Mohon tunggu...
kholil rokhman
kholil rokhman Mohon Tunggu... IG di kholil.kutipan

Melupakan akun lama yang bermasalah

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Keluar Rumah untuk Beli Susu Saat Lockdown, Tewas Dipukuli Polisi

27 Maret 2020   18:00 Diperbarui: 27 Maret 2020   18:13 82 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Keluar Rumah untuk Beli Susu Saat Lockdown, Tewas Dipukuli Polisi
Suasana di India di masa lockdown. Foto afp/sajjad hussain dipublikasikan kompas.com

Fakta pemukulan polisi pada warga di tengah lockdown di India terabadikan di banyak kamera. Bahkan ada warga India yang meninggal dunia usai dipukuli karena keluar rumah di masa lockdown.

Diketahui, India memutuskan lockdown untuk mengantisipasi penyebaran vitus corona. Maka, warga pun diminta tak keluar rumah jika tak sangat mendesak. Warga yang nekat keluar rumah dalam situasi lockdown itu, bakal dipukuli polisi memakai tongkat panjang. Ada juga personel polisi yang tak melakukan pemukulan, tapi meminta warga yang melanggar aturan karena keluar rumah saat lockdown, untuk push up.

Aksi kepolisian India ini menuai beberapa kritik di dunia maya. Akun Santosh Addagulla mengunggah video pemukulan polisi pada warga yang keluar rumah saat lockdown melalui twitter. Santosh kemudian menuliskan pendapatnya. "Kenapa harus dipukul seperti seorang pelaku kriminal," tulisnya.

Akun lain, Utkarsh Chaudhary juga mengunggah video pemukulan polisi India pada warga. Utkarsh pun menuliskan pandangannya. "Mengapa polisi memukul masyarakat saat lockdown? Apakah tidak bisa misalnya dengan dicatat namanya dan diberi pemahaman agar bisa kembali ke rumah. Kenapa harus memakai kekerasan," tulisnya.

Aksi polisi ini kemudian memunculkan masalah. Sebab, ada salah satu warga yang India yang meninggal dunia usai pemukulan oleh polisi di masa lockdown. Vice.com mengutip pemberitaan media lokal di India mengabarkan cerita sedih tersebut. Seorang lelaki berusia 32 tahun memutuskan keluar rumah untuk membeli susu di masa lockdown. Aksi lelaki ini dinilai sebagai pelanggaran oleh polisi. Imbasnya, pemukulan dengan tongkat pun dilakukan polisi pada lelaki 32 tahun tersebut.

Insiden yang terjadi di Distrik Howrah, West Bengal Rabu pekan ini tersebut berujung fatal. Lelaki 32 tahun itu meninggal dunia setelah dipukuli polisi. Lelaki tersebut sempat dibawa ke rumah sakit. Namun, baru sampai rumah sakit lelaki tersebut dinyatakan meninggal dunia. Pihak keluarga mengatakan bahwa penyebab meninggalnya lelaki itu karena pemukulan polisi. Sementara, pihak polisi mengatakan bahwa lelaki tersebut meninggal karena serangan jantung.

Salah satu pejabat India yakni Shashi Tharoor sudah meminta pada kepolisian agar langkah-langkah kekerasan tak dilakukan. Melalui twitternya dia mengatakan bahwa mengontrol masyarakat agar tak keluar rumah di masa lockdown memang tugas kepolisian, tapi tidak dengan kekerasan.

Pelajaran
India adalah salah satu negara yang terdampak virus corona. Sampai 27 Maret 2020, worldometers.info menyebutkan bahwa 764 orang India yang terkena corona. Di India sudah ada 20 orang yang meninggal dunia dan 71 orang dalam perawatan. Sekalipun jumlah yang meninggal dunia karena corona belum terlalu banyak, pemerintah India memutuskan lockdown.

Situasi lockdown tentu sesuatu yang tidak mengenakkan karena aktivitas manusia dibatasi dan tak ada keluar masuk manusia. Bagi sebagian pihak, berdiam diri di rumah bukan menjadi masalah. Namun, bagi pihak lain yang harus mencari nafkah dengan keluar rumah, maka dipaksa tak keluar rumah jelas menjadi masalah.

Nah, ketika orang tertekan tak bisa keluar rumah, potensi masalah tentu akan muncul. Di sisi lain, polisi (yang juga manusia) tak ingin tertular corona. Ketika tak ingin tertular corona, mereka berhadapan dengan tugas untuk mengontrol masyarakat. Bisa dibayangkan sendiri, ketika wabah mengancam dan orang-orang tertekan, potensi masalah makin besar.

Apalagi jika ada aparat pemerintah dan warga sama sama merasa benar. Yang satu merasa benar sehingga harus memukul, yang satu merasa benar karena memang harus keluar rumah. Maka, kekerasan potensial terjadi. Maka, semua pihak harus mendinginkan keadaan dan suasana. Bagaimana semua pihak bahu-membahu berkomunikasi dengan baik.

Kasus di India bisa saja terjadi di negara lain jika masing-masing pihak merasa benar. Maka, sekali lagi, apa yang terjadi di India layak jadi pelajaran bagi negara yang lain, termasuk Indonesia. Penekanannya adalah bahwa musuh bersama itu bernama corona, bukan sesama warga negara. (*)

VIDEO PILIHAN