Imron Maulana
Imron Maulana Penulis

Mahasiswa aktif di IAIN Madura

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Fazlur Rahman Berbicara Pendidikan Islam di Era Revolusi Industri 4.0

16 Mei 2019   15:44 Diperbarui: 16 Mei 2019   16:05 25 0 0
Fazlur Rahman Berbicara Pendidikan Islam di Era Revolusi Industri 4.0
dokpri

Mengingat pendidikan Islam semakin bertambah usianya tentu pendidikan Islam tidak berada dalam zona aman dalam perkembangannya, sekaligus dengan bertambahnya usia pendidikan Islam juga bertambah persoalannya.

Pendidikan Islam masuk pada era yang penuh dengan peradaban baru, dari peradaban baru ini pendidikan Islam membutuhkan suasana baru untuk menjawab tantangan baru yang lebih progress.

Ada sebuah sabda menarik dari Rasulullah menyoal pendidikan yang harus kita gerakkan pada era yang telah berbasis cyber. Beliau bersabda; "Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian."

Dari sabda tersebut Nabi ingin menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan (pendidikan) bersifat dinamis. Pendidikan Islam dalam hal ini diharapkan untuk selalu mengerti kebutuhan zaman agar pendidikan Islam tidak hanya berjalan ditempat dan digilas oleh zaman itu sendiri.

Beberapa hal yang perlu dilirik untuk menempuh peradaban baru ini adalah sistem, metode, pemahaman atas pendidikan itu sendiri. Modernisme pendidikan Islam dari beberapa poin itu perlu disentuh, untuk menjawab hal tersebut ada seorang tokoh yang sumbangsih pemikirannya sangat berpengaruh.

Sebut saja ia adalah Fazlur Rahman pemikir Islam modernis yang mencita-citakan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berkembang dan tumbuh secara fisik saja. Pendidikan Islam harus juga tumbuh sebagai ruh yang mempunyai daya berpikir luas, kreatif, dan inovatif atau kalau dalam bahasa Fazlur Rahman disebut "intelektual muslim".

Fazlur Rahman lahir di daerah koloni Inggris yang akhirnya disebut Pakistan. Fazlur Rahman terlahir dari keluarga yang bermazhab hanafi dan taat beragama, serta Maulana Sahab Al-din ayah Rahman sendiri menjadi pemuka agama lulusan Deoban. Pada anak benua ini terkenal dengan banyak tokoh yang mempunyai kemampuan intelektual yang kuat, tokoh terkenal di benua terbut misalnya; Shah Wali Allah, Sir Sayyai Ali dan Muhammad Iqbal.

Dari lingkungan ini Fazlur Rahman tumbuh sebagai pemuda yang mempunyai pemikiran agama yang kritis. Fazlur Rahman dalam riwayat pendidikannya belajar bersama ayahnya sendiri dan pada usia yang sangat dini ia telah bisa menghafal al-Qur'an. Selain itu ia juga dibentuk oleh lingkungan yang menjunjung tinggi rasionalisme yaitu lingkungan yang bermazhab Hanafi.

Fazlur Rahman tumbuh dengan daya pikir kritis terhadap kanyataan hidup. Ada sebuah kisah dari Rahman sendiri bahwa ia pernah mengkritik kelompok agama bernama sunni dan si'ah, meski sebenarnya ia aktif sebagai anggota kelompok agama sunni.

Seiring bertambahnya usia Rahman, pemikirannya semakin hari semakin menempuh kesempurnaan. Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah menyoal tentang pendidikan. Dibidang pendidikan Rahman dikenal sebagai pemikir pembaharu pendidikan Islam, ia menemukan beberapa permasalahan terkait dengan perkembangan pendidikan Islam itu sendiri.

Sederhananya ia menemukan bahwa pendidikan Islam seharusnya tidak hanya tubuh sebagai lembaga pendidikan yang besar secara materi. Malainkan ia harus tumbuh sebagai ruh yang mampu merasuk bagi setiap sumber daya manusianya.

Apalagi melihat era sekarang telah masuk pada era disruptive innovation atau yang terkenal dengan sebutan Revolusi Industri 4.0. Dimana SDM era ini di tuntut mempunyai kemampuan yang berdaya saing inovatif. Pendidikan yang tetap saja dalam metode dalam sistem yang lama maka bersiaplah pendidikan tersebut digilas oleh mesin cerdas.

Mesin cerdas yang telah mempermudah segala aktivitas manusia sekaligus merubah gaya hidupnya akan membentuk manusia yang berpikir progress dan elitis. Dari sini misalnya kita akan mendapat keuntungan, seperti; 1) Konsumen manjadi lebih mudah dalam memenuhi kebutuhannya. 2) Teknologi mempunyai peran yang memudahkan. 3) Memotivasi para pelaku industri untuk bersaing berbasis inovasi. 4) Mengurangi jumlah pengangguran. 5) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Juga dalam bidang pendidikan mesin cerdas ini mempermudah seseorang belajar melalui digital. Semua telah berkutat di sistem yang serba cyber, mulai dari e-library, e-learning, e-book, dan yang lainnya. Hanya dengan satu hempasan nafas siswa sudah bisa menggenggam apa yang dibutuhkan.

Dari kecanggihan ini Fazlur Rahman mencoba mengkritik pendidikan yang rasanya masih sangat relevan dengan kondisi pendidikan Islam era milenium ini. Fazlur Rahman menyatakan bahwa pendidikan Islam yang masih berada dalam kemunduran dan tidak bisa bergerak maju karena masih maraknya pensakralan terhadap produk ulama klasik, pembekuan kajian yang bersifat trans-historis yang kemudian terperangkap pada sikap tradisionalitas, dan terakhir adalah pengelompokan antara ilmu umum dengan ilmu agama.

Bagi Fazlur Rahman dari problem tersebut harusnya pelaku pendidikan Islam bisa bergerak out of the box agar pendidikan Islam tidak berjalan ditempat. Hal tersebut kata Rahman bisa dilakukan dengan: Pertama, harus ada desakralisasi terhadap produk pemikiran ulama klasik. Kedua, perlunya pembaruan dibidang metode pendidikan Islam. Ketiga, berusaha mengikis dualisme sistem pendidikan umat Islam.

Keempat, menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebagai alat untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. Kelima, membangkitkan ideologi umat Islam tentang pentingnya menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam arti seluas-luasnya. Keenam, menyajikan ilmu-ilmu sosial dan khususnya filsafat dalam dunia pendidikan Islam.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa revolusi industri 4.0 sangat membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif -- inofatif, mempunyai skill, mempersiapkan mental yang siap untuk competitive advantage.

Beberapa penanganan yang ditawarkan oleh Rahman ini setidaknya untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0 terbentuk SDM yang mempunyai kemampuan sebagai berikut; disruptive mindset (berpikir sesuai dengan setting sebelum berpikir dan bertindak), self-driving (Sumber Daya Manusia yang bermental pengemudi yang baik), dan reshape or create (mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Untuk mengakhiri tulisan ini penulis ingin menutup dengan puisi Muhammad Iqbal Pesan untuk Bansa Timur, "Bangunlah kerajaan cinta di tempatmu berdiam// Ciptakan nama baru// Fajar dan malam kemilau// Tenunlah kata-katamu// Jika Tuhan melimpahimu sahabat alam// Dari kesenyapan mawar dan teratai// Jangan pinta karunia dari si tukang gelas Magribi// Buatlah sendiri piala dan kendimu dari tanah lempungmu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2