Analisis

Nadirsyah Hosen: Permadi Arya alias Abu Janda adalah Sosok "Ciptaan Pemerintahan Jokowi"

11 Februari 2019   10:28 Diperbarui: 11 Februari 2019   10:50 1575 4 2
Nadirsyah Hosen: Permadi Arya alias Abu Janda adalah Sosok "Ciptaan Pemerintahan Jokowi"
chirpstory.com

Belum reda tudingan Jokowi kepada kubu Prabowo tentang penggunaan konten-konten yg manipulatif, tendensius, partial truth hingga posting yang memuat berita-berita hoax kemudian publik kembali dikagetkan oleh Facebook.

Mereka merilis sikap untuk membekukan akun Permadi Arya atau yang dikenal sebagai Abu Janda Al Boliwudi karena terindikasi menggunakan platform Facebook untuk melakukan interaksi yang tidak otentik alias penggunaan akun-akun tuyul yang saling 'berbalas pantun' di halaman mereka dengan konten-konten provokatif. Facebook telak menyebutkan Abu Janda adalah bagian dari Sindikat Saracen yang menurut Jokowi adalah sebuah aktifitas jahat yang mengganggu bangsa.

Publik terhenyak. Membayangkan seorang Abu Janda yang ekspresif dan demonstratif menunjukkan kejumudan sikapnya dalam membela rezim penguasa saat ini. Sosok Abu Janda yang provokatif kontan menarik reaksi kubu penantang. Dan sungguh, sekalipun di ingkari berkali-kali, perseteruan ini dipimpin oleh wasit yang tidak adil dan berat sebelah. Sebut saja Jonru, Asma Dewi, Jasriadi dan yang terakhir Ahmad Dani telah terpental keluar dari gelanggang pertandingan yang berat sebelah. Kubu Abu Janda yang sangat mungkin disuplai dana berlimpah dan berikut sumber daya tidak berbatas, plus perlindungan orang kuat Indonesia dari 'cakaran' UU ITE.

Nalar warganet menyimpulkan Abu Janda adalah agen proksi atau setidaknya sosok piaraan rezim. Cuman belum menemukan simpul yang bisa diurai. Ibarat kentut, berbau tapi tidak ada yang ngaku.

Sehingga kemudian atas izin Allah tentunya, dapat diketemukan benang merah atas asumsi-asumsi yang berkelindan di kubu penantang. Sebuah cuitan dari Nadirsyah Hosen. Seorang cendekiawan NU yang saat ini mengajar di Australia. Nahdliyin yang dikenal sebagai motor liberalisme di ormas NU ini dengan sadar tentunya memposting pernyataan yang lugas dan tegas bahwa Abu Janda adalah fabrikasi dari timses atau tim khusus siber di era Jokowi. 

Baca dengan cermat, kata perkata hingga semua kalimat yang ada dicuitan tersebut. Tidak membutuhkan pakar bahasa seperti Akbar Faisal, publik dengan simpel bisa mengartikan bahwa NU yang menjadi role model menghadapi individu-individu yang dianggap 'mengganggu' pola ibadah NU yang mereka sebut ustadz-ustadz yang belum terkualifikasi dengan standar yang jelas. Abu Janda diciptakan untuk menghadapi para 'berisik' yang akhirnya bertumbangan di hajar UU ITE. Produk UU yang di era Jokowi menjadi alat pukul musuh-musuh politik yang efektif.

Rezim yang menurut pemilik wajah yang mengaku sosok dirinya jauh dari profil yang sangar tapi ternyata memiliki kebijakan yang teramat otoriter dan anti kritik.

Jika Jokowi tidak merespon cuitan Nadirsyah ini maka semakin sederhana pula kita mencermati bahwa tudingan penggunaan Propaganda Rusia oleh Jokowi kepada Prabowo bisa analogikan sebuah pribahasa yang kita modifikasi agar sesuai dengan era milenial, "amuba di seberang lautan tampak, tyrex di pelupuk mata blas tidak kelihatan".

Publik menyebutkan menepuk air di dulang meyiprat muka sendiri. Tuduhan Jokowi adalah sebuah tuduhan serius. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa disebutkan. Pertama, Jokowi menuduh kubu Prabowo kerap memproduksi fitnah. Entah apa fitnah yang dimaksudkan oleh Jokowi. Apakah tentang pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka 5-an persen, atau fitnah tentang Indonesia ternyata tidak mandiri secara pangan karena impor yang gila-gilaan? Atau fitnah tentang hukum yang rubuh di era kepemimpinan dirinya?

Jokowi harus berani menyebutkan fitnah apa yang dilancarkan oleh penantang. Penulis ingin membantunya, apakah fitnah tentang Esemka yang dulu menjadi media Jokowi mem-branding dirinya? Tentang 6000 unit yang siap diluncurkan karena sudah dipesan? Atau fitnah Muhammad Prasetyo yang kader Nasdem yang menjadi Jaksa Agung karena janji politik Jokowi yang tidak akan pernah mengambil dan menetapkan Jaksa Agung dari parpol.

Lalu yang kedua tentang fitnah impor barang hingga defisit neraca perdagangan karena Jokowi gagal di kedaulatan pangan nasional? Apakah fitnah yang mengganggu Jokowi sedemikian rupa hingga menuding Prabowo melakukan framming jahat kepada dirinya sehingga publik atau pemilik suara akhirnya melabuhkankan pilihan politiknya kepada putra Begawan Ekonomi tersebut?

Jokowi hanya melemparkan bom asap yang membuat perih mata namun minim substansi. Isu-isu penggunaan Propaganda Rusia oleh Jokowi akhirnya melalui tangan Langit-lah yang membentangkan fakta yang sebenarnya. Setidaknya pernyataan dari Facebook atas pembekuan salah satu die harder Jokowi yang kerap memancing keributan tersebut menjawab pertanyaan publik, kubu mana yang lebih memungkinkan menggunakan media sosial melalui re-distribusi meme, infografis atau postingan yang lebih kental nuansa black campaign tentang Prabowo dan menafikan kegagalan Jokowi memenuhi janji-janji politik yang kadung dia umbar ke publik saat pilpres 2014 dahulu.

Wis wayahe. Begitu sebuah istilah jawa yang sering dipergunakan untuk sebuah keadaan yang memang secara nature akan berubah. Perubahan akan selalu diawali dengan situasi-situasi yang menggiring keadaan menjadi berubah meskipun setengah mampus diupayakan perubahan itu berhenti atau tidak jadi berkunjung. Indonesia butuh berubah, dari negara konsumsi menjadi negara produksi. Sesumbar tentang pembangunan ini-itu tapi mental gagal di revolusi dari mental rente menjadi mental orang merdeka. The Hope telah berubah menjadi The Hopeless.

Pilih Prabowo-Sandi untuk Indonesia yang berkeadilan dan memakmurkan seluruh elemen masyarakat, bukan parsial atau sekelompok orang.

Salam Ujung Tyrex!