Mohon tunggu...
Imam Subkhan
Imam Subkhan Mohon Tunggu... Penulis, public speaker

Aktif di Perhumas Surakarta, pendiri Akademi Orangtua Indonesia Surakarta, pengelola lembaga pelatihan SDM pendidikan, dan aktif menulis di berbagai media, baik cetak maupun online. Kreativitas dan inovasi dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran yang membawa maslahat. Kritik dan saran silakan ke: imamsubkhan77@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Benarkah Menulis di Koran Hanya Demi Honor?

20 November 2018   05:30 Diperbarui: 20 November 2018   05:58 411 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Benarkah Menulis di Koran Hanya Demi Honor?
Saya baru saja mengambil honor dari kantor Harian Umum Solopos.

ENTAH sudah yang ke berapa kali saya mengambil honor menulis di koran yang keren ini, yakni Harian Umum Solopos. Yang jelas, beberapa staf sekretariat redaksi seperti sudah hafal dengan wajahku. Memang, beberapa kali sempat ditransfer ke rekening, sehingga saya tidak perlu repot-repot pergi mengambil ke kantor redaksi.

 Tetapi jujur, saya lebih suka mengambil langsung. Selain bisa bertemu dengan beberapa jurnalis yang saya kenal, saya juga ingin merasakan aura perpaduan literasi dan bisnis dari produk-produk yang dihasilkan di Solopos. Termasuk untuk koran regional, saya juga memilih mengambil honor di kantor perwakilan atau kontributornya. 

Benarkah saya menulis semata-mata untuk mengejar honor atau uang? Jawaban saya bukan an sich itu. Tak usah dimungkiri, semua orang butuh tambahan penghasilan, termasuk saya. Tetapi untuk kasus menulis ini, adalah bentuk penyaluran ekspresi dari sebuah unek-unek yang menggumpal di pikiran dan jiwa saya. 

Makanya saya sering menulis gagasan yang bersifat momentum atau aktual yang sedang ramai atau viral diperbincangkan publik. Meski juga, beberapa tulisan saya merupakan hasil kajian dan renungan tentang sesuatu pengetahuan, fakta, atau fenomena yang bisa relevan sepanjang masa. Sehingga kapan pun bisa dikirimkan ke media.

Selain itu, tujuan saya menulis di koran, dan mungkin ini hampir semua diharapkan oleh para penulis, adalah untuk eksistensi diri, popularitas, dan reputasi. Keilmuan dan kompetensi kita seolah-olah menjadi terakui oleh publik. Kita bisa semakin dihargai oleh orang lain. Apalagi jika tulisan kita berbobot dengan didukung oleh data empiris yang kuat, pemaparan yang sistematis, dan diakhiri dengan solusi-solusi pemecahan masalah yang tepat, maka pembaca atau publik merasa terbantu dan tercerahkan.

Sayangnya sampai saat ini, menulis di media bagi saya masih menjadi sekadar hobi dan pelarian. Belum menjadi sebuah profesi untuk terus ditekuni dan memiliki target karya tulisan setiap harinya. Saya menulis masih sangat tergantun mood atau gairah. Jika tak ada mood, berjam-jam di depan komputer, satu paragraf pun sulit tertuang. 

Kecuali menulis karena pesanan orang. Mau tak mau harus saya selesaikan sesuai deadline yang ada. Saya pun pernah menuliskan ide-ide dari seorang doktor untuk bisa dimuat di surat kabar. Doktor ini tentu tak butuh honornya, tetapi mengejar angka kredit untuk kenaikan pangkat. Ya begitulah macam-macam motif orang menulis di media massa. Bagi para politisi dan pengambil kebijakan, tentu akan lain lagi motivasinya. Mereka tentu mengarah pada penggiringan opini, sehingga publik terpengaruh dan mau mengikuti logika berpikir sang politisi.

Berikut ini, beberapa tujuan menulis di media massa yang saya rasakan sendiri, sekaligus rangkuman dari beberapa sumber:

1. Untuk mencari popularitas dan eksistensi diri (biar terkenal) sebagai seorang penulis dan pencetus gagasan/ide.

2. Untuk mengejar reputasi (rekam jejak), supaya kompetensi keilmuannya diakui di masyarakat.

3. Untuk mengokohkan profesi sebagai seorang penulis yang selalu produktif menghasilkan tulisan-tulisan di media massa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x