Mohon tunggu...
Imam Wiguna
Imam Wiguna Mohon Tunggu... Karyawan swasta

Karyawan swasta, ayah dua anak, tinggal di Bogor.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

World Cancer Day, Jamur Maitake Teruji Klinis Anti Kanker

30 Januari 2018   17:18 Diperbarui: 30 Januari 2018   17:42 1820 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
World Cancer Day, Jamur Maitake Teruji Klinis Anti Kanker
Jamur maitake teruji klinis antikanker. (Foto: Imam Wiguna)

Serangan kanker payudara tak pandang bulu. Seorang pria berusia 57 tahun pun tak luput dari cengkeraman penyakit maut  itu. Semula ia menderita colloid carcinoma, salah satu jenis kanker payudara yang terbentuk akibat mukus atau lendir yang dihasilkan sel kanker. Kanker itu tergolong langka dialami seorang pria. Empat tahun berselang kanker itu bermetastasis alias menyebar ke paru-parunya hingga mencapai stadium IV.

Pada paru-paru pria itu terdapat dua titik kanker berdiameter 1,5 cm dan 3,8 cm. Namun, meski kondisinya sudah stadium lanjut, ia enggan menjalani kemoterapi. Ia memilih jalan penyembuhan lain dengan mengonsumsi 100 mg MD-fraction per hari. MD-fraction adalah senyawa aktif hasil ekstraksi dari jamur maitake temuan Prof. Hiroaki Nanba, Ph.D., guru besar emeritus Universitas Farmasi Kobe, Jepang.

Uji klinis

Penderita kanker itu juga mengonsumsi 6 g bubuk maitake dalam bentuk tablet setiap hari untuk membantu mengatasi kanker paru-paru yang dideritanya. Setelah mengonsumsi MD-fraction, kondisi kesehatan pria itu terus membaik. Ukuran kanker paru-paru yang besar berkurang hingga 3 cm dan yang kecil hilang sama sekali. Sayangnya kanker itu ternyata bermetastasis ke kelenjar limfa dan merenggut nyawanya pada Mei 1994.

Menurut Prof. Nanba kemampuan pasien bertahan hidup hingga 5 tahun tergolong menakjubkan untuk seorang pasien kanker stadium IV. Pria itu salah satu pasien kanker yang bersedia menjadi salah satu peserta uji klinis pada 1989 untuk menguji keampuhan MD-fraction sebagai suplemen antikanker atau antitumor. MD-fraction senyawa aktif polisakarida beta-1,6 glukan hasil temuan Prof. Nanba.

Dalam sejarah Jepang maitake sangat populer karena kelezatan dan khasiatnya. Dalam uji klinis itu sebanyak 36 pasien kanker stadium II---IV berusia 33---68 tahun yang bersedia menjadi peserta uji. Dalam uji klinis itu Prof. Nanba bekerja sama dengan beberapa dokter di Jepang. Selain kanker paru-paru, ada juga pasien kanker hati peserta uji klinis yang kondisi tubuhnya membaik. Contohnya dialami seorang perempuan 47 tahun pengidap kanker hati stadium II.

Pada Maret 1994 ia memperoleh pengobatan dengan cisplatin (CDDP)---salah satu obat kemoterapi---berdosis 80 mg/m2. Namun, pada Januari 1995 ia beralih mengonsumsi MD-fraction berdosis 50 mg dan 4 g bubuk maitake dalam bentuk tablet setiap hari, serta menghentikan kemoterapi. Setelah 2,5 tahun menjalani terapi, produksi interleukin 2 (IL-2) sang pasien meningkat 2,2 kali lipat.

Interleukin adalah salah satu dari beberapa limfokin (sitokin yang diproduksi limfosit) yang mempromosikan makrofag, sel T pembunuh, sel B, dan komponen lain dari sistem kekebalan tubuh. Perempuan 45 tahun, pasien peserta uji klinis yang mengalami kanker payudara, juga merasakan faedah maitake. Di payudara perempuan itu terdapat tumor berukuran 1,8 cm.

Tingkat respon pemberian jamur maitake dalam uji klinis terhadap berbagai jenis penyakit kanker.
Tingkat respon pemberian jamur maitake dalam uji klinis terhadap berbagai jenis penyakit kanker.
 

Komplementer

Pengidap kanker payudara itu menjalani operasi pengangkatan tumor dan menjalani kemoterapi dengan obat 5-FU dan adriamycin (ADM) hingga Februari 1994. Namun, pada April 1994 kanker kembali terdeteksi. Benjolan berdiameter 0,9 cm kembali bersarang di payudaranya. Kali itu ia menolak untuk operasi dan lebih memilih terapi menggunakan maitake. Ia mengonsumsi 100 mg MD-fraction dan 5 g tablet bubuk maitake setiap hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x