Mohon tunggu...
Ilyani Sudardjat
Ilyani Sudardjat Mohon Tunggu... Biasa saja

"You were born with wings, why prefer to crawl through life?"......- Rumi -

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Ribuan Ton Garam Lokal Menumpuk, Parahnya Tata Kelola Pergaraman?

11 Juli 2019   14:07 Diperbarui: 11 Juli 2019   14:35 0 2 0 Mohon Tunggu...

Tak terbayang puyengnya para penambak garam. Harga garam sudah jatuh semurah murahnya tetap tidak ada yang beli. Padahal ribuan ton garam masih menumpuk di gudang. Itu stok tahun 2018, belum lagi yang masuk tahun 2019.

Mengapa garam penambak Tak ada yang beli walau harganya jatuh? Ini berarti ada sesuatu yang aneh di tata kelola Pergaraman nasional. 

Keanehan tersebut;

1. Walau stok melimpah mengapa pemerintah tetap impor? Apapun alasannya bukankah harusnya mengutamakan penyerapan garam lokal terlebih dahulu? 

2. Otoritas impor yang dilakukan Kemendag/perindustruan tidak lagi memerlukan rekomendasi KKP? Data apa yang dipakai sebagai dasar impor?

3. BPK sudah menemukan kesalahan prosedur impor beras dan garam yang dilakukan Kemendag, sehingga merugikan negara. Bukankah harusnya ditindaklanjuti oleh KPK?

4. Masalah kualitas garam penambak adalah masalah klasik, yang membutuhkan pembinaan, peralatan, fasilitasi oleh pemerintah. Jadi jangan jadikan alasan ini untuk mengabaikan garam penambak? Bukankah dulu bisa diserap, kenapa alasan kualitas ini untuk menolak garam rakyatnya sendiri?

5. Kebutuhan garam nasional sangat tinggi. Tata kelola pergaraman.dimulai dari regulasi yang berpihak pada rakyat, pembinaan sdm, kualitas produksi, distribusi, suplai ke industri hingga pasar langsung konsumen. Dikhawatirkan ada yang memotong 'jalur' tersebut atau ada 'mafia' impor dan pengendali harga?

Indonesia dengan garis pantai keempat terpanjang di dunia seharusnya juga memiiki produk garam yang secara kualitas dan kuantitas memenuhi kebutuhan industri/pasar. Itu harusnya juga jadi salah satu target sebagai negara maritim yang dibanggakan.