Mohon tunggu...
Imeliya Afsari
Imeliya Afsari Mohon Tunggu... Mahasiswa

Lahir di Bojonegoro, 4 Januari 2000

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Dampak Positif dan Negatif Belt and Road Intiative (BRI) serta Strategi Indonesia

7 Mei 2021   20:17 Diperbarui: 7 Mei 2021   20:25 371 1 0 Mohon Tunggu...

Inisiasi luar biasa Xi Jinping dalam membangkitkan pengaruh Cina di Asia Tenggara. Pada tahun 2013, Presiden Xi Jinping mengumumkan One Belt One Road (OBOR) sebagai kebijakan luar negeri China yang baru. Pada dasarnya, OBOR merupakan proyek besar China untuk meningkatkan perekonomian dan politik negara tersebut dengan membangun kembali kesuksesan sejarah jalur sutra. Hal yang menarik dari kebijakan ini adalah strategi yang dijalankan berupa penawaran pertumbuhan ekonomi global melalui konsolidasi hubungan kerjasama di kawasan Asia, Afrika, dan Eropa.

Dalam menjalankan misi ini, China juga berkomitmen untuk memberikan uluran tangan dalam pembangunan infrastuktur di negara-negara yang turut berpartisipasi dalam OBOR. Lebih jauh lagi, inisiatif ini dijalankan dengan dua strategi khusus, yaitu Silk Road Economic Belt dan Maritime Silk Road, yang mana konsep ini berkaitan pada pembangunan jalur darat dan jalur laut. Silk Road Economic Belt akan menghubungkan 65 negara yang dilalui, sedangka strategi Maritime Silk Road dirancang untuk menghubungkan Laut Cina Selatan ke Samudera Hindia, Afrika Timur, Laut Merah dan Mediterania.

Di satu sisi, negara-negara barat menilai kebijakan OBOR adalah suatu ambisi China untuk mengukuhkan dominasi negara tersebut dalam sistem perdagangan global yang pada akhirnya hanya menguntungkan China dan lebih memberikan dampak negatif pada negara-negara yang turut andil dalam kerjasama OBOR, dalam kasus ini negara-negara yang dimaksud adalah negara-negara dunia ketiga. Untuk menepis citra buruk itu, China meyakinkan kepada negara-negara mitra bahwa strategi ini bukan melulu soal OBOR tapi juga platform kerjasama yang mengarah pada pembangunan dan konektivitas regional. Berikut adalah dampak positif dan negatif dari kebijakan One Belt One Road atau yang saat ini lebih dikenal sebagai Belt and Road Intiative (BRI).

Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang menjadi tujuan penerapan OBOR. Kawasan tersebut memberikan akses untuk China kepada zona ekonomi paling penting yang memuat banyak sumber daya alam, seperti minyak, biji besi, dan tembaga. Salah satu implementasi OBOR di Asia Tenggara yaitu China berinvestasi di kanal Thailand yang bertujuan untuk memotong jalur melalui Thailand Selatan untuk menghemat waktu tempuh kapal dan sebagai rute untuk menghindari Selat Malaka. 

Di Indonesia sendiri, proyek OBOR membantu merealisasikan pembangunan berbagai infrastuktur seperti proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, proyek PLTA Sungai Klayan, dan industri Tanah Kuning untuk mendorong aktivitas ekonomi karena adanya bantuan berbagai pinjaman. Dapat penulis katakan bahwa iming-iming pembangunan inilah yang menjadikan negara-negara di Asia Tenggara menerima kerjasama OBOR. Namun perlu diingat bahwa dibalik keberhasilan pembangunan infrastuktur tersebut, selalu ada harga yang harus dibayar.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia pada masa orde baru lebih memilih untuk berkiblat pada blok barat dan sangat bergantung pada kegiatan ekonomi dan aktivitas politiknya. Hal itu yang menyebabkan Indonesia semakin terjebak pada pusaran pinjaman luar negeri yang sebelumnya telah ada akibat inflansi besar-besaran yang terjadi pada masa rezim orde lama. 

Hal ini yang menjadikan Indonesia semakin sulit untuk melunasi hutang-hutang tersebut. Di sisi lain keuntungan dalam negeri yang didapat harus digunakan untuk melunasi kembali hutang beserta bunga yang disepakati. Hubungan sebab akibat ini mencerminkan bahwa usaha untuk meningkatkan perekonomian Indonesia melalui cara ini tidak menjadi nilai pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya. Tetap saja, meminta pinjaman luar negeri ataupun menerima uluran pinjaman tersebut sangatlah wajar bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Membahas lebih jauh mengenai dampak negatif pergerakan geopolitik China di Asia Tenggara, kawasan yang di dominasi oleh negara-negara berkembang ini bukan tidak mungkin akan melalui titik dimana China memanfaatkan dominasinya untuk kegiatan politik guna mencapai kepentingan dalam negeri. Tekanan dan ketidakberdayaan inilah yang menjadikan kekhawatiran atas terlibatnya Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara yang lain jika semakin jauh terlibat dalam proyek OBOR.

Menilik dampak positif dan negatif yang dapat ditimbulkan dari kebijakan Belt and Road Intiative, Pemerintah Indonesia harus menyikapi geopolitik China dengan lebih bijaksana dan waspada dalam waktu yang bersamaan. Dengan pola pikir cerdas dan kreatif, Indonesia dapat memanfaatkan jalan yang di beri China dengan maksimal tanpa menimbulkan persoalan baru dalam kehidupan politik dan ekonomi dalam negeri. Mengutip dari perkataan Presiden Joko Widodo, Indonesia harus memperkuat daya saing. Melihat berlimpahnya sumber daya alam serta potensi sumber daya manusia yang dimiliki, Indonesia harus bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas agar bisa berperan aktif dan memberikan manfaat dalam kegiatan perekonomian global. Disamping itu, untuk menghindari ketergantungan pada kerjasama China, Indonesia perlu memegang teguh prinsip bebas aktif. Indonesia harus tetap menjaga hubungan baik dengan negara-negara maupun organisasi internasional dengan tidak mengutamakan China sebagai mitra kerjasama.

Imeliya Afsari

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammdiyah Yogyakarta

VIDEO PILIHAN