Ilya Ainur
Ilya Ainur School Counselor

saya ingin menulis lagi dan terus menulis sampai akhir

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

"Esok, Si Anak Malang"

17 April 2018   09:02 Diperbarui: 17 April 2018   09:05 365 0 1

Ketika saya mulai membuka mata setelah adzan Subuh berkumandang hanya bayangan gelap yang terlihat jelas. Saya tak sanggup  menghadapi hari ini dan hari-hari ke depannya. Apakah mungkin saya akan tabah menjalani hari demi hari yang akan jauh berbeda dari sebelumnya. 

Jadi begini ceritanya, semalam terjadi pertengkaran hebat di keluargaku. Aku menyaksikan sesuatu yang tak pernah ku saksikan sebelumnya. Kebetulan sekali pertengkaran hebat itu ketika saya berada di rumah. Kenapa tidak terjadi pada saat saya sedang di asrama saja. Yah saya anak asrama yang pulang paling hanya liburan semester dan libur lebaran. Dan kenapa kejadian menyakitkan itu harus terjadi ketika saya sedang menikmati liburan saya yang langka ini. Apakah memang Allah sengaja mengatur semua supaya saya menyaksikan langsung dan tidak hanya tau hasilnya saja entahlah. 

Sepulang dari bermain bersama teman-teman saya melihat mama saya sedang menangis di pojok rumah ruang keluarga. Saya menghampiri mama dan tentunya saya tanya ada apa sebenarnya ko mama bisa sampai nangis gak seperti biasanya. Ketika saya sedang menunggu jawaban mama tiba-tiba bapa datang dengan wajah yang sangar kalau menurut saya karena saya tak pernah melihat wajah dengan raut seperti itu terpancar dari bapa saya. 

"Mama mu sudah bosan menjamu bapa, biarkan dia bermain sesuka hati dia, biarkan bapa pergi saja. Sekarang kamu pilih mau ikut bapa atau mama mu ini"

"Apa sih pa maksudnya, ayo ma ceritakan sebenarnya ada apa ini?"

dan mama hanya terpojok dan menangis sesenggukan.

"Sudah lah intinya bapa sudah tidak ada lagi di hati mama mu ini, bapa berani cerita ke kamu karena bapa berpikir sudah saat nya kamu tau. Kalau bapa sudah tak kuat selama ini menghadapi sikap mama mu ini. Biar kamu tau seperti apa mama mu ini. Udah kamu tinggal tinggal pilih atau kamu tunggu hasil dari pengadilan saja"

"mama sebenarnya ada apa ini? bapa apa maksud omongan-omongan bapa? Bapa mau tinggalkan kami beruda? Bapa tega tinggalkan kami?"

aku tarik mama ku dan memeluk erat kaki bapa meminta penjelasan sebenarnya ada apa ini? Dan mama hanya terdiam seribu bahasa entah karena masih shock atau memang merasa malu atas apa yang bapak ceritakan dari awal ke saya kalau mama menghianati bapa. Hanya itu yang terpikirkan oleh saya saat itu. 

"Bagaimana nak, bapa sayang kamu, bapa juga gak mau kamu tinggal saya mama yang menyakiti hati suaminya sendiri". 

Sambil sedikit tersedu bapak mencoba meyakinkan ku kembali hendak kemana aku ikut hidup nantinya ke bapa kah? Atau ke mama?

Dan keputusan ku malam itu adalah diam di rumah bukan berarti memilih hidup bersama bapa tapi hanya tak tega melihat mama yang lusu dan tidka dapat berkata sepatah kata pun. Jadi biarkanlah ku serahkan kepada besok pagi saja karena yang ku butuhkan memikirkan nya dengan kepala dingin dan aku butuh istirahat. Dan malah itu ku melihat bapa pergi dengan barang seadanya dan mama yang hanya terdiam di pojokan ruang keluarga. Laluaku yang memeluk erat mama dan setelahnya meninggalkan mama seorang diri saya kunci kamar dan menutup mata. Ku serahkan semua pada waktu yang namanya esok hari.