Mohon tunggu...
abang redi ilyasa
abang redi ilyasa Mohon Tunggu...

saya punya motto hidup "yang paling mahal di dunia ini adalah kesederhanaan". sangat suka basket, sepakbola, musik, trekking dan travelling.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Bila Matador Tetap "Berpijak di Bumi"

30 Juni 2010   12:13 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:11 71 0 1 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_188071" align="alignleft" width="300" caption="photos by Ivan Sardo (blogia.com)"][/caption] Spanyol memulai perjalanannya di Piala Dunia 2010 dengan sebuah kecemasan. Sungguh kejutan besar bagi publik sepakbola, tapi kecemasan besar bagi para pendukung tim Matador, sewaktu menyaksikan kesebelasan kesayangan mereka dibendung pasukan Schweizer Nati pada laga awal grup H. Diluar dugaan banyak pemirsa bola, pelatih Swiss, Ottmar Hitzfeld-lah yang tersenyum lebar di akhir laga, sementara Vicente Del Bosque meninggalkan gelanggang dengan raut diliputi kecewa. Gerard Pique, stopper muda Spanyol yang tampil habis-habisan malam hari itu, sampai harus menendang mimbar tempat bola Jabulani disimpan sebelum laga, demi menyalurkan kekecewaannya. Kepada wartawan Marca yang menghampirinya ia dengan ketus berkata,”Lihatlah. Sesungguhnya kami bukanlah tim favorit !” Sedang disudut lainnya dalam ruang ganti tim nasional Swiss, Gokhan Inler, gelandang bertahan yang sukses menjalankan perannya sebagai “pengangkut air” dalam laga itu, mengungkapkan optimismenya,”Dengan menumbangkan Spanyol kami tak punya rasa takut lagi. Sekarang kami berbahaya untuk tim manapun.” Prediksi Pique dan Inler sama-sama meleset, pada akhirnya. Waktu Spanyol menumbangkan Chili yang sebetulnya begitu menjanjikan dengan permainan impresif para punggawa mudanya, sementara Swiss gagal memecundangi Honduras yang ternyata tampil penuh spirit di laga terakhirnya, Pique dan Inler akhirnya sama-sama memafhumi : tim matador tetap layak menjadi favorit, sedang Schweizer Nati butuh lebih dari sekadar keberanian saja. Ya, awal yang baik ternyata tidak menjamin ujungnya baik, dan awal yang buruk ternyata bisa diperbaiki dan berujung pada akhir yang memuaskan. Untuk sesaat, para pendukung Spanyol di kota Madrid, Barcelona, Sevilla, dan kota-kota lainnya, tenggelam dalam suka cita. Alangkah leganya, menyaksikan tim mereka yang sempat dicemaskan tak sampai harus pulang awal seperti rival Eropa-nya, Italia dan Prancis. Diantara gelegak euphoria kemenangan, Xavi Hernandez- play maker yang bila Spanyol merebut gelar juara dunia 2010 akan melebihi reputasi Emilio Butragueno, Luis Enrique atau bahkan Alfredo Di Stefano- buru-buru mengingatkan rekan-rekan satu skuad-nya agar tidak lekas berpuas diri. Pemain terbaik Piala Eropa 2008, tatkala Spanyol pertamakali merengkuh trofi tersebut sepanjang sejarah persepakbolaannya itu menyatakan, final masih jauh dan masih banyak lawan yang perlu dilewati tim Matador. “Kami memang kuat. Kami punya Villa, Torres, Ramos juga bek setangguh Puyol. Tapi lihat, kami bukanlah sebuah tim yang tak bisa dikalahkan.”ujar Xavi melengkapi pernyataannya sambil merujuk kekalahan Spanyol dari Swiss di laga pembuka grup H. Adakah Xavi pesimis atau punya secuil keraguan terhadap tim nasional yang ia bela ? Xavi bukanlah tipe seorang pesimistik, jikalau publik sepakbola cermat mengamati kiprahnya di klub Barcelona maupun sepak-terjangnya bersama tim nasional Spanyol. Seperti sang mentor di klubnya, Pep Guardiola, Xavi adalah pribadi yang optimis sekaligus waspada. Oleh karenanya, ia tak sekecewa rekannya, Iker Casillas, yang nyaris patah arang berkepanjangan akibat gol Gelson Fernandes yang begitu cepat dan mengejutkan di laga awal. Xavi-lah yang berbicara lantang kepada rekan-rekannya dan berbicara dengan tegas kepada media Spanyol yang sempat meremehkan pelatih Vicente Del Bosque bahwasanya,”Spanyol memang kalah, tapi kami belum habis !” Casillas, sang kapten yang sempat menyimpan luka akibat gol yang ia kira kesalahan fatalnya sebagai kiper, spontan bangkit mendengar ucapan play maker pekerja keras itu. “Xavi betul. Kami belum habis. Masih ada dua pertandingan lagi yang harus kami lalui dengan sebaik-baiknya.”ucap penjaga gawang nomor satu negeri Matador itu, kepada pemirsa ESPN diseantero dunia. Benar saja. Setelah pernyataan para pemain kunci dari Winning Team Euro 2008 itu, Spanyol menunjukkan reputasinya sebagai juara Eropa. Honduras mereka kalahkan dengan 2 gol indah David Villa, Chili yang taktis, penuh semangat dan ditopang tenaga muda takluk lewat 1 gol dari pemain yang sama. Pada babak perdelapan-final Spanyol harus menghadapi Portugal, jirannya di semenanjung Iberia. Meskipun Spanyol menyandang predikat juara Eropa, pencapaian Portugal dalam sejarah keikut-sertaannya pada turnamen Piala Dunia, mengharuskan anak asuhan Vicente Del Bosque “berpijak di bumi”. Portugal pernah mencapai semifinal dalam sejarah turnamen ini, sedangkan Spanyol lebih sering terhenti di perempat-final- dengan kekalahan yang menyakitkan, malah. Iker Casillas dan kawan-kawan mesti tetap mawas diri, jauh lebih mawas diri daripada ketika mereka mengawali turnamen saat menghadapi Swiss. Apalagi, Portugal juga datang ke Afrika Selatan bersama pemain termahalnya yang juga tak asing dengan gaya sepakbola Spanyol, yaitu : Christiano Ronaldo. Spanyol yang mawas diri menginjakkan kakinya di Stadion Green Point, kota Cape Town, Afrika Selatan. Dihadapan 63.000 pasang mata yang menyaksikan langsung di stadion, Iker Casillas dan kawan-kawan seperti biasa tampil dengan agresifitas tinggi. Beda dengan saat mereka menghadapi Swiss dan sama dengan saat mereka menghadapi Honduras juga Chili, sekalipun penyerangan menjadi inti strategi, pertahanan tetap menjadi prioritas pergerakan tim Matador. Serangan yang dilancarkan anak asuhan Vicente Del Bosque tak sampai membuat mereka lengah akan serangan balik Portugal yang seharusnya lebih mematikan daripada Swiss. Hasilnya, serangkaian peluang emas dari para punggawa tim Matador tercipta, sementara serangkaian counter attack dari anak asuh Carlos Quieroz berhasil dipatahkan. Spanyol yang mawas diri, tim Matador yang “Berpijak di Bumi”, akhirnya berhasil lolos ke perempat-final dengan gol semata wayang dari, lagi-lagi, David Villa. Spanyol mengulang sejarah jaman Fernando Santilana (1982), Emilio Butragueno (1990), Fernando Hierro (1994) dan Luis Enrique (2002). Tim Matador tentu tak ingin hanya sekadar mengulang sejarah. Vicente Del Bosque, selepas kemenangan gemilang dari jiran Iberia-nya menegaskan, “Kini waktunya bagi Spanyol untuk membuat sejarah.” Dan sejarah bagi Spanyol berarti : melewati perempatfinal. Jalan itu tampaknya akan berhasil dilalui Spanyol, mengingat lawan yang menunggunya di 8-besar adalah Paraguay, yang diatas kertas dan peringkat FIFA terpaut jauh dibawah Spanyol. Namun David Villa, pahlawan kemenangan mereka selama putaran final ini buru-buru menukas,”Kami tak bisa meremehkan Paraguay. Kami menaruh respek pada mereka. Harus diakui, mereka memiliki pertahanan dan serangan yang bagus. Kami harus fokus untuk memenangkan pertandingan ini. Kami akan sulit memenangkannya,”ujarnya kepada goal.com. Seperti apa yang telah diungkapkan Xavi disaat tim Matador melewati penyisihan grup, pernyataan Villa-pun semestinya dicamkan betul-betul oleh para punggawa tim nasional Spanyol. Dari pengalaman mereka selama penyisihan hingga menembus perdelapan-final, sesungguhnya hanya dengan ”Berpijak di Bumi”-lah mereka dapat meraih hasil maksimal. Dengan mawas diri, tetap ”Berpijak di Bumi”, mungkin saja tim Matador tak hanya sekadar berhasil menembus perempatfinal. Iker Casillas dan kawan-kawan sangat mungkin menembus semifinal, bahkan- seperti diungkapkan oleh legenda Prancis, Zinedine Zidane- sangat pantas dan sangat bisa merebut gelar juara di bumi Nelson Mandela ini. Sebabnya ? Bukan sebab mereka juara Piala Eropa 2008, bukan sebab mereka membawa sekumpulan bintang nomor satu La Liga yang tersohor keras dan seru, melainkan karena mereka- setidaknya dalam 4 laga yang telah dijalani- ternyata bisa tetap ”Berpijak di Bumi”. (aea)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x