Mohon tunggu...
kholil rokhman
kholil rokhman Mohon Tunggu... IG di kholil.kutipan

Melupakan akun lama yang bermasalah

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

"Ini Namanya Kuliah Kerja Maya"

11 Juli 2020   06:21 Diperbarui: 11 Juli 2020   06:28 45 14 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Ini Namanya Kuliah Kerja Maya"
Ilustrasi. Pelepasan mahasiswa KKN UGM tahun 2018. Foto: dok humas UGM dipublikasikan Kompas.com

Pandemi telah mengubah banyak hal. Salah satunya adalah aktivitas perkuliahan. Bahkan karena pandemi maka kuliah kerja nyata (KKN) yang biasa dilakukan anak semester jelang akhir, diubah mekanismenya. KKN dilakukan dengan cara online.

Setidaknya itu yang saya tahu dari seorang mahasiswa pada salah satu institut di Jawa Tengah yang saya temui beberapa waktu lalu. Saat itu, karena sebuah acara, saya bertemu seorang mahasiswa.

Kami kemudian ngobrol macam-macam. Salah satu yang kemudian saya tanyakan adalah KKN. Saya bertanya, di masa pandemi ini bagaimana KKN dilakukan. Si mahasiswa itu kemudian menjawab. "KKN-nya dari kost," jawabnya.

Saya agak bingung membayangkannya. Sebab, biasanya KKN dilaksanakan di desa. Lalu di desa itu, para mahasiswa melakukan program kerja. Intinya bahwa program kerja itu untuk ikut memberdayakan masyarakat.

Dalam pandangan saya, KKN memang melalui tatap muka langsung. Karena dengan tatap muka banyak hal yang bisa diketahui. Apalagi dengan orang yang baru pertama kali bertemu, membicarakan program itu tak mudah.

Kenapa tak mudah? Ya karena dua pihak yang baru bertemu istilahnya harus menyamakan frekuensi. Apalagi lingkungan dua pihak itu berbeda. Lingkungan kampus dengan lingkungan desa jelas beda. Nah, saling memahami di awal itu penting.

Maka, ketika KKN dilaksanakan secara online, saya agak sulit membayangkan. "Kalau itu namanya KKM ya, kuliah kerja maya," kata saya pada si mahasiswa. Cuma saya tak punya waktu untuk membahas lebih detail KKN online itu.

Tapi, gambaran saya paling sama dengan kuliah online. Mahasiswa KKN berhubungan dengan pihak lokasi KKN-nya. Bisa dengan kepala desa atau perangkat desa. Tapi, saya juga membayangkan bagaimana mereka berkomunikasi?

Kalau via pesan tulis google meet atau whatapp jelas tak efektif. Mungkin pakai video ya? Tapi, video disebarkan ke siapa? Ya ke perangkat desa mungkin. Apakah video itu akan memassifkan orang di desa KKN untuk melihatnya? Nah itu yang perlu diketahui dan dipastikan.

Kalau sudah buat video, tidak ada yang menonton ya, kasihan. Atau mereka menyebarkan program via webinar itu, pertemuan seperti google meet atau zoom? Tapi, ada ngga anggaran bagi mahasiswa untuk melakukan itu.

Jika mahasiswa ada anggarannya, bagaimana dengan pihak desa? Apakah ada anggarannya? Kalau sudah dilaksanakan apakah efektif KKN dunia maya? Kadang pertanyaan-pertanyaan itu melintas di pikiran saya.

Ya semoga saja pihak kampus bisa membuat formula yang tepat soal KKN online. Formula efisiensi dan efektivitas KKN online. Saya berpandangan jangan sampai KKN online formalitas belaka. Formalitas untuk menjalankan perkuliahan via online.

Jika pihak kampus bisa memformulasikan KKN online dengan baik, maka akan bermanfaat di masa depan. Pemberdayaan masyarakat secara jarak jauh di masa depan bisa efektif dan efisien.

Jika KKN online efektif dan efisien, bisa juga menjadi contoh kenormalan baru. Ke depannya, jika KKN atau kegiatan sejenis, karena kondisi tertentu, lebih efektif dan efisien dengan online maka di-online-kan saja.

Tapi memang KKN online bagi mereka yang memburu cinta, bakal tak kesampaian hehe. Malah bisa hampa. Sebab, sudah sejak semester 3 berkhayal KKN di desa dan akan dapat gebetan. Tapi karena KKN online, jadi buyar. (*)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x