Mohon tunggu...
Ilyas Syatori
Ilyas Syatori Mohon Tunggu... Lainnya - Pemuda Desa

Kadang menulis, kadang berkebun, lebih banyak tidur.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jalan Sunyi

9 Desember 2021   18:00 Diperbarui: 9 Desember 2021   18:53 85 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Dalam bab awal karyanya “Who Rules The World?” , Noam Chomsky mendedahkan mengenai peran seorang intelektual terbagi menjadi dua kubu. Peran inilah yang kemudian mempengaruhi kehidupan dunia yang saat ini kita tempati.

Chomsky membagi mereka yang berpihak pada “kebijakan” dan yang berpihak pada “nilai”. Dalam bahasa kita biasa mendengar sosok intelek yang pragmatis dan intelektual yang idealis, atau biasa Buya Syafii Maarif menyebut sebagai intelektual politik praktis dengan intelektual politik kebangsaan.

Kubu awal yang disebut Chomsky adalah biang dari segala kerusuhan yang ada di dunia saat ini, paling tidak melalui cengkeraman Amerika. Yang mana peran sosok intelek hanya sebagai legitimasi atas kebijakan politik yang umumnya bermuara pada kompromi ekonomi kapitlalis-oligarkis sehingga mendorong akumulasi, ekstraksi, bahkan monopoli dan tidak bercermin pada keadilan, kemerdekaan, dan kemanusiaan.

Ia mencontohkan bagaimana sosok-sosok intelek Amerika berbondong menyetujui apa yang menjadi keputusan politik luar negeri AS untuk mengucilkan (embargo) selama berpuluh tahun kepada negara yang dianggap musuh ideologinya, misal Kuba dan Iran.

Juga monopoli tafsir terorisme untuk menjadi musuh segenap penduduk dunia yang disematkan pada jihadis dengan mereduksi aspek lain misal kebijakan “pendudukan militer” dengan dalih demokratisasi negara muslim. Sekali lagi, kebijakan ini bermuara pada pesanan oligarki swasta penguasa Amerika. Chomsky mengulasnya mendalam dalam bukunya.

Menurut Chomsky bahwa sebenarnya sosok intelektual memiliki peran tanggung jawab dalam mengimplementasikan nilai-nilai “kemerdekaan, belas kasih, perdamaian, dan kekhawatiran sentimentil lainnya” dalam kebijakan politik maupun kebijakan lain yang lepas dari politik. Atau pendeknya, intelektual adalah mereka yang menjadi corong kebenaran.

Lebih lanjut, Chomsky mengatakan bahwa menjadi intelektual kebijakan adalah tindakan paling aman dan mudah yang bisa dilakukan mereka kendatipun di lehernya diikat tali gantung dalam bentuk tanggung jawab. Dalam artian ini sosok intelektual itu telah melakukan perselingkuhan yang membelokkan sekaligus memanipulasi orientasi nilainya sebagai orang yang terdidik.

Kita tahu bahwa setelah Soeharto naik tahta tak sedikit intelektual justru berbelok untuk mengamankan sang jenderal daripada menjadi corong kebenaran. Hingga pada hari ini mungkin tak banyak berubah polanya.

Kubu kedua adalah tipe intelektual organik yang oleh Chomsky disebut intelektual berorientasi nilai. Artinya, kelompok ini dengan kesadarannya berupaya untuk menjadi pelopor implementasi dari tanggung jawab yang diemban: merdeka, belas kasih, perdamaian, dan kegelisahan lainnya dalam politik.

Namun perlu diketahui sosok yang terakhir ini menurut Chomsky sering kali direduksi peranannya dan sengaja dimarginalkan oleh tokoh politik terlebih yang bermuara pada oligarki.

Kita dapat mengetahui sosok intelektual organik yang setia di garis terbawah lapisan masyarakat tidak dianggap oleh mereka yang bekuasa dan setiap negara memiliki aktornya masing-masing. Sebut saja Chayanov, seorang tokoh pertanian Rusia yang dipenjara hingga wafat sebab berbeda pandangan dengan Lenin sebagai presiden setelah sukses revolusi Bolshevik. Atau figur yang kerap kita dengar seperti Multatuli, Tan Malaka, Pram, Romo Mangun, dlsb.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan