Mohon tunggu...
Ilyani Sudardjat
Ilyani Sudardjat Mohon Tunggu... Biasa saja

"You were born with wings, why prefer to crawl through life?"......- Rumi -

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Ada Apa dengan Alat Tambang Freeport yang Dikirim ke Luar Negeri?

22 Februari 2019   09:27 Diperbarui: 23 Maret 2019   12:25 0 4 1 Mohon Tunggu...

  1. Sejak akhir December 2018, ternyata Freeport mulai mengirimkan alat tambangnya ke Luar Negeri ke area tambang Freeport lainnya di Amerika Selatan dan Amerika Utara. Alat Tambang itu berupa truck truck besar, dan alat berat lainnya. Mengapa?

Ternyata ini terkait aktivitas penambangan Terbuka di Grasberg yang berakhir tahun ini. Jadi emasnya sudah habis di penambangan Terbuka. Berarti sudah 2 gunung Emas dipapas di Papua, yaitu Earstberg dan Grasberg, setelah dieksploitasi selama sekitar 50 Tahun. 

Dengan berakhirnya penambangan Terbuka di Grasberg, maka produksi Emas Freeport anjlok 60-75%. Sisa 25-40% itu dari penambangan bawah tanah blok Doz dan Big Gossan yang berkapasitas kecil.

Jadi divestasi sebesar Rp 56 Triliun itu untuk yang mana? Ya untuk pertambangan bawah tanah lainnya yang belum berproduksi, berbiaya sangat mahal, dan infrastrukturnya juga belum selesai? Pertambangan bawah tanah Deep MLZ akan mulai digali tahun ini. 

Jadi bukan hanya gunung dipapas, tetapi perut bumi Papua digali sedalam dalamnya (akan jadi pertambangan bawah tanah terdalam didunia?). Kapasitas tidak bisa diprediksi, tetapi resiko sangat tinggi? Apalagi Papua daerah rawan gempa. 

Bahkan pertambangan bawah tanah Big Gossan sudah memakan korban 28 orang tewas tertimbun pada tahun 2013, begitu juga Tambang bawah tanah DOZ sudah memakan korban beberapa tewas. Nah yang mau digali lagi ini strukturnya jauh lebih rumit dan dalam?

Sementara itu Inalum bukan sekedar beli saham yang amat mahal Rp 56 Triliun tetapi juga akan keluar duit lagi untuk investasi bawah tanah Deep MLZ yang amat mahal itu? Begitu juga ikut pula membiayai pembangunan smelter yang ditunda terus oleh Freeport? Bagian bayarnya paling gede, kan saham sudah mayoritas?

Padahal karena kapasitas produksi anjlok, Freeport belum bisa bayar dividen hingga tahun 2022? Produksi setelah tahun 2022 juga belum tentu sebagus yang diperkirakan, karena rumitnya pertambangan bawah tanah itu.

Belum bisa dipastikan kapan pertambangan bawah tanah Deep MLZ optimal berproduksi? Yang jelas perkiraan kapasitas diatas tanah yang terlihat tentu berbeda dengan bawah tanah yang sulit diprediksi.

Belum lagi nasib dampak lingkungan Freeport sebesar Rp 185 Triliun itu, jadi tanggungan Inalum jugakah? Apalagi pertambangan dalam bumi akan berdampak lingkungan lebih mengerikan?