Mohon tunggu...
Imam Prasetyo
Imam Prasetyo Mohon Tunggu...

Saya muslim

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Prabowo Takut untuk Berdebat dengan Jokowi?

8 Januari 2019   09:20 Diperbarui: 8 Januari 2019   10:25 0 1 0 Mohon Tunggu...

Menguji nalar publik dengan menyebutkan Prabowo takut untuk mengikuti sesi debat antar capres yang diselenggarakan oleh KPU. Sesi debat yang sekiranya dipergunakan untuk menyampaikan visi-misi, program dan sasaran yang akan dicapai dalam masa lima tahun kepemimpinan. Nalar publik yang sudah mencukupi kebutuhannya akan informasi tentu saja berbeda dengan nalar yang dibenamkan ke dalam kubangan kebanggaan semu. Kubangan keruh dan over kapasitas.

Bagaimana mungkin seorang seperti Prabowo yang telah menulis beberapa buku berat dan dipenuhi begitu banyak data yang dijadikan sebagai referensi dirinya untuk menuangkan gagasan besarnya tentang sebuah konsep bernegara tiba-tiba gemetar dan tidak pede untuk beradu argumentasi dengan Jokowi?

Paradoks Indonesia adalah sebuah gagasan tentang kekinian, tentang sebuah fenomena ganjil yang terjadi di depan mata. Keinginan Prabowo untuk meluaskan pemahaman tentang kondisi INdonesia terkini tersebut salah satunya dengan mengedarkan buku tersebut dalam format huruf Braille bagi tuna netra yang berkeinginan mendapatkan pandangan-pandangan segar tentang negara tercinta.

Berbanding terbalik dengan Jokowi yang memiliki keterbatasan literasi dan kemampuan berbahasa yang rendah (low context) sekaligus rendah muatan (low content). Jokowi memang terlihat kalah banyak jika dirunut beberapa variabel untuk kesiapan menghadapi adu debat tentang visi-misi. Seperti variabel penguasaan materi tentang Indonesia, meskipun sebagai petahana, Jokowi dinilai memiliki keminiman informasi tentang Indonesia dalam banyak hal. Seperti kasus-kasus impor komoditas, sebagaimana negara agraris yang memiliki bentang daratan yang tongkat ditanam jadi tanaman atau negara dengan bentang pantai yang sedemikian luas memanjang tapi garam pun masih di impor dari luar.

Adu debat yang sedianya menjadi etelase rakyat untuk memilih calon pemimpin melalui sebuah pertarungan gagasan dan mempertahankan argumentasinya mendadak dirampok oleh KPU dengan pertimbangan agar tidak terjadi upaya mempermalukan salah satu paslon. Publik terhenyak dengan kelakuan Arief Budiman yang mendadak menjadi Begawan penuh kearifan.

Adu gagasan melalui penjabaran visi-misi adalah sebuah cara yang paling taktis bagi rakyat pemilih untuk melihat calon-calon yang ada. Indonesia yang menjadi sorotan dunia akan dikemas dengan cara-cara yang meruntuhkan akal sehat. Apalagi penyelenggaran pilpres ini memakan biaya trilyunan rupiah yang seharusnya bisa untuk membayarkan hutang pemerintah ke sejumlah rumah sakit yang mengalami kesulitan cash flow gegara pemerintahan melakukan wanprestasi.

Membayangkan gesture Jokowi dengan kosa kata yang paling ikonik, "nganu,..itu nganu,..yang nganu" menjadi sebuah pertunjukkan yang mengharubiru bagi pendukung Jokowi. Menyaksikan idola mereka mempublikasikan ide-ide tentang Indonesia maju dengan tanpa berhutang, mengumumkan sendiri tentang kenaikan harga BBM, bersedia di demo atau dikritik sebagai cara publik untuk mengingatkan dirinya. Begitu dulu Jokowi gagah menyuarakannya di tahun 2014 lalu.

Atau langkah gemetar pria berumur 75 tahun yang berusaha tegar mengatakan penyesalannya membuat Ahok terkurung dibalik jeruji dan mengkoreksi pernyataan tentang keharaman memilih pemimpin yang ingkar janji.

Perpaduan yang dramatis ini tentu saja akan menjadi sebuah tontonan yang melapangkan kesempitan hidup rakyat Indonesia yang selama empat tahun di dera begitu banyak insiden-insiden yang menguras energi. Kasus pembakaran bendera tauhid yang didiamkan oleh Jokowi, kasus penyitaan buku-buku tentang PKI yang membuat marah Megawati. Atau aksi-aksi bela Islam yang massif dan diikuti oleh jutaan peserta.

Lalu dimana kesimpulan yang menyebutkan Prabowo takut dan gentar untuk kembali mengingatkan Jokowi tentang potensi kebocoran dana atau keuangan negara saat mereka dulu berdebat tentang bagaimana membangun Indonesia?

Tentang peluang para maling yang merampok uang rakyat yang bisa dikorelasikan kondisi hari ini yang melihat berpuluh-puluh kali sejumlah kepala daerah, para pejabat pembuat komitmen dan penguasaha yang tertangkap tangan oleh KPK. Tentang ribuan trilyun utang negara berikut dana-dana seperti Dana Haji dan Dana BPJS ternyata tidak bisa membuat harga-harga produk menjadi terjangkau. 

Pembubaran Petral yang dahulu sesumbarnya bisa menurunkan harga jual BBM karena bisa melakukan penghematan 250 milyar perhari. Harga BBM yang mahal konon disebabkan oleh operational costs yang tinggi, salah satunya adalah biaya-biaya siluman atau biaya-biaya akibat praktek rente.

Jadi sekali lagi, apa yang menjadi argumentasi mereka yang menuduh Prabowo gentar dan takut untuk adu debat dengan Jokowi?

Salam Ujung Ciut Nyali!