Mohon tunggu...
Imam Prasetyo
Imam Prasetyo Mohon Tunggu... Saya Muslim

Anti si planga-plongo

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Provokasi Jokowi di Tanah Mataram

26 Maret 2019   09:09 Diperbarui: 26 Maret 2019   09:10 137 0 1 Mohon Tunggu...

"Saya sebetulnya sudah diam 4,5 tahun, difitnah-fitnah saya diam, dihujat saya diam, dijelekin saya juga diam, dicela direndahkan saya juga diam, dihujat dihina dina saya diam. Tapi hari ini di Yogya saya sampaikan saya akan lawan," pekik Jokowi pada acara deklarasi dukungan Alumni Jogja Satukan Indonesia di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2019).

*****

Yogyakarta sebuah daerah yang memiliki banyak keistimewaan digaduhkan oleh pernyataan lantang Jokowi yang akan melawan siapapun yang menurutnya telah melakukan serangan hoaks atau fitnah tentang dirinya selama beberapa tahun terakhir. Mimiknya yang ekspresif mengguratkan kemarahannya tertangkap tandas di kamera atau perangkat digital siapapun yang mengabadikan momen tersebut. Jokowi merunutkannya dengan terbata-bata. 

Asli tidak ada acting saat itu. Jokowi betul-betul menampakkan kemarahannya. Kemarahan di tanah yang berpuluh tahun terakhir tidak pernah tergeret dan terseret ke dalam chaos sosial. Bahkan saat 1998 lampau, Jogyakarta menunjukkan kelembamannya dan berhasil menangkal pergesekan ekstrim antar anak bangsa. Jogya tidak ada bakar-bakaran.

Pertanyaan simpel, mengapa Jokowi merasa perlu memantik provokasi di tanah Sultan Hamengkubuwono tersebut? Apa yang hendak disasarnya? 

Ini yang kedua kalinya Jokowi bisa diartikan sedang memprovokasi pendukungnya untuk terlibat secara aktif melawan serangan yang dia sebut sebagai hoaks. Entah kenapa posisi dirinya sebagai orang tertinggi di Indonesia tidak menggunakan seoptimal mungkin seluruh instrumen dalam koridor hukum dan kepatutan ketimbang bicara secara blak-blakan di depan publik. Diksi akan "saya lawan" tersebut -meskipun bisa diartikan sebagai perlawan balik menyebarkan hoaks- akan memicu perang antar buzzer yang kian membakar medsos.

Alih-alih menjadi persiapan minggu tenang, pernyataan Jokowi tersebut bisa juga diartikan, semua komponen pemerintahannya akan secara simultan mengartikan sesuai preferensi politik mereka untuk menggolkan keinginan Jokowi mempertahankan hegemoni kekuasaannya yang nyaris gagal tersebut. Nyaris? Setidaknya beberapa pembangunan fisik yang dia genjot menabrak rambu-rambu Bappenas bisa menyenangkan segelintir rakyat Indonesia.

Jokowi berdiri ditengah kerumunan massa pendukungnya, dengan menggunakan jaket diterik Yogya, Jokowi memekikkan,"Saya akan lawan!"

Dan Jogya kota yang anteng, tenang, multi etnis, wilayah yang diisi oleh berbilang agama, ras, adat dari Sabang sampai Merauke, daerah dimana ormas tertua Muhammadiyah berdiri disentakkan oleh ajakan perlawanan seorang presiden yang seharusnya berdiri memayungi semua kepentingan publik. Pemimpin yang meletakkan personal interest-nya jauh disudut kamar pribadinya. 

Bahkan seorang Soekarno yang meyakini dirinya tidak pernah melancungkan niat PKI menjadi partai besar dan memilih membeku saat menjadi tahanan rumah dan tidak baper ngojok-ngojoki pendukungnya untuk melawan balik para penentangnya. Betul, Jokowi adalah Jokowi, seorang media darling yang melesat rekam karirnya dalam waktu yang terlalu dini dan bukan seorang Soekarno yang berdarah-darah mencapai singgahsana kekuasaan.

Ikon 'wong ndeso' itu telah sempurna mentransformasikan nafsu terburuk manusia, kekuasaan. Begitu Machiavelli mendeskripsikan ambisi paling mematikan manusia tersebut. Jokowi terlihat begitu bernafsu, kemaruk untuk melanjutkan apa yang dahulu dia ingkari saat ditanya berkali-kali oleh wartawan tentang peluang dirinya maju sebagai capres di tahun 2014 lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x