang menikah dengan ketiga suku tersebut. Dan di rampa, di pemukiman suku Bajau itu, tak cuma suku Bajau lagi, tapi terdapat suku lainnya yang bermukim.

Ciri fisik orang dari suku Bajau di daerah adalah, tinggi badan sedang rata-rata orang Indonesia, rambut hitam lurus (kebanyakan), dan kulit hitam, lebih hitam dari suku-suku lainnya di sekitar mereka. Makanya di daerah saya jika ada yang berkulit lebih hitam selalu diasumsikan sebagai orang Bajau.
Kemungkinan yang paling logis kenapa orang Bajau lebih berkulit hitam adalah, karena mereka menggunakan lebih banyak air laut yang asin daripada air tawar.

Orang Bajau menggunakan air tawar untuk minum, memasak, membilas cucian yang sebelumnya menggunakan air asin. Untuk keperluan mandi, mereka menggunakan sedikit air tawar saat berbilas sehabis mengguyur tubuh dengan air asin.
Lebih hitamnya kulit orang Bajau di daerah saya ini, tak saja para pria, tapi juga wanitanya. Namun kini seiring dengan kemajuan teknologi informasi, sudah banyak para wanita dan gadis-gadis Bajau yang memperhatikan penampilan dan kecantikan mereka. Tak sedikit kini gadis-gadis Bajau yang agak kekuningan atau agak putih ketimbang para orangtua mereka dulu. Gadis Bajau di tempat saya sudah tak beda dengan gadis Banjar maupun Bugis.

Ungkapan atau anekdot yang mengasumsikan kulit lebih hitam di daerah saya, agaknya sudah kurang tepat lagi kini.