Mohon tunggu...
Iman Agung Silalahi
Iman Agung Silalahi Mohon Tunggu... Pembelajar hidup sehat holistik

Selalu merasakan sebuah kebahagiaan tersendiri saat mitra kerja atau sahabat berhasil menemukan inspirasi dan keyakinan diri untuk mencapai apa yang diimpikannya. Tertarik menjadi pembelajar hidup sehat holistik sejak Februari 2021 setelah resmi menyandang status penderita diabetes tipe 2.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Kembalinya Keindahan Iring-iringan Menuju Shalat Tarawih

14 April 2021   11:25 Diperbarui: 14 April 2021   12:50 242 4 1 Mohon Tunggu...

Hari ini adalah hari kedua dari bulan Ramadhan pada tahun ini. Adzan subuh tanda dimulainnya hari untuk berpuasa belum berkumandang. Tetapi seperti pada hari puasa pertama kemarin, tetangga depan rumah saya telah lebih dahulu terbangun dari tidur malam mereka.

Suara halus dari sendok, garpu dan piring yang saling bersentuhan terdengar dari dalam rumah tetangga yang adalah umat Islam itu. Entah apa yang tersaji pada piring makan mereka, saya tidak tahu. Tapi saya yakin mereka sangat menikmati dan mensyukurinya. Karena, mereka sekeluarga adalah orang-orang yang suka berbagi. Itulah sebabnya saya juga yakin bahwa mereka pasti sudah siap untuk memulai hari puasa sebelum adzan subuh berkumandang di langit sepi.

Saya sendiri bukanlah seorang yang beragama Islam. Saya adalah seorang Nasrani, bahkan anak seorang pendeta. Tapi walaupun demikian, saya mensyukuri datangnya bulan Ramadhan sebagai sebuah rahmat dari Dia yang Ilahi kepada semua umat manusia.

Pasti ada banyak hal positif  dari bulan Ramadhan yang dapat dinikmati oleh sahabat dan kerabat saya yang beragama Islam. Tetapi ijinkanlah saya untuk menyampaikan apa yang saya lihat dan kagumi pada hari-hari di sepanjang bulan Ramadhan yang mendatangkan kebaikan bagi umat Islam, sebagai berikut:

  • Melatih kesabaran. Bulan Ramadhan bukanlah hanya untuk sekedar menahan rasa lapar dan haus, tapi terutama untuk menahan diri dari emosi marah dan hawa nafsu yang berlebihan agar bisa menang atas setiap godaan.
  • Berbuat kebaikan. Bulan Ramadhan bukanlah hanya untuk sekedar saling berbagi makanan pembuka puasa, tapi terutama untuk bersedekah dengan hati yang penuh kedermawanan, khususnya dalam membantu orang-orang yang masih terhimpit beban kemiskinan.
  • Meningkatkan iman. Bulan Ramadhan bukanlah hanya untuk sekedar terlihat melakukan sholat tarawih, tapi terutama untuk dapat lebih mengimani dan menghidupkan pedoman hidup yang ditunjukkan di dalam Al-Qur'an.
  • Memohon pengampunan. Bulan Ramadhan bukanlah hanya untuk sekedar bermaaf-maafkan antar sesama sahabat dan kerabat, tapi terutama untuk memohon pengampunan Tuhan atas segala dosa yang telah dilakukan.

Seorang sahabat saya yang Muslim pernah berkata kepada saya bahwa maksud dan tujuan bulan Ramadhan bagi umat Islam dari tahun ke tahun adalah sama alias tidak berubah. Kata sahabat saya itu, semuanya untuk kebaikan umat manusia pada umumnya, dan untuk umat Islam pada khususnya. Rasanya, pencerahannnya itu seperti mendatangkan kesejukan dan meredakan ketegangan karena pandemi Covid-19 yang masih terus mengganas.

Pandemi Covid-19 memang masih melanda dunia, termasuk Indonesia. Pandemi ini menyerang semua orang tanpa tebang piih. Virus corona-19 menerkam setiap orang tanpa kenal suku, agama, ras dan antar golongan, baik laki-laki ataupun perempuan. Hanya mereka yang mempunyai daya tahan tubuh yang kuat yang dapat bertahan.

Sama seperti pada tahun lalu, maka bulan Ramadhan pada tahun ini masih berada dalam suasana pandemi Covid-19. Suasana pandeminya memang sama, tapi sebenarnya ada perbedaan yang cukup jelas.

Kalau begitu, perbedaan apa yang terlihat pada bulan Ramadhan tahun ini dibanding bulan Ramadhan tahun lalu? Lalu, kalau memang ada perbedaan, pelajaran apa yang dapat diambil dari bulan Ramadhan tahun lalu agar bulan Ramadhan tahun ini akan terasa lebih nikmat dan semakin patut untuk disyukuri?  

Menurut saya pribadi, paling tidak ada dua hal yang mungkin akan cukup berbeda dari bulan Ramadhan pada tahun ini bila dibandingkan dengan bulan Ramadhan tahun yang lalu. Kedua hal yang menjadi pembeda itu adalah sikap optimis dan sikap toleransi.

1. Sikap optimis. 

Pada bulan Ramadhan tahun lalu, pandemi Covid-19 masih menikmati bulan madunya di Indonesia sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020 oleh pemerintah. Kasus positif Covid-19 dan korban yang meninggal dunia masih sangat sedikit. Data yang diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada 19 April 2020 menyatakan bahwa ada 6.575 kasus positif Covid-19, dan 582 jiwa yang menjadi korban meninggal dunia. Sedangkan jumlah akumulatif kasus positif Covid -19 di Indonesia per tanggal 13 April 2021 kemarin sudah mencapai lebih dari 1,5 juta kasus, dan ada lebih dari 42 ribu jiwa yang menjadi korban meninggal dunia. Cukup mengerikan, bukan? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x