Imam Subechi
Imam Subechi

Mengajar di Mts Swasta Yapena, Lhokseumawe. Aceh

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Jejak Ketulusan dari Sang Ibu Terbaik

28 Desember 2017   07:37 Diperbarui: 28 Desember 2017   08:47 364 0 0
Jejak Ketulusan dari Sang Ibu Terbaik
daleel.pk

Ibu atau umi dalam bahasa arabnya. Ibu seorang sosok manusia yang sangat dikenal di belahan dunia. Hingga sampai orang menambatkan di hari yang khusus,hari ibu. Kata ibu juga dilekatkan pada tempat seperti ibu kota, dan untuk perjuangan negara seperti ibu pertiwi. Inilah segelintir kata ibu yang disematkan kepada kata lain. Hal itu tidak lain melainkan karena peran seorang ibu yang tak tergantikan oleh apapun.

Masa kecil anak manusia sudah diurus oleh seorang ibu. Walaupun ibu sosok wanita yang juga dikenal rapuh namun sosok wanita ini sangatlah handal dalam perkara pendidikan. Sudah berapa banyak para intelektual muslim terlahir dari hasil didikan seorang ibu. 

Maka ibu tidak asing lagi bagi kita di zaman ini. Ibu dengan super penjagaan dan pendidikan untuk anaknya manjadikan generasi terbaik bagi agama dan bangsa. Lihatlah ibu yang penuh perhatian kepada anaknya akan melahirkan generasi bangsa yang beradab lagi menjungjung tinggi nilai kemanusiaan.

Tiap hari tiap detik tiap menitnya, sosok wanita ini terus memikirkan anaknya. Didikan dialah yang membuat keluarga menjadi keluarga yang kokoh dengan iman dan amal shaleh. Jika ibu kuat dalam pendidikan, maka keluarganya pu menjadi kuat dalam keimananan. 

Namun jika ibu lemah dalam mendidik,maka akan terlahir generasi manja yang suka bergantung dengan orang lain. Ibulah yang mencetak generasi terbaik dan generasi terburuk sepanjang zaman. Inilah peran besar yang diciptakan oleh seorang ibu dari masa ke masa.

Saya sebagai anak sangat teringat sekali jejaknya dalam keluarga. Hingga saya begini salah satunya peran ibu selama masa hidupnya. Meskipun ibuku sudah meninggal, namun bekas jejaknya masih teriang di benak saya.

 Apa saja yang ia tinggalkan untuk saya? Ibuku bukan seperti ibu-ibu yang lain. Tentu ibu saya memiliki trik sendiri dalam mendidik kami. Yaitu pemberian pendidikan dalam perkara disiplin waktu,terutama dalam menegakkan shalat secara berjamaah di masjid.

Tiap azan dikumandangkan, beliau selalu mengingatkan bahwa azan sudah tiba. Dengan lantunan suaranya memanggilku berkali-kali hingga saya penuhi seruannya. Saat yang sama saya tinggalkan segala permainan dengan teman-teman. 

Beliau selalu mengingatkan tentang disiplin waktu,terutama disiplin menegakkan shalat berjamaah di awal waktu. Bahkan ia menyuruhku agar selalu membawa sarung dimanapun berada. Dengan tujuan saat azan dikumandangkan, dengan mudah saya menuju ke masjid atau mushalla terdekat.

Tanpa tendeng apapun ibuku terus berbicara perkara ini pada diriku. Hingga suara itu menancap dibenak dadaku. Saat azan saya harus mendatangi masjid. Jika tidak ibuku akan memanggilku berkali-kali di lapangan permainan. 

Sedikit banyaknya sayapun malu dipanggil dari jarak jauh. Maka timbul inisiatif agar suaranya tidak menggelegar, saya harus pulang sebelum azan tiba. Inilah hadiah terbaikku dari ibuku. Pendidikan kedisiplinan dalam menegakkan shalat berjamaah. Efek dari pendidikannya saya jadi sangat takut,jika ke sekolah datangnya terlambat masuk kelas.

Saya dikeluarga termasuk yang merasakan kasih sayang lebih. Terutama setiap minta mainan, biasanya dikasih. Itu mungkin saya anak penurut perintah orang tua. Hingga orang tuapun membalasnya dengan mainan yang menjadi pavoritku saat masa kecil. Mainan dirumah untukku sangat banyak hingga berkardus-kardus. Hadiah mainan sering saya dapatkan tiap kali tiba musim agustusan( bulan agustus). 

Hari itu adalah hari momen kemerdekaan Indonesia. Masyarakat Indonesia bergembira di hari tersebut terutama saya. Karena saya akan diajak oleh orang tua melihat-lihat semarak pawai dan berbagai tontonan lainnya. Inilah kesempatan bagiku untuk membeli banyak jajajan dan mainan.

Ada satu lagi pendidikan yang diberikan untukku dari ibuku. Yaitu membiasakan suka memberi kepada orang lain. Membantu siapa saja tanpa pandang bulu adalah sifat yang dimunculkan dikeluarga kami. 

Dari ibulah saya mengenal sikap suka memberi bantuan walaupun hidup kami yang pas-pasan. Namun memberi untuk orang lain bersifat wajib bahkan disuruh kasih walaupun sedikit. Ia sering mengatakan kepada kami, janganlah pelit ,janganlah pelit. Kata-kata itu hingga kini masih tersimpan dibenak saya. 

Maka sayapun menjadi orang yang suka memberi gara-gara seorang ibu. Apa saja yang ditangan saya khususnya makanan, pasti saya menawarkan kepada orang yang duduk disampingku.

Memberi ternyata melahirkan kebahagiaan tersendiri bagi pemberi. Makanan yang dibagi dan dimakan oleh orang yang diberi memberi bekas kebahagiaan yang tiada tara. 

Apalagi orang yang menerimanya mengucapkan terimakasih dan tersenyum. Seakan-akan dunia ini milik saya semua karena pemberian saya diterima dengan hangat. Sifat memberi yang ditanamkan oleh ibuku masih melekat seperti lem kuat yang menempel pada benda. Walaupun memiliki sifat memberi itu ada prosesnya, namun sang ibu tetap mengajarkan untuk anak-anaknya agar sering memberi.

Terakhir, pendidikan sebagai pemberiannya untukku ialah gemar menabung. Ibu sering mengatakan ,Behi duitnya jangan dihabisin semuanya, tabunglah di celengan'. Karena saya termasuk anak penurut, tanpa dipikit lagi saya langsung sisipkan sisa uangku di celengan. 

Celengan yang terbuat dari tanah tentunya. Gambar celengannya berbentuk ayam jago, masih teringat. Bahkan dengan tabungan tersebut saya pernah berikan sama ibu sebagai tanda sayangku padanya. Ibuku dengan gembira menyambut pemberianku yang tak seberapa. Denga menabung saya membeli peralatan belajar sendiri tanpa harus meminta dari ibu. Saya sungguh sangat bahagia memiliki ibu yang penuh perhatian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2